Memudarnya Penghargaan Profesi Guru

Diterbitkan  Senin, 14 / 03 / 2016 9:00 - Berita Ini Sudah :  2773 Dilihat

Memudarnya Penghargaan Profesi Guru

Guru adalah seorang pendidik dan seorang pengajar. Guru sebagai orang tua di sekolah, jika di rumah orang tuanya sendiri. Apabila di sekolah gurulah yang menjadi orang tuanya. Penghormatan terhadap guru pada zaman dahulu, lain dengan guru pada zaman saat ini. Guru pada zaman dahulu sangat dihormati dan disegani oleh masyarakat atau dengan orang tua murid, begitu juga oleh muridnya sendiri.

Kita bisa lihat dari asal kata “guru”. Guru yang berasal dari bahasa Sansekerta yang berasal yang dihormati. Pada jaman dahulu, masyarakat menaruh rasa hormat dan status sosial yang tinggi terhadap profesi guru. Masyarakat pedesaan umumnya menganggap profesi guru sebagai profesi orang suci (saint) yang mampu memberi pencerahan dan dapat mengembangkan potensi yang tersimpan di dalam diri siswa.

Selain itu sebagian besar masyarakat tradisional memiliki mitos yang kuat bahwa guru adalah profesi yang tidak pernah mengeluh dengan gaji yang minim, profesi yang dapat dilakukan oleh siapa saja dan profesi yang bangga dengan gelar pahlawan tanpa tanda jasa. Dalam pandangan masyarakat tradisional, guru dianggap profesional jika anak sudah dapat membaca, menulis dan berhitung, atau anak mendapat nilai tinggi, naik kelas dan lulus ujian .

Di banyak negara, sosok guru merupakan sosok invisible yang dianggap diperlukan tetapi selalu tersisih, tak terperhatikan, dan tersembunyi di balik tembok sekolah. Juga di Indonesia, guru adalah sosok “Pahlawan Tanpa Tanda Jasa”, karena sebagai sebuah profesi, jasa guru tidak mendapatkan penghargaan selayaknya. Citra guru demikian akan terasa kontradiktif jika dibanding citra guru pada masa pra kemerdekaan atau awal kemerdekaan. Pada masa itu, guru dipandang dan diperlakukan bukan hanya sebagai pendidik yang pantas digugu lan ditiru, tetapi juga pemimpin masyarakat yang dihormati dan disegani. Status ekonominya relatif tinggi. Hal itu tidak terlepas dari imbal jasa yang memadai dan kredibilitas profesional guru di mata masyarakat yang tinggi.

Zaman berubah, pandangan terhadap guru pun mengalami sedikit pergeseran. Era pasar bebas saat ini, guru sepertinya kurang dihargai oleh (meski hanya sebagian) oleh anak murid dan orang tua muridnya. Guru pada zaman sekarang merasa kurang diberi kebebasan untuk mendidik atau mengajar. Karena ada kesalahan sedikit langsung dilaporkan dan diperkarakan.

Masih ingat dalam benak masyarakat, dalam sebuah pemberitaan disebutkan seorang guru yang bermaksud melaksanakan tugas dan kewajibannya mendidik dan membina muridnya harus menanggung akibat yang memilukan dari orang tua siswa. Aop Saopudin seorang guru honorer SDN Penjalin Kidul V, Majalengka, Jawa Barat harus menerima aksi balasan dari Iwan Himawan, orang tua siswa yang tidak terima gara-gara rambut anaknya dicukur oleh Aop. Tidak hanya membalas mencukur rambut guru anaknya itu, Iwan juga mengintimidasi Aop bahkan dia melakukan tindak kekerasan. Bukannya sang guru yang melaporkan si orang tua murid yang telah melakukan perbuatan tak tahu berterima kasih tersebut, sebaliknya justru Aop yang dilaporkan Iwan kepada pihak berwajib. Beruntung, keadilan masih berpihak pada guru. Meski telah mengalami beberapa persidangan dari Pengadilan Negeri, Pengadilan Tinggi, dan akhirnya Mahkamah Agung menyatakan bahwa Aop Saopudin tidak bersalah. Mahkamah Agung malah menghukum orang tua murid tersebut (Lengkapnya lihat http://news.detik.com/berita/2730752/akhirnya-bebas-ini-lika-liku-kriminalisasi-guru-yang-cukur-rambut-siswanya, dikutip Selasa, 8 Maret 2016, 08.00 WIB.). Saya merasa yakin, hal serupa juga sering terjadi di sekolah sekolah lainnya di Indonesia.

