Rektor UIN DiKecam

Diterbitkan  Rabu, 18 / 03 / 2015 15:38 - Berita Ini Sudah :  1025 Dilihat

???????????????????????????????TAPOS, CIPUTAT-Kebijakan Rektor mengangkat dekan tak populis menuai kecaman. Mahasiswa menilai, background pendidikan dekan baru ini dianggap tak memenuhi syarat untuk menahkodai Fakultas Kedokteran. Nuansa ganjil beraroma politis dari pengangkatan dekan, jelas dirasakan. Karena itu, mereka menuntut dekan baru diganti segera.

Demikian penilaian itu disampaikan ratusan mahasiswa Fakultas Kedokteran, Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta saat menggelar aksi penolakan terhadap kebijakan Rektor Dada Rosada, yang menunjuk Doktor Arif Sumantri sebagai dekan baru fakultas kedokteran, menggantikan dekan sebelumnya Prof MK Tadjudin yang sudah menjabat dua periode sebagai dekan di fakultas itu.

“Kami himpunan mahasiswa program studi pendidikan dokter UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, dengan ini menyatakan menolak pengangkatan dan pelantikan dekan baru FKIK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta,” teriak koordinator aksi, Sarah Attauhidah, saat memimpin rekanya berdemo di depan halaman gedung rektorat, kemarin.

Sarah menilai, kebijakan rektor dinilai menciderai akademisi karena mengangkat dekan fakultas kedokteran bukan berlatar belakang dokter. Mereka tidak asal menolak, karena berdasarkan peraturan pengangkatan dekan kedokteran seperti termaktub dalam Konsil Kedokteran Indonesia (KKI) Nomor 10 tahun 2012 tentang standar pendidikan profesi dokter Indonesia, hal itu sudah dijelaskan.

Bunyi aturan itu menyebutkan, dekan kedokteran diangkat berdasarkan latar belakang dokter. “Berdasarkan aturan itu, jelas tidak sesui, sebagaimana dekan baru Doktor Arif Sumantri berasal dari farmasi bukan kedokteran,” tuturnya kecewa.

Sebelum melakukan aksi, mahasiswa FKIK mengaku telah melakukan survei di lingkup kampus terkait sosok dekan baru itu. Hasilnya, dekan baru itu bukan sosok populis. Bahkan dari hasil survey itu ditemukan banyak ketidakcocokan, baik dari alumnus maupun dari kalangan pegawai akademik. Termasuk mahasiswa itu sendiri. “Elektabilitas dan akseptabilitas dekan berdasarkan survei di kalangan civitas akademika dan staf FKIK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, rendah,” tambahnya.

Selain itu, sambungnya, mahasiswa FKIK menuding ada keganjilan dalam pelaksanaan seleksi pengangkatan dekan ini. Kendati demikian Sarah mengaku belum menjelaskan secara lengkap. Namun setidaknya ada arah politik yang mengakibatkan dekan baru naik.

“Kami melihat terdapat beberapa keganjilan pada proses pemilihan dekan di FKIK ini. Hanya memang perlu pendalaman lebih matang. Soal politik tentunya ada arah kesana tapi kami mencoba menetralisir,” papar Sarah seperti pasrah.

Mereka menuntut agar dekan yang sudah diangkat sejak awal Maret segera diganti. Bila tidak, tuntutan mahasiswa kedokteran ingin memisahkan diri bisa saja diwujudkan segera. Sebab selama ini, ternyata kedokteran ini masih bergabung dengan program studi lainya seperti kesehatan masyarakat, farmasi, kebidanan dan kedokteran.

“Sebagai seorang calon dokter, kami menginginkan dan berhak untuk mendapat penanaman karakter dari seorang dokter. Untuk itu, kami menuntut agar fakultas kedokteran dipisah berdiri sendiri,” ancamnya.

Pengangkatan Dekan Baru Sesuai Aturan

Mewakili pihak rektorat, Kepala Pusat Hubungan Masyarakat dan Bantuan Hukum Muhammad Mak’sum menyampaikan upaya aksi mahasiswa dianggapnya hal wajar. Baginya, lingkungan kampus tak bisa dipisahkan dari ruang demokrasi, untuk itu aspirasi diperbolehkan. “Bagi saya, kita di wilayah akademis sehingga harus demokrasi. Untuk itu hal yang wajar (demo, red). Itu bagian dari aspirasi mahasiswa,” jawabnya.

Pihak rektorat pun diakui oleh Mak’sum telah melakukan pertemuan dengan pihak mahasiswa terkait aksi demo itu. Dalam pertemuan itu disimpulkan bahwa aspirasi mahasiswa sementara ditampung untuk dipertimbangkan. Namun, memang tidak akan ada pergantian dekan lagi sebagaimana sudah ditetapkan sebelumnya.

“Tadi sudah ditemui oleh pimpinan. Hasil pertemuan tadi ada beberapa poin terkait tuntutan nasib mereka, soal pendidikan dokter. Namun sudah dijelaskan bahwa tidak ada masalah sesuai peraturan,” ujarnya.

Tuntutan lain, agar ada pemisahan fakultas secara mandiri yakni fakultas kedokteran, pihak rektorat akan menyanggupi. Namun tentunya membutuhkan waktu panjang. “Kedepan akan ada fakultas kedokteran berdiri sendiri,” jelasnya.

Ia membantah seperti apa yang mencuat dalam aksi demo itu, bahwa seperti ada kesan politik dalam pengangkatan dekan. Menurut Mak’sum, sejauh ini sepertinya tidak ada, sebab itu berdasarkan kriteria yang sudah ada. Setidaknya calon yang memenuhi persyaratan ada empat orang, yakni Profesor. MK Tadjudin, Fase Badriyah Ph.D, Dr. Arif Sumantri dan Profesor Dr. dr Sarjana.

“Pertimbangan mengapa tidak mengangkat profesor MK. Tadjudin menjadi dekan, sebelumnya memang masa kerjanya sudah habis alias pensiun, maka kemudian diangkatlah doktor Arif Sumantri selaku dekan baru. Sementara untuk yang lain tentunya ada kebijakan-kebijakan lain dari Pak Rektor,” imbuhnya.

Kendati dalam KKI Nomor 10/ 2012, dekan harus berlatar belakang dokter, namun diperkuat pada ketua program studi latar belakangnya dokter. Pengangkatan itu juga telah memenuhi syarat, seperti tertuang dalam Menteri Agama Nomor 17/2014 tentang statuta UIN Syarif Hidayatullah, begitu juga dekan yang sudah diangkat, sudah mendapatkan persetujuan dari Menteri Kesehatan. “Ini menjelaskan bahwa tidak ada persoalan pada dasarnya. Semua sudah melalui prosedur benar tidak ada yang menyimpang,” tegasnya.

Dalam aksi itu, mereka menduduki gedung rektorat sejak pukul 10.00-13.00 WIB. Selain mengenakan almamater putih, mereka juga ada yang mengikat pita hitam di lengan kiri sebagai bentuk keprihatinan. Mereka juga meneriakan yel-yel mana rektornya-mana rektornya.(din)

Komentar Anda

comments


Subscribe to our RSS Feed! Follow us on Facebook! Follow us on Twitter! Visit our LinkedIn Profile!