Sebrangi Thailand Belajar Bahasa Jepang

Diterbitkan  Selasa, 16 / 06 / 2015 14:30 - Berita Ini Sudah :  487 Dilihat

Dedeh KurniawatiTAPOS, Bahasa Jepang memang bukan menjadi pelajaran wajib yang harus dipelajari siswa. Namun bahasa Jepang juga menjadi salah satu pelajaran yang cukup disukai anak-anak.
Bahkan pelajaran ini dijadikan sebuah workshop oleh pemerintah Negara Thailand dengan mengundang siswa, guru dan negara lain termasuk Indonesia.

Dedeh Kurniawati, salah seorang guru bahasa Jepang di SMA Negeri 2 Tangsel pergi ke Thailand, untuk menghadiri undangan dari kementerian pendidikan Thailand guna mengikuti seminar dan workshop Internasional bahasa Jepang di Thailand dalam kurikulum 2013.

Dengan menggunakan program Based Learning dalam Thai Kokusai Nihonggo Kyanpu 2015 di Puket, Thailand, dengan pembelajaran program kyampu ini siswa dapat mempelajari bahasa Jepang lebih menyenangkan dan menarik. Sehingga motivasi siswa belajar bahasa Jepang tinggi.

“Ini berdasarkan project, siswa diberikan kesempatan untuk melakukan project pengalaman dan pengetahuan. Di sana kami mempelajarinya dengan tema love, care and share untuk orangtua dan para manula,” ungkap Dedeh.

Menurutnya sistem pembelajaran di Indonesia seperti piring yang luas, sedangkan di sana seperti gelas kecil tapi dalam. Dengan mencintai dan peduli pada manula maka anak distimulasi dan berpikir kalau jadi orangtua apa yang dikeluhkan.

“Di sana anak-anak diajak berbicara menggunakan bahasa jepang. Mulai dari riset, praktek, hingga presentasi harus menggunakan bahasa jepang,” tutur wanita yang tinggal di Pamulang ini.

Menurut Dedeh, Thailand sangat peduli dengan pendidikan bahasa Jepang. Mereka sangat berani mengundang negara lain mulai dari Indonesia, Malaysia, Korea, Australia, Jepang, Cina, dan Vietnam untuk mengadakan program ini.

“Dengan mengikuti ini, saya menjadi memiliki network yang luas untuk teman guru, karena bisa bertemu dengan guru-guru bahasa Jepang di 7 negara,” paparnya.

Selain itu, kemampuan bahasa Jepangnya bisa lebih terasah walaupun hanya sebatas fasilitator tapi dia bisa membangkitkan siswa. Dia pun menjadi lebih mengerti bagaimana cara menerapkan kurikulum 2013 melalui cara Based Learning.

“Sistem atau metode pembelajaran yang dilakukan di kelas berdasarkan pengalaman yang dilajukan oleh siswa sediri. Jadi siswa mampu menyelesaikan berdasarkan pengalaman mereka sendiri,” tukasnya.(pie/sam)

Komentar Anda

comments


Subscribe to our RSS Feed! Follow us on Facebook! Follow us on Twitter! Visit our LinkedIn Profile!