Pendidikan Karakter untuk Membangun Peradaban Bangsa

Diterbitkan  Senin, 07 / 03 / 2016 8:07 - Berita Ini Sudah :  5642 Dilihat

Pendidikan Karakter untuk Membangun Peradaban Bangsa

Ditengah era globalisasi, fenomena degradasi moral semakin marak bermunculan dalam dasawarsa terakhir ini. Perilaku amoral yang melibatkan peserta didik sebagai pelakunya semakin meningkat, motif kriminalitas semakin meningkat, seperti penyalahgunaan minuman keras dan obat terlarang, seks bebas, tawuran, dan kekerasan. Kasus-kasus amoral juga banyak melibatkan orang-orang terdidik dan terpelajar, seperti korupsi dan kolusi. Hal ini perlu menjadi evaluasi besar bagi dunia pendidikan yang idealnya melahirkan generasi-generasi terdidik dan beretika namun justru menjadi pelaku penyimpangan perilaku amoral tersebut yang menunjukkan kompleksnya persoalan moralitas bangsa. Realitas ini menunjukkan fenomena bergesernya nilai etikadan peradaban bangsa.

Sains dan teknologi merupakan dua sisi yang tidak dapat dipisahkan. Kemajuan sains meningkatkan kemajuan teknologi dan modernisasi. Sifat sains adalah obyektif dan netral. Sebaliknya teknologi walaupun netral dapat menjadi tidak netral dan merusak. Seperti penyimpangan penggunaan teknologi internet/sosial media, aborsi, kloning manusia, penggunaan nuklir untuk perang, dsb. Sehingga penting nilai-nilai karakter moral pada sains dan teknologi. Munculnya krisis karakter moral dalam era globalisasi yang mengancam keberadaan manusia dikarenakan kegagalan peradaban modern menginternalisasi salahsatu domain taksonomi pendidikan sains yaitu attitude domain dalam membangun karakter moral yang positif melalui pendidikan. Membangun sains dan teknologi canggih sebagai bukti pencapaian peradaban bangsa yang tinggi tanpa membangun karakter moral tidaklah utuh, bahkan terbukti pencapaian itu mengancam peradaban bangsa itu sendiri.

Berdasarkan hal tersebut,dunia pendidikan saat ini perlu mengedepankan pendidikan yang menghasilkan manusia berkarakter. Proses pencarian jati diri sistem pendidikan, khususnya di Indonesia inilah yang merupakan arah untuk mencapai keseimbangan atau kondisi homeostatic yang relatif sebagaimana setiap manusia mempunyai keinginan untuk mencapainya. Di sinilah peran sekolah dan guru sebagai institusi pendidikan formal sebagai benteng terakhir dalam menahan dan memerangi aspek kehidupan bangsa dengan posisi yang ‘tertantang’ dalam menghadapi fenomena yang berkaitan dengan globalisasi dan degradasi moral. Pendidikan, khususnya pendidikan sains mempunyai program dan metode yang sesuai dalam membangun adab, budi pekerti luhur bangsa.

Pendidikan karakter

Pandangan klasik tentang pendidikan, pada umumnya dikatakan sebagai pranata yang dapat menjalankan tiga fungsi sekligus: pertama, menyiapkan generasi muda untuk memegang peranan tertentu dalam masyarakat mendatang. Kedua, mentransfer pengetahuan yang sesuai dengan peranan yang diharapkan. Ketiga, mentransfer nilai-nilai dalam rangka memelihara keutuhan dan kesatuan masyarakat sebagai prasyarat bagi keberlangsungan hidup masyarakat dan peradaban. Sehingga bisa dikatakan bahwa pendidikan bukan hanya berfungsi sebagai transfer of knowladge saja, tetapi juga sebagai transfer of value. Sesuai tujuan pendidikan nasional adalah untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat berilmu, cakap, kreatif mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta mempunyai rasa tanggung jawab.

Masyarakat memandang pendidikan sebagai pewarisan kebudayaan atau nilai-nilai budaya baik yang bersifat intlektual, keterampilan, keahlian dari generasi tua ke generasi muda agar masyarakat tersebut dapat memelihara kelangsungan hidupnya atau tetap memelihara keperibadiannya. Dari segi pandangan invidu pendidikan berarti upaya pengembangan potensi-potensi yang dimiliki individu yang masih terpendam agar dapat teraktualisasikan secara komplit, sehingga hasilnya dapat dinikmati oleh individu tersebut dan juga masyarakat.