Sebetulnya semua guru pasti ingin mendidik dan mengajar siswanya menjadi anak yang baik, yang berakhlakulkarimah. Guru berkeinginan agar anak didiknya memiliki tata krama yang baik dan sopan santun, memiliki disiplin yang baik, bisa menghormati orang lain, bisa menghargai orang lain (sesama teman). Yang jelas pasti ingin semua siswanya menjadi lebih baik, menjadi orang baik, menjadi pandai dan pintar. Namun apa daya sepertinya perubahan paradigma dan cara pandang masyarakat terhadap guru telah memudar.

Patut kita akui, keberadaan guru dalam elemen pendidikan sangat penting. Dalam konteks persekolahan guru adalah ujung tombak. Artinya guru memegang peranan yang sangat penting untuk menjamin proses pembelajaran bisa berlangsung. Mungkin itulah yang menjadi landasan pikiran bagi Ho Chi Min (bapak pendidikan Vietnam) berkata bahwa, No teacher No education. No education, no economic and social development. Ungkapan Ho Chi Min ini, jelas-jelas menunjukkan betapa guru sebagai subjek dalam menjalan proses belajar di sekolah.

Tanpa guru, maka tidak ada pendidikan. Pendapat ini tentu saja bisa saja ada pertentangan dengan aliran-lairan pembebasan, bahwa belajar bukan hanya di sekolah dan bukan hanya pada guru. Tidak dapat dipungkiri bahwa peranan guru sangatlah besar, sangat dibutuhkan untuk menjalankan proses pembelajaran di sekolah-sekolah. Kita sangat membutuhkan guru.

Namun mengapa saat ini murid banyak yang kurang memiliki sopan santun, kurang menghargai, kurang menghormati guru dan kurang mentaati tata tertib di sekolah. Guru sebenarnya setiap hari mengajar/mendidik selalu disisipkan tentang akhlak atau sopan santun di semua mata pelajaran. Namun tidak semua siswa mentaati tata tertib sekolah. Dengan adanya siswa yang titdak menataati tata tertib, guru kemudian menegur bahkan marah kepada siswa yang tidak tertib. Kemudian siswa sampai di rumah mengadu kepada orang tuanya, bahwa tadi gurunya marah marah di sekolah. Tetapi orang tua bukannya mengingatkan kepada anak sendiri tetapi justru marah kepada gurunya. Bahkan ada yang langsung datang ke sekolah untuk membela anaknya.

Seperti anak anak di saat istirahat saling bercanda. Ketika bercanda ada salah satu anaknya jatuh atau terluka. Itupun orang tua langsung menyalahkan guru/pihak sekolah. Walaupun anak yang luka sudah diobati kadang dibawa ke dokter, tetapi pihak orang tua masih menyalahkan guru atau pihak sekolah. Sebetulnya guru itu harus bagaimana? Kalau orang tua selalu merasa ada HAM atau karena apa? Jadi pada dasarnya guru pasti ingin menjadikan anak anak pandai dan baik.

Profesi guru kini tengah mengalami krisis apresiasi. Rasa hormat dan penghargaan terhadap guru dan profesinya memudar. Banyak pandangan melihat profesi guru bukan lagi sebagai sebuah profesi menarik, terutama dari kalangan menengah ke atas. Kalau begini buruknya penghargaan terhadapguru, maka akan semakin sulit ke depan untuk mencari guru yang benar-benar mengabdi pada profesinya.

Memudarnya citra profesi guru saat ini, tidak lepas dari pengaruh beberapa variabel yang saling mengait satu dengan lainnya. Dewasa ini penghargaan terhadap guru, secara struktural oleh pemerintah maupun masyarakat, masih rendah. Terjadi ambiguitas dari masyarakat dan pemerintah.

Di satu sisi mengakui peran penting pendidikan dalam pengembangan sumber daya manusia, di sisi lain penghargaan terhadap profesi guru tidak sepadan dengan tugas dan tanggung jawabnya. Gaji guru, meski sudah ada usaha dari pemerintah untuk menaikkannya, tetap saja tergolong rendah.

Karena perlakuan semacam ini membuat minat masyarakat untuk menjadi guru semakin menurun. Kalau pