Klaim Belajar Ilmu Kepariwisataan


Puluhan Pejabat Pemkot Tangerang Kunjungi Bali

Diterbitkan  Sabtu, 14 / 11 / 2015 13:04 - Berita Ini Sudah :  762 Dilihat

TANGSEL POS, TANGERANG – Ingin belajar dan memahami akan dunia kepariwisataan, puluhan pejabat eselon II dan III Pemerintah Kota (Pemkot) Tangerang beramai-beramai mengunjungi Bali.

Kunjungan ini merupakan salah satu diklat yang disponsori oleh Badan Kepegawaian, Pendidikan dan Pelatihan (BKPP) Kota Tangerang. Kegiatan yang dilakukan sejak tanggal 13 sampai 15 November ini mengambil tema Pelatihan Peningkatan Kapasitas SDM yang bekerjasama dengan Universitas Udayana Bali.

Wakil Walikota Tangerang, Sachrudin mengatakan, agar para peserta program Pelatihan Peningkatan Kapasitas SDM ini bisa mempraktikkan ilmu yang didapat selama pelaksanaan pelatihan sekembalinya nanti ke Kota Tangerang.

“Hendaknya kegiatan ini bukan sekedar formalitas, tapi peserta juga bisa menyerap dan mempraktekkan ilmu yang didapat, sehingga bisa mengoptimal potensi kepariwisataan di Kota Tangerang, yang pada akhirnya berimplikasi pada pengembangan ekonomi kreatif di Kota Tangerang,” kata Sachrudin saat memberikan arahan pada acara pembukaan Pelatihan Peningkatan Kapasitas SDM di Universitas Udayana, Bali, Jumat (13/11).

Disampaikannya, Kota Tangerang mempunyai potensi besar untuk menjadi tujuan wisata alternatif di Indonesia layaknya Bali. Mengingat Kota Tangerang mempunyai dukungan infrastruktur yang memadai mulai dari keberadaan Bandara Internasional Soekarno Hatta sampai uitilitas kota yang lengkap.

“Suatu wilayah bisa dikatakan sebagai kota layak dikunjungi bila memiliki citra yang unik, kemudian adanya destinasi wisata yang berkualitas yang juga didukung oleh ketersediaan fasilitas rekreasi,”ujarnya.

“Kota Tangerang punya potensi wisata sejarah dengan keberadaan Masjid Kali Pasir, Vihara Boen Tek Bio yang jadi simbol keberagaman, atau juga keberadaan Bendung Pintu Air 10. Belum lagi potensi wisata belanja dan keberadaan Situ Cipondoh dan Bulakan. Saya berharap nanti Situ Cipondoh bisa seramai Tanjung Benoa,” pungkasnya.

“Saya setiap kali bermain jet ski di Situ Cipondoh selalu membayangkan kayak di Tanjung Benoa,” sambungnya.

Dikatakan Sachrudin, pelatihan tersebut merupakan kelanjutan dari pelatihan bidang Teknologi Informasi yang pernah dilakukan pada Bulan Agustus lalu di ITB, Bandung. Dan Bali atau Kota Denpasar sengaja dipilih untuk menjadi lokasi pelatihan karena dinilai telah berhasil melakukan optimalisasi potensi dan penataan kota yang bagus sehingga menarik orang dari berbagai wilayah termasuk mancanegara untuk berkunjung ke Bali.

“Bali ini laboratorium yang nyata di bidang pengelolaan wisata, dan makanya kita ingin menimba ilmu langsung dari ahlinya.Sehingga Visi untuk menjadikan Kota Tangerang yang kayak dikunjungi yang menjadi bagian dari Tangerang Live bisa terwujud,” tuturnya lagi.

Rektor Universitas Udayana, I Ketut Swastika yang membuka acara tersebut menyampaikan, Kota Tangerang sebagaimana kota lain di Indonesia mempunyai keunikan yang bisa menjadi daya tarik bagi wisatawan layaknya Bali. “Setiap daerah punya keunikan masing-masing, dan Bali menjadi contoh keterpaduan antar agama, budaya dalam kehidupan sehari-hari,” ucapnya.

Diinformasikan pelaksanaan Pelatihan Peningkatan Kapasitas SDM dilaksanakan selama 3 (tiga) hari, 13-15 November 2015. Dan peserta yang mengikuti pelatihan tersebut terdiri dari 31 Kepala Dinas/Badan, 1 (satu) Direktur RSUD, 2 (dua) Kepala Kantor, 5 (lima) Kepala Bagian, serta 13 Camat.

Sementara itu, Pengamat Pemerintahan, Hasanudin Bije mengungkapkan, jika diklat yang dilakukan oleh para pejabat Pemkot Tangerang ke Bali terbilang percuma, karena antara Bali dan Kota Tangerang sangatlah berbeda.

“Coba saja lihat di Bali ada Pantai Kute, Tanah Lot, Pantai Pendawa, Ulu Watu, Garuda Wisnu Kencana yang semuanya memiliki potensi yang amat besar dalam kepariwisataan, tapi di Kota Tangerang sendiri sama sekali tidak ada lokasi yang bisa dikembangkan,” pungkas pria yang akrab disapa Bije.

Bije menambahkan, Bali memiliki Peraturan Daerah yang amat detail yang bisa menarik wisatawan domestic maupun mancanegara. Sedangkankan di Kota Tangerang sampai saat ini tidak bisa.

“Lihat saja, Kota Tangerang memiliki Perda 7 Tahun 2005 yang melarang peredaran minuman keras, tapi kalau di Bali tidak ada peraturan yang melarang akan hal itu,” jelas Bije seraya mengungkapkan, seharusnya diklat atau pelatihan tersebut seharusnya cukup pada Disporparekraf saja.(ydh)

Komentar Anda

comments