Dari pengertian tersebut dapat dipahami bahwa pendidikan mempunyai fungsi ganda. Pada satu sisi pendidikan berfungsi untuk memindahkan nilai-nilai dalam upaya memelihara kelangsungan hidup suatu masyarakat dan peradaban, sedangkan di sisi lain pendidikan berfungsi untuk mengaktualisasikan fitrah manusia agar dapat hidup secara optimal, baik sebagai pribadi maupun sebagai anggota masyarakat dan mampu memikul tanggung jawab atas perbuatannya, sehingga memperoleh kebahagiaan dan kehidupan yang sempurna.

Pendidikan nasional berfungsi mengambangkan kemampuan dan membentuk watak serta perdaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Melalui pendidikan manusia dikembangkan kemampuannya, baik jasmani dan rohaninya, wataknya dibentuk menjadi pribadi yang matang dan dewasa, serta peradaban bangsa terbangun secara bermartabat sesuai kemajuan jaman dalam upaya pencerdasan bangsa.

Menurut Hujair AH. Sanaky, dalam sejarah umat manusia, hampir tidak ada kelompok manusia yang tidak menggunakan pendidikan sebagai alat pembudayaan dan peningkatan kualitasnya, sekalipun dalam masyarakat yang masih terbelakang (primitif). Pendidikan sebagai usaha sadar yang dibutuhkan untuk menyiapkan anak manusia demi menunjang perannya di masa datang. Upaya pendidikan yang dilakukan oleh suatu bangsa tentu memiliki hubungan yang sangat signifikan dengan rekayasa bangsa di masa mendatang, karena pendidikan merupakan salah satu kebutuhan asasi manusia, bahkan M. Natsir menegaskan bahwa pendidikan merupakan salah satu faktor yang ikut menentukan maju mundurnya kehidupan masyarakat tersebut.

Karakter dikembangkan melalui tahap pengetahuan (knowing), pelaksanaan (acting), dan kebiasaan (habit). Karakter tidak terbatas pada pengetahuan saja. Seseorang yang memiliki pengetahuan kebaikan belum tentu mampu bertindak sesuai dengan pengetahuannya, jika tidak terlatih (menjadi kebiasaan) untuk melakukan kebaikan tersebut. Menurut Lickona (1991: 53) bahwa ada komponen karakter yang baik yaitu pengetahuan tentang moral, penguatan emosi tentang moral, dan perbuatan bermoral.Pengetahuan tentang moral: kesadaran moral, pengetahuan tentang nilai-nilai moral, penentuan sudut pandang, logika moral, keberanian mengambil sikap, dan pengenalan diri. Perasaan moralmeliputi kesadaran akan jati diri, percaya diri, kepekaan terhadap derita orang lain, cinta kebenaran, pengendalian diri, kerendahan hati.Perbuatan atau tindakan moral yaitu kompetensi, keinginan, kebiasaan.

Karakter berarti individu memiliki pengetahuan tentang potensi dirinya, yang ditandai dengan nilai-nilai seperti reflektif, percaya diri, rasional, logis, kritis, analitis, kreatif dan inovatif, mandiri, hidup sehat, bertanggung jawab, cinta ilmu, sabar, berhati-hati, rela berkorban, pemberani, dapat dipercaya, jujur, menepati janji, adil, rendah hati, malu berbuat salah, pemaaf, berhati lembut, setia, bekerja keras, tekun, ulet/gigih, teliti, berinisiatif, berpikir positif, disiplin, antisipatif, inisiatif, visioner, bersahaja, bersemangat, dinamis, hemat/efisien, menghargai waktu, pengabdian/dedikatif, pengendalian diri, produktif, ramah, cinta keindahan (estetis), sportif, tabah, terbuka, tertib. Individu jugamemiliki kesadaran untuk berbuat yang terbaik atau unggul, dan individu juga mampu bertindak sesuai potensi dan kesadarannya tersebut. Karakteristik adalah realisasi perkembangan positif sebagai individu (intelektual, emosional, sosial, etika, dan perilaku).

Sedangkan pemahaman moral sendiri menurut Damon (1988) adalah aturan dalam berperilaku (code of conduct). Aturan tersebut berasal dari kesepakatan atau konsesus sosial yang bersifat universal. Moral yang bermuatan aturan universal tersebut bertujuan untuk pengembangan ke arah kepribadian yang positif (intrapersonal) dan hubungan manusia yang harmonis (interpersonal). Moral merupakan faktor determinan atau penentu pembentukan karakter seseorang.

