Musisinya Harus Peduli Kemanusian


PMI Ubah Paradigma Musik Rock

Diterbitkan  Selasa, 22 / 12 / 2015 14:05 - Berita Ini Sudah :  883 Dilihat

Festival Rock and Blood di SDC Summarecon SerpongTANGSEL POS, KELAPA DUA – Musik rock diidentikan dengan narkoba, minuman keras (miras) dan obat-obatan. Namun hal itu harus diubah melalui pertunjukan-pertunjukan yang memiliki misi kemanusiaan.

Hal itu ditegaskan Kepala PMI Kabupaten Tangerang Soma Atmaja, usai penutupan The Great Rock Festival, “Rock n Blood” di SDC Summarecon Serpong, Kelapa Dua, Kabupaten Tangerang, Minggu (20/12) malam.

“Kita harus mengubah paradigma music rock yang diidentikan dengan narkoba, minuman keras, dan obat-obatan,” ungkap Soma, yang juga Kepala Dinas Komunikasi dan Informasi (Kominfo) Kabupaten Tangerang.

Musisi musick rock menurut Soma, sudah saatnya mengubah paradigma itu. “Dengan adanya festival ini, justru kita ingin menegaskan musick rock sekarang peduli pada kemanusiaan,” ujarnya.

Pada bagian lain, Syaifullah, Kepala Dinas Pemuda, Olahraga Budaya dan Pariwisata (Porabudpar) Kabupaten Tangerang, berharap Festival Rock n Blood ini dijadikan agenda musik tahunan.

“Acara-acara seperti ini sudah jarang sekali di Tangerang. Karena itu saya berharap ini dijadikan agenda tahunan, agar anak-anak muda bisa memiliki wadah untuk mengembangkan kreatifitas,” ujarnya.

Pamungkas NM, salah satu juri sekaligus pencita lagu-lagu rock, menerangkan festival seperti ini sangat bagus untuk mengembangkan kreativitas anak muda di bidang, khususnya aliran music rock.

“Festival seperti ini harus dilanjutkan, harus berkesinambungan. Ya, minimal satu tahun ada dua kali,” kata Pamungkas, pecipta lagu “Mimpi” yang dibawakan Anggun C Sasmi.

Sementara itu, Edy Bonetsky yang juga sebagai juri, menambahkan, setelah tujuh tahun, baru ada lagi Festival Musick Rock. “Yang lebih menariknya lagi, festival ini digelar PMI Kabupaten Tangerang,” katanya.

Edy menilai, Soma sebagai Kepala PMI memang kreatif. “Dia bisa menjadikan musick sebagai media sosialisasi PMI sekaligus mengajak banyak orang peduli terhadap kemanusiaan,” ungkapnya.

Ketika ditanya kualitas musisi muda yang terjun dalam festival ini, menurut juri yang lainnya yakni Soni Priadi, musisi-musisi muda sudah tampil secara cerdas, penuh energi, dan tanpa obat-obatan.

“Musik rock yang ditampilkan anak-anak muda sudah sangat maju. Salah satunya, mereka mengelaborasikan music rock dengan teknologi. Itu belum ada di jaman saya,” kata Sony yang dikenal sebagai pemain bass.

Piet Luk Samora yang juga didaulat sebagai juri, mengaku setuju festival ini dilanjutkan agar berkesinambungan. “Festival dengan level Tangerang Raya nanti bisa ditingkatkan se-Jabodetabek,” paparnya.

Pantauan di lokasi, festival Rock n Blood ini memang meriah. Terbukti ada sekitar 22 grup yang ambil bagian dalam festival ini. Namun sayangnya penonton yang menyaksikan festival ini masih minim.

Hasil festival ini, Juara I diraih Band 37TimA, Juara II Rain off Januari, Juara III VPlus, sedangkan vocalis terbaik diraih 37TimA, Bassis terbaik VPlus, Lead Guitar terbaik New Genk 21 Drummer terbaik Solmaker, Keyboard terbaik Roy n Family.(bud)

Komentar Anda

comments