Dua Jam Matikan Televisi di Rumah-rumah


Kecamatan Neglasari Bangun Gerakan Magrib Belajar dan Mengaji

Diterbitkan  Jumat, 04 / 03 / 2016 19:45 - Berita Ini Sudah :  982 Dilihat

Kecamatan Neglasari Bangun Gerakan Magrib Belajar dan Mengaji

Tradisi belajar dan mengaji yang dimulai usai Shalat Magrib sudah lama hilang di Kota Tangerang. Tradisi lama yang sangat cemerlang itu dihidupkan kembali oleh Pemerintah Kecamatan Neglasari.

Informasi itu disampaikan Camat Neglasari, H Ubaidillah Ansar kepada Tangerang Pos/Tangsel Pos di kantornya, Kamis (3/3) siang.

“Tradisi itu akan kami hidupkan kembali dengan nama Gerakan Magrib Belajar dan Mengaji. Gerakan ini akan dimulai dari pukul 18.00 hingga 20.00 Wib,” ungkap Ubed – panggilan sehari-hari Camat Neglasari.

Dalam gerakan itu menurut dia, tidak boleh ada lagi anak-anak usia sekolah yang berkeliaran pada waktu magrib. Mereka harus belajar di rumah dan ada di tempat-tempat pengajian,” ungkapnya.

Dijelaskannya, sejak Pukul 18.00 hingga 20.00 Wib itu, trelevisi yang ada di rumah-rumah harus dimatikan. Sebab televisi itu bisa mengganggu dan bahkan menghambat tradisi belajar dan mengaji.

“Program itu berlaku untuk masyarakat muslim dan non muslim. Yang non muslim pada waktu magrib silahkan belajar di rumah, yang muslimnya belajar mengaji, dan televisi matikan selama dua jam. Jadi selama dua jam itu nanti senyap di Neglasari dan yang terdengar hanya orang belajar dan mengaji saja,” tandasnya.

Terkait dengan teknis pelaksanaan program itu diungkapkan Ubed, pihaknya akan bekerjasama dengan para Ketua RT, RW, Kelurahan-kelurahan, Dewan Masjid Indonesia (MDI), dan Lembaga Pengembangan Tilawatil Quran (LPTQ) se-Kecamatan Neglasari.

“Kami juga akan melibatkan tokoh ulama, tokoh masyarakat, tokoh pemuda, dan elemen-elemen masyarakat lainnya untuk turut mensukseskan program ini menjadi gerakan yang masif di masyarakat, agar menjadi kebiasaan dan kebutuhan masyarakat,” paparnya.

Mereka nantinya menurut Ubed, akan menyisir ke rumah-rumah dan mengecek, apakah masih ada anak-anak usia sekolah yang masih main dan berkeliaran, atau apakah mereka sudah masuk dan belajar di rumah serta mengaji.

“Kalau ada yang masih menyalakan televisi, mereka harus mengingatkan masyarakat. Dan kalau ada anak-anak yang masih main dan keliaran, juga diingatkan orang tuanya,” ujarnya.

Masyarakat Neglasari sejak dulu dikenal sangat heterogen dengan tingkat akulturasi budayanya sangat tinggi yang sudah tumbuh sejak lama. Rasa nasionalisme dan toleransi mereka sudah terbangun.

Namun menurut Ubed, masyarakat Neglasari masih tertinggal dengan kecamatan-kecamatan lain di Kota Tangerang. Padahal kecamatan ini sangat dekat dengan Bandara Internasional Soekarno-Hatta.

“Itu yang menjadi kegelisahan saya sejak saya menjadi Lurah Selapajang. Karena itu, saya berharap dengan program ini, 10 sampai 20 tahuh ke depan, SDM-SDM Neglasari sudah berkualitas, cerdas-cerdas, tidak tertinggal, dan bisa jadi ada Juara MTQ,” tambahnya.

Walikota Tangerang Arief R Wismansyah sudah menggulirkan Tangerang Cerdas. Warga Kota Tangerang digratiskan sekolahnya. “Nah, program saya ini menjadi bagian untuk turut mendorong dan mensukseskan Tangerang Cerdas,” paparnya.(adv)

Komentar Anda

comments


Subscribe to our RSS Feed! Follow us on Facebook! Follow us on Twitter! Visit our LinkedIn Profile!