Membangun Peradaban dengan Menulis

Diterbitkan  Jumat, 04 / 03 / 2016 15:50 - Berita Ini Sudah :  984 Dilihat

Dunia Menulis

Anda bisa membayangkan bagaimana jika di dunia ini tidak ada tulisan? Pernahkah terpikir di otak kita. Seandainya, para ilmuwan, para pemikir dan orang-orang terdahulu tidak pernah menulis tentang apa yang mereka alami, saksikan dan temukan pada zamannya. Seandainya, tidak ada buku-buku dan karya ilmu pengetahuan tempo dulu. Niscaya, kita tidak akan mengalami zaman modern saat ini. Karena kita tidak bisa mempelajari apapun tentang masa lalu. Termasuk karya-karya monumental yang sangat bermanfaat untuk kehidupan kita dewasa ini. Tidak bisa disangkal bahwa peradaban modern yang saat ini kita nikmati merupakan implikasi dari kemampuan manusia dalam menulis dan membaca.

Ataupun, zaman dimana kita hidup sekarang disebuat ‘Zaman Sejarah’, sebuah struktur masa dimana manusia telah beralih dari simbol-simbol dalam berkomunikasi dan menggunakan bahasa lisan maupun tulisan dalam interaksi sosialnya. Tidak akan ada bentuk atom modern saat ini, jika Thompson tidak meninggalkan penemuanya dalam tulisan.berkat tulisan itulah akan terjadi penyempurnaan. Kemajuan ilmu pengetahuan selalu di awali dengan proses,dan proses itu akan hidup jika budaya literasi dilakukan. Entah kapan, para generasi penerus mahluk bumi ini juga akan menyaksikan peradaban kita yang hidup pada masa sekarang diantaranya melalui kata-kata dan naskah tulisan yang aktif diproduksi pada zaman ini. Dengan demikian, menurut saya menulis itu sama artinya membangun sebuah peradaban.

Jadi kita sepakat bahwa menulis merupakan bagian dari sejarah peradaban. Soalnya patut kita akui juga banyak peradaban manusia yang dianggap hilang lantaran tidak ada jejaknya. Tidak ada literatur yang mengungkap soal peradaban tersebut. Misalnya peradaban Nabi Adam hingga beberapa generasi penerus Nabi Adam, lantaran tidak ada literatur, maka hingga saat ini tidak diketahui jejak kehidupannya. Meskipun ada itu hanya bersumber dari Kitab Suci Alquran atau kitab kita suci lainnya yang menceritakan kehidupan Nabi Adam.

Sejarah peradaban dunia sempat tidak terdeksi lantaran tidak adanya literatur teks yang mencatat perjalanannya. Setelah masa Imperium Romawi runtuh, lebih dari 1000 tahun lamanya Benua Eropa terkurung dalam kegelapan. Masyarakat Eropa sangat begitu percaya pada hal–hal yang bersifat takhayul. Orang sakit kerap kali dianggap akibat gangguan metafisik (kerasukan makhluk halus). Padahal pada era Romawi, Galen (Lihat Enseklpedia Tokoh Biologi, Andi Maryam dkk, Balai Pustaka, cet 1 2008, hal 20), dokter Kaisar Marcus Aurelius yang hidup abad ke 2 Masehi, telah menyimpulkan bahwa sakit dan sehatnya manusia adalah masalah fisik murni. Mengapa bisa begitu? Apakah pernyataan Galen telang hilang dari sejarah? Atau masyarakat tidak pernah tahu dan tidak punya kemampuan untuk mengetahuinya. Pada Kenyataanya Eropa tenggelam dalam kegelapan selama berabad–abad akibat budaya baca tulis yang hanya dimiliki oleh kalangan tertentu, terutama para pendeta–pendeta. Bisa jadi hanya para pendeta yang tahu dan paham akan pernyataan Galen. Fakta ini semakin menguatkan bahwa budaya menulis adalah bagian penting untuk membangun peradaban yang maju.

Ya, sejarah peradaban manusia akan terus dikenang sepanjang massa jika ada satu bukti sebuah tulisan. Kita mungkin banyak mempelajari sejarah pelbagai peradaban masa lampau dari berbagai buku, jurnal maupun teks teks kuno yang tersimpan di dalam perpustakaan. Bisa dibayangkan tanpa adanya buku, jurnal ataupun teks teks yang ditulis manusia sebelumnya? Bisakah manusia jaman sekarang bisa maju.

Peradaban modern saat ini berhasil lantaran adanya ‘perbaikan’ dari ‘peradaban kuno’ yang dibangun sebelumnya. Tulisan baik itu berbentuk buku, jurnal ataupun teks teks kuno merupakan jembatan penghubung sejarah peradaban manusia satu sama lain. Karena itu, manusia dan sejarah memiliki suatu keterkaitan yang erat.