Indikator manusia yang berkarakter moral adalah:mempunyai kepribadian yang teguh terhadap aturan yang diinternalisasi dalam dirinya, kepekaan sosial yang tinggi sehingga mampu mengutamakan kepentingan orang lain, kemampuan mengatasi konflik dilematis antara pengaruh lingkungan sosial yang tidak sesuai dengan nilai atau aturan dengan integritas pribadinya terhadap nilai atau aturan tersebut.

Berdasarkan kajian nilai-nilai agama, norma-norma sosial, peraturan/hukum, etika akademik, dan prinsip-prinsip HAM, telah teridentifikasi butir-butir nilai yang dikelompokkan menjadi lima nilai utama, yaitu nilai-nilai perilaku manusia dalam hubungannya dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, dan lingkungan serta kebangsaan.

Dalam terminologi pendidikan, guru memberikan ilmu dalam ranah pengetahuan (cognitive), perasaan (affective), sikap (attitude) dan tindakan (action). Oleh karena itu, pendidikan tidak hanya memberikan ‘asupan’ kognitif, tetapi juga ‘asupan’ untuk rohani berupa moralitas untuk menentukan sikap baik-buruk atau benar-salah.

Menurut tokoh pendidikan Indonesia Ki Hajar Dewantoro:”… pendidikan adalah daya upaya untuk memajukan bertumbuhnya budi pekerti (kekuatan, batin, karakter}, pikiran (intellect), dan tubuh. Bagian-bagian tersebut tidak boleh dipisahkan agar kita dapat memajukan kesempurnaan hidup anak…” . Pendidikan hendaknya berpilar kepada Cipta, Rasa dan Karsa. Hal ini bermakna bahwa pendidikan bukan sekedar memberikan pengetahuan (knowledge) tetapi juga mengasah afeksi moral sehingga menghasilkan karya bagi kepentingan ummat manusia.

Pendidikan berkarakter moral adalahsebagai proses transfer pengetahuan, perasaan, penentuan sikap dan tindakan terhadap fenomena berdasarkan nilai atau aturan universal sehingga peserta didik mempunyai kepribadian yang berintegritas tinggi terhadap nilai atau aturan tersebut dan mampu melakukan hubungan sosial yang harmonis tanpa mengesampingkan nilai atau aturan yang ia junjung tinggi tersebut. Sehingga pendidikan berkarakter moral ini dapat membantu peserta didik memahami kebaikan, mencintai kebaikan dan menjalankan kebaikan (know the good, love the good, and do the good).

Pendidikan karakter di sekolah adalah suatu sistem penanaman nilai-nilai karakter kepada warga sekolah yang meliputi komponen pengetahuan, kesadaran atau kemauan, dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut, baik terhadap Tuhan Yang Maha Esa (YME), diri sendiri, sesama, lingkungan, maupun kebangsaan sehingga menjadi manusia insan kamil.

Terdapat interaksi antara aspek nature dan nurture dalam perkembangan karakter individu. Faktor determinan karakter dapat berupa biologis/ herediter. Lingkungan keluarga membawa pengaruh yang cukup penting bagi pembentukan karakter anak. Untuk selanjutnya, pengasuhan orangtua secara menyeluruh, meliputi relasi antara orangtua dan anak yang hangat dan responsif disertai penerimaan,dukungan, pemahaman , disiplin serta konsekuensinya akan membawa dampak dan mengontrol terhadap karakter/perilaku anak.

Perubahan kepribadian (karakter) disamping dipengaruhi oleh faktor genetik, juga dominan secara aktif dipengaruhi faktor lingkungan seperti pendidikan, kondisi keluarga, masyarakat, ekonomi, budaya, makana, udara, iklim dsb.

Strategi dalam pendidikan karakter pada satuan pendidikan dapat dilakukan melalui antara lain: keteladanan, penanaman kedisiplinan, pembiasaan, menciptakan suasana yang kondusif, interasi dan internalisasi. Karakter yang kuat dalam pendidikan sains antara lain: religius, jujur, mandiri, disiplin, kreatif, tanggungjawab, kerjakeras, keteladanan.

Penerapan pendidikan berkarakter moral mempengaruhi peningkatan motivasi siswa dalam meraih prestasi. Hal ini disebabkan salah satu tujuan pendidikan karakter adalah untuk pengembangan kepribadian yang berintegritas terhadap nilai atau aturan yang ada. Ketika individu mempunyai integritas maka ia akan memiliki keyakinan terhadap potensi diri (self efficacy) untuk menghadapi hambatan dalam belajar.

Peserta didik yang mendapatkan pendidikan berkarakter moral akan lebih memahami situasi moral secara akurat dan menegakkan aturan atau nilai yang diinternalisasi, mempunyai alat atau metode untuk memecahkan masalah moral yang kompleks, tetap berfokus terhadap tugas-tugas akademis dan termotivasi untuk mengatasi hambatan dalam pembelajaran, mampu memprioritaskan tujuan-tujuan etis untuk pengembangan diri dan pemberdayaan sosial. Oleh karena itu, negara-negara maju turut menekankan pendidikan berkarakter moral tersebut sebagai soft-skill yang mengikuti kompetensi pembelajaran. Dengan demikian, lulusan dunia pendidikan akan lebih siap berkompetisi dalam era global saat ini.

Peran sekolah dalam membangun manusia yang berkarakter moral antaralain: menyediakan pendidikan moral agama yang berbasis penyikapan terhadap kasus/ fenomena, menyiapkan figur-figur lingkungan sebagai role model. Figur teladan ini sesuai dengan filosofi pendidik yang dikemukakan oleh Ki Hadjar Dewantara, yaitu ing ngarso sung tulodho (seorang guru harus mampu memberikan keteladanan sikap dan tindakan), khususnya keteladanan moral. Menyediakan perangkat nilai dan aturan yang jelas, rasional dan konsisten,membangun sinergitas antara pihak sekolah, keluarga, masyarakat dan pemerintah. Pendidikan berkarakter moral dimasukkan dalam kegiatan intra, ekstra dan ko-kulikuler sebagai hidden curriculum. Dan menyajikan story telling melalui multi media dengan melibatkan peran sebagai role model karakter moral.

Pengembangan nilai/karakter dapat dilihat pada dua latar/domain, yaitu pada latar makro dan latar mikro. Latar makro bersifat nasional yang mencakup keseluruhan konteks perencanaan dan ilmpementasi pengembangan nilai/karakter yang melibatkan seluruh pemangku kepentingan pendidikan nasional. Secara makro pengembangan karakter dapat dibagi dalam tiga tahap, yakni perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi hasil.

Dalam intervensi dikembangkan suasana interaksi belajar dan pembelajaran yang sengaja dirancang untuk mencapai tujuan pembentulkan karakter dengan menerapkan kegiatan yang terstruktur (structured learning experiences). Sementara itu dalam habituasi diciptakan situasi dan kondisi (persistence life situation) yang memungkinkan peserta didik di sekolahnya, di rumahnya, di lingkungan masyarakatnya membiasakan diri berprilaku sesuai nilai dan menjadi karakter yang telah diinternalisasi dan dipersonalisasi dari dan melalui proses intervensi. Kedua proses tersebut -intervensi dan habituasi- harus dikembangkan secara sistemik dan holistik

Pada konteks mikro pengembangan karakter berlangsung dalam konteks suatu satuan pendidikan atau sekolah secara holistik (the whole school reform). Sekolah sebagai leading sector, berupaya memanfaatkan dan memberdayakan semua lingkungan belajar yang ada untuk menginisiasi, memperbaiki, menguatkan, dan menyempurnakan secara terus menerus proses pendidikan karakter di sekolah. Program pengembangan karakter pada latar mikro yaitu kegiatan belajar mengajar, budaya sekolah, kegiatan kegiatan ekstrakurikuler, kegiatan keseharian di rumah.

Pendidikan berkarakter dikatakan efektif apabila telah mencapai tujuan untuk menjadikan manusia yang mempunyai karakter; kemampuan sosial (social skill), pengembangan kepribadian (personal improvement) dan pemecahan masalah secara komprehensif (comprehensive problem solving). Pendidikan berkarakter memerlukan figur teladan sebagai role model untuk menegakkan nilai atau aturan yang telah disepakati bersama. Di sinilah peran pendidik, khususnya guru, orang tua, masyarakat dan pemerintah sebagai figur teladan agar peserta didik mampu melakukan imitasi terhadap perilaku moral. Oleh karena semua pihak dituntut untuk terlibat aktif maka perlu adanya sinergisitas diantara elemen tersebut sehingga pendidikan berkarakter moral dapat terus dilakukan secara berkelanjutan.(*)

 

Penulis : Sri Lestari, S.Si

Komentar Anda

comments


Subscribe to our RSS Feed! Follow us on Facebook! Follow us on Twitter! Visit our LinkedIn Profile!