Pembangunan Gedung di Tangsel Gunakan Konsep Budaya Lokal

Diterbitkan  Kamis, 26 / 11 / 2015 15:28 - Berita Ini Sudah :  1174 Dilihat

Gedung di TangselPembangunan gedung Pusat Pemerintahan Kota Tangerang Selatan (Tangsel) dan Gelanggang Budaya menggunakan konsep budaya lokal. Gaya rumah khas budaya Betawi yakni Rumah Bapang dan Blandongan menjadi ciri khas pembangunan gedung Pusat Pemerintahan dan Gelanggang Budaya Tangsel.

Sekretaris Dinas Tata Kota, Bangunan dan Pemukiman Kota Tangsel Mukoddas Syuhada mengatakan pembangunan gedung Pusat Pemerintahan Kota Tangsel menggunakan konsep budaya lokal yakni Rumah Bapang.

Rumah Bapang atau sering disebut rumah kebaya mempunyai ciri khas teras rumahnya yang luas. Terdapat ruang tamu dan bale tempat santai pemilik rumah. Rumah ini semi terbuka hanya di batasi pagar setinggi 80 sentimeter dan biasanya lantainya lebih tinggi dari permukaan tanah dan terdapat tangga terbuat dari batubata di semen paling banyak tiga anak tangga. Depan dan sekeliling rumah adalah halaman rumah yang luas baru pagar paling luar dari rumah tersebut. Bentuknya sederhana dan terbuat dari kayu dengan ukiran khas betawi dengan bentuk rumah kotak, dibangun di atas tanah berbentuk kotak.

“Teras terbuka dengan dinding serupa bambu pada rumah khas Betawi akan menjadi konsep gedung Pusat Pemerintahan Kota Tangsel,” ungkap Mukoddas menjelaskan.

Konsep lokal ini bukan hanya sebagai hiasan pada pembangunan gedung. Analog dinding bambu ini menurut Mukoddas juga berfungsi sebagai penghalang sinar matahari atau peneduh. Sesuai dengan konsepnya bahwa kisi-kisi bambu ini juga berfungsi sebagai pelindung sekaligus peneduh rumah.

“Ada fungsinya dalam pembangunan gedung Pusat Pemerintahan Kota Tangsel. Tidak hanya sekedar hiasan saja,” paparnya.

Selain itu, pembangunan Gelanggang Budaya Tangsel juga menggunakan konsep budaya lokal. Hingga saat ini, proyek pembangunan Gelanggang Budaya di Taman Kota II BSD, Serpong, terus dikebut. Progresnya, saat ini masuk dalam pematangan lahan yang di atasnya bakal dibangun Rumah Blandongan.

Kabid Bangunan pada Dinas Tata Kota Bangunan dan Pemukiman Kota Tangsel Dedeng Apriyanto Dasa mengatakan progress pembangunan Gelanggang Budaya saat ini sudah masuk 30 persen. Ia optimistis, pembangunan blandongan yang bakal menjadi ikon akan rampung Desember nanti.

“Kita kerjakan dulu blandongannya. Karena proses pembuatan yang membutuhkan waktu lumayan lama. Setelah itu, kita bangun musala dan perpustakaan,” katanya.

Proyek senilai Rp7,18 miliar itu dikerjakan PT Nabatindah Sejahtera. Perusahaan itu, akan merampungkan proyek Gelanggang Budaya tahap pertama.

“Tahap awal ini meliputi pembangunan amphiteater terbuka, musala, perpustakaan serta Blandongan,” tandasnya.

Kepala Dinas Tata Kota, Bangunan dan Pemukiman Kota Tangsel Dendi Priyandana mengatakan pembangunan tahap pertama Gelanggang Budaya wajib rampung Desember 2015. Sedangkan untuk tahap kedua, akan dimulai pada APBD murni 2016.

“Untuk tahap kedua akan dilakukan penataan bantaran sungai, food court dan instalasi pendukung lainya. Luas bangunan sekitar 600 meter persegi,” tandasnya.

Ia berharap, Gelanggang Budaya bakal menjadi tempat rekreasi kebanggaan masyarakat Tangsel. Terlebih, di lokasi itu dibangun Rumah Blandongan yang sudah menjadi ciri khas bangunan warga kota Cerdas, Modern dan Religius ini.

“Tempat ini juga bisa menjadi wadah bagi penggiat seni dan budaya agar bisa mendapatkan ruang dan tempat yang baik untuk berkespresi,” tambahnya.(adv)

Komentar Anda

comments


Subscribe to our RSS Feed! Follow us on Facebook! Follow us on Twitter! Visit our LinkedIn Profile!