Juara Harapan III Karya Ilmiah

Diterbitkan  Kamis, 18 / 06 / 2015 13:10 - Berita Ini Sudah :  517 Dilihat

Tanti HartantiBelajar hanya di dalam ruangan kelas membuat bosan. Hal ini sering dilontarkan oleh siswa. Untuk merubah pandangan tersebut, Tanti Hartanti, guru Bahasa Indonesia SMA Negeri 2 Tangsel membuat Karya Ilmiah dengan meneliti cara belajar siswa.

Dengan menggunakan judul “Penerapan Studi Lapangan Dalam Pelajaran Bahasa Indonesia Sebagai Upaya Untuk Meningkatkan Efektifitas Pembelajaran Pada Kurikulum 2013” dia bisa menjadi juara harapan tiga pada tingkat Provinsi Banten yang diselenggarakan di Sekolah Pembangunan Jaya, Bintaro, Tangsel.

Dia bisa mengerjakan penelitian tersebut dalam kurun waktu singkat yaitu tiga minggu. Mulai dari proses penentuan judul sampai pelaksanaan dia telah berhasil melakukannya dengan baik.

“Alhamdulillah dari 38 peserta se Provinsi saya terpilih menjadi peringkat ke 6. Padahal persaingan ini dalam semua bidang mata pelajaran. Saya mendapatkan piala, sertifikat, dan uang pembinaan,” ungkap ibu satu anak ini.

Dia mencoba menginformasikan bahwa dalam kurikulum 2013, siswa dituntut untuk jauh lebih aktif dibanding guru. Dia membuat tiga metode studi lapangan yaitu wawancara, observasi, dan dokumentasi.

“Kemudian saya terapkan dalam pembelajaran Bahasa Indonesia di kurikulum 2013. Ternyata lebih baik dibandingkan dengan siswa hanya belajar di kelas. Feed backnya lebih bagus untuk anak ditugaskan keluar kelas,” papar Tanti.

Menurut Tanti, objek studi lapangan bukan hanya di lingkungan sekolah saja dia lakukan, namun juga diluar sekolah. Misalnya siswa pergi ke pasar, kecamatan, penambangan, dan lokasi lainnya sesuai dengan objek pembelajaran.

“Jadi ternyata setelah dilakukan dengan metode studi lapangan, keinginan belajar anak-anak lebih baik dari pada mereka diam didalam kelas mengerjakan soal,” tuturnya.

Jika terjun ke lapangan, siswa bisa memiliki pengalaman baru. Hal ini menarik menurut siswa. Karena selama ini siswa masih belum mengetahui kehidupan asli penambang pasir, penjual di pasar, atau lainnya.

“Minimal mereka dapat pengalaman baru dari hal ini. Yang kemudian memiliki nilai moral yang didapatkan ketika melihat langsung ke luar sekolah,” tutur wanita yang hobi masak ini.

Setelah mereka studi lapangan, siswa membuat laporan bukan hanya berbentuk kertas seperti biasa. Namun kreatifitasnya timbul untuk melaporkan hasil observasinya. Misalnya dibuat menggunakan video, short movie, atau stop motion.

“Saya membebaskan mereka untuk laporan observasi mereka. Saya tidak membatasi, dengan ini mereka tergali sesuatu yang baru. Meskipun pelajaran Bahasa Indonesia, tapi bisa dipelajari secara langsung,” tuturnya.

Jika di lingkungan sekolah, mereka bisa pergi ke kantin, ruang UKS, perpustakaan atau lainnya. Di luar sekolah biasanya siswa lakukan ketika pulang sekolah atau pada saat weekend diluar jam pelajaran.(pie)

Komentar Anda

comments


Subscribe to our RSS Feed! Follow us on Facebook! Follow us on Twitter! Visit our LinkedIn Profile!