Tanpa sejarah, patut dipertanyakan eksistensi manusia sebagai makhluk hidup yang tinggal dan menetap. Tanpa manusia, sejarah pun menjadi kosong. Kuntowijoyo mengemukakan bahwa sejarah adalah suatu rekonstruksi masa lalu yang sudah barang tentu disusun oleh komponen-komponen tindakan manusia berupa yang dipikirkan, dilakukan dan diucapkan dan ditinggalkan dalam sebuah tulisan.

Fasiltas yang digunakan sebagai sarana pembuktian itu seperti goresan, lukisan, tulisan dokumen juga monument. Dengan item-item tersebut, diharapkan dapat menjadi petunjuk tentang kehadiran mereka. Fasilitas yang digunakan juga dapat dibuat oleh orang lain. Sebagaimana yang dilakukan oleh para Firaun di Mesir yang menugasi seorang “juru tulis” (the scriber) khusus untuk mencatat dan merekam sejarah mereka.

Tanpa manusia, mustahil sejarah sebagai proses maupun cerita dapat dihadirkan. Karena manusialah yang menetukan sejarahnya sendiri. Sejarah itu terletak dalam suatu dinamika. Dinamika itu timbul akibat dari sifat manusia yang dinamis. Selama manusia itu bergerak (bertindak, berfikir dan berucap) maka akan mendorong terjadinya perubahan demi perubahan yang seiring berjalannya waktu perubahan-perubahan itu akan menjadi suatu komponen-komponen sejarah.

Mengutip Muhammad Rois Rinaldi (dalam Muhammad Rois Rinaldi, Manusia Menulis, Kutukan Dan Takdirnya, makalah, September 2014), manusia yang terus dihadapkan dengan tantangan-tantangan kehidupan senantiasa kreatif dan dinamis, sehingga segala yang ada di dunia ini menjadi mungkin dikerjakan manusia. Hal tersebut juga yang mendorong kelahiran tulisan. Manusia pada awal keberadaannya, sebut saja keberadaan manusia pertama (untuk tidak mengatakan bahwa pernah ada kebudayaan manusia primitif), dimungkinkan mulai memahami bahwa bahasa lisan tidak lagi dapat dijadikan satu-satunya media komunikasi, terlebih lagi manusia yang kala itu terus berkembang baik secara jumlah, rentang tempat, maupun intelektualitasnya. Maka muncul ide untuk menciptakan sesuatu yang bernama tulisan.

Awal tulisan manusia tidak se-spesifik zaman modern. Kala itu sekadar menggunakan lambang-lambang, baik lambang yang sederhana maupun lambang-lambang rumit. Penulisan lambang dilakukan dengan cara menggambarkan setiap benda yang diucapkan. Untuk pengucapan yang bukan kata benda, tentu akan mengalami kendala. Lambang-lambang yang dianggap sebagai muasal tulisan manusia tersebut dapat ditemukan pada peninggalan Mesir, Sumeria, China dan lain-lain. Sejauh ini, Sumeria (sekarang Irak) merupakan temuan tertua.

Itu sekilas tentang manusia dan tulisannya, kemudian zaman telah berkembang sedemikian pesat. Manusia dekade saat ini yang dianggap sebagai peradaban manusia paling maju (anggapan, tidak bisa dibuktikan) merupakan manusia yang membuka ruang sedemikian rupa, termasuk pada ruang kegiatan menulis. Siapapun kapanpun, dan di manapun bisa menulis (pengecualian bagi yang buta aksara).

Tentu saja, menulis di sini dalam pengertian yang sangat sederhana, yakni kegiatan untuk menciptakan catatan atau informasi pada suatu media dengan menggunakan aksara. Media yang digunakan tidak terbatas, bisa di atas batu, tembok kamar, kertas koran, buku pelajaran, buku curhatan, atau di komputer. Alat yang digunakan untuk menulis juga bisa apa saja, pensil, arang, pulpen, dan jari-jari kita pada keyboard.

Pertanyaan selanjutnya, lantas mengapa diantara kita merasa sulit untuk membuat tulisan? Mengapa diantara kita merasa sulit jika dihadapkan pada satu tugas yang namanya menulis? Pertanyaan sepele tetapi sering kita jumpai di masyarakat.

Memang kita patut akui menulis bukan sekadar mengetik kata di dalam blank putih yang ada di monitor, tidak sekadar menggoreskan tinta di atas kertas putih. Kita akui juga menulis membutuhkan pemikiran yang mendalam, analisis yang kuat serta berbagai argumentasi yang harus dipersiapkan ketika dalam menulis.

Kesimpulannya, sekadar menulis memang mudah, tetapi menulis yang mampu tercatat dalam perabadan umat manusia itu yang membutuhkan pemikiran serta analisis yang mendalam. (*)

Komentar Anda

comments


Subscribe to our RSS Feed! Follow us on Facebook! Follow us on Twitter! Visit our LinkedIn Profile!