Tiga Peristiwa Kebudayaan di Kota Tangerang


Dari Jaelangkung, Tafakur Sastra sampai Merintis Rumah Peradaban

Diterbitkan  Senin, 04 / 01 / 2016 19:57 - Berita Ini Sudah :  1080 Dilihat

Komunitas Penulis Nyi Mas Melati TangerangTANGERANG – Menjelang berakhirnya tahun 2015 dan menyambut tahun baru 2016, sejumlah seniman dan aktivis lingkungan di Kota Tangerang menghelat kegiatan kebudayaan yang menarik dan khas.

Di Sanggar Siti Hinggil di Kelurahan/Kecamatan Tanah Tinggi, misalnya menghelat pertunjukan musik dan talk show kebudayaan bertajuk “Bukan Sekedar Kata” di panggung terbuka Siti Hinggil, Jalan Al Muhajirin, Tanah Tinggi, Kamis (31/12/2015) malam.

Siti Hinggil yang dimotori penyair dan dramawan Enawar ini menyertakan Teater Cahaya Universitas Muhammadiyah Tangerang (UMT) yang menyuguhkan lagu-lagu dari sejumlah puisi Enawar.

Musikalisasi puisi-puisi Enawar itu diambil dari buku kumpulan puisinya bertajuk “Turbulensi” dan aransmennya digarap seniman musik jebolan Bengkel Teater Rendra, Budi Sadewo, secara serius dengan konsep yang kaya akan aliran dan warna musik.

Dalam kesempatan itu, Enawar sempat membacakan satu judul puisinya bertajuk “Jaelangkung”. Puisi itu bagi saya adalah puisi terbaik Enawar. Puisi panjang dan simbolik itu kaya akan dimensi kemanusiaan sekaligus mengkritik banyak pihak yang hidup di era modernitas yang masih menghamba pada mantra-mantra.

Ada suasana kebatinan Enawar yang sangat prihatin dan menggigil terhadap kerusakan potret kehidupan saat ini, baik itu kehidupan sosial, ekonomi, politik, beragama, pemerintahan maupun pendidikan.

Budi Sabarudin yang didaulat sebagai narasumber dalam acara Talk Show menyinggung soal infrastruktur kesenian dan kebudayaan di Kota Tangerang yang sampai saat ini tidak pernah dibangun walikota dari mulai Thamrin, Wahidin Halim, sampai Arief R Wismansyah.

“Kepedulian pemerintah daerah, terutama terhadap pembangunan infrastruktur kesenian dan kebudayaan nol besar. Padahal pembagunan manusia itu sesungguhnya tidak bisa menafikan dari pendekatan kebudayaan ,” ungkap Budi, yang hadir dalam kapasitasnya sebagai wartawan budaya Tangsel Pos Grup Jawa Pos.

Menurut Budi juga di Kota Tangerang ini banyak sekali tokoh-tokoh seniman besar dan berkelas yang sudah mengharumkan nama Kota Tangerang hingga ke tingkat nasional, seperti Edi Bonetsky (aktivis sosial, musisi, dan perupa) dan EB Magor (teater).

Budi yang juga anggota Komunitas Penulis Nyi Mas Melati ini menyerukan seniman dan budayawan mendesak Pemerintah Kota Tangerang segera membangun infrastruktur kesenian dan kebudayaan, seperti Taman Seni atau Taman Budaya yang lengkap dan representative yang bisa mengakomodir seluruh bidang kesenian. Infrastruktur itu salah satu fundamental dalam membangunan manusia-manusia yang memiliki wajah kemanusiaan.

Ibnu Jandi yang juga sebagai narasumber dalam talk show itu memberikan saran kepada seniman dan budayawan mengusulkan pembangunan infrastrukur kesenian dan kebudayaan itu melalui jalur musyawarah rencana pembangunan (musrembang).

Kegiatan di Siti Hinggil itu diakhiri dengan orasi budaya dari budayawan Abdullah Wong yang mengangkat sosok, perilaku dan pemikiran Nabi Muhammad sebagai seorang budayawan. Setelah itu ditutup dengan ramah tamah dan santap malam dengan sate kambing.

Perhelatan serupa juga dilakukan aktivis-aktivis Komunitas Penulis Nyi Mas Melati bertajuk “Tafakur Sastra” di Gedung Kesenian, Modernland, Kota Tangerang, Sabtu (1/1/2016) malam.

Meski acara kebudayaan itu dihelat secara sederhana dan dengan dana gotong royong, namun tetap menarik, penuh semangat, dan memiliki greget. Acara ini menyuguhkan musikalisasi puisi yang digarap penulis dan penyair muda berbakat Kota Tangerang, D Pebrian.

Hadir juga penyair berbakat dan potensial asal Teluknaga, Kabupaten Tangerang, Fiki Fauzi. Dia membacakan puisi karya WS Rendra berjudul “Pesan Pencopet Kepada Pacarnya” dan puisi religius Budi Sabarudin berjudul “Jika Kau Datang” dengan penuh ekpresif.

Peristiwa kebudayaan di Komunitas Penulis Nyi Mas Melati itu menjadi lebih seru dan hidup setelah kehadirian penyair dan pemikir muda dari UIN Jakarta, Ahmad Khoeri yang memiliki nama pena Pendekar Langit.

Khoeri yang sudah sangat berpengalaman tampil di panggung, baik lokal, regional, dan nasional itu, membacakan sajak “Palsu” karya penyair nasional Agus R Sarjono dengan vocal khas dan memiliki kekuatan energi.

Pembacaan puisi satir itu terasa lebih menarik dan memiliki giroh yang kuat, setelah dielaborasikan atau divariasikan Khoeri dengan nyanyian-nyanyian tradisi dari kebudayaan pondok pesantren.

Acara Tafakur Sastra juga diisi dengan orasi budaya dari Ketua Dewan Kesenian Kota Tangerang (DKKT), Sujarwo. Sebagai seorang seniman, Jarwo menampilkan kidung Jawa, yang berisi nasehat-nasehat pentingnya menuntut ilmu pengetahuan bagi generasi muda.

Pada bagian lain, komunitas Banksasuci juga menggelar diskusi bertajuk “Merintis Rumah Peradaban” di bantaran Sungai Cisadane, Panunggangan Barat, Kecamatan Karawaci, Kota Tangerang, Rabu (30/12/2015).

Acara itu mengupas narasi besar tentang krisis kemanusiaan yang sudah melanda negeri ini puluhan tahun, dengan menghadirkan narasumber utama budayawan Dandi Mahendra dari komunitas Gugur Gunung, Kecamatan Soreng, Kabupaten Bandung.

Pada intinya diskusi dengan semangat kekeluargaan dan musyawarah itu ingin Merintis Rumah Peradaban dengan menggunakan spirit nilai-nilai lama, sebagai upaya membangun peradaban di negeri ini agar hidup an yang sudah rusak ini kembali menjadi lebih beradab.(bud)

Komentar Anda

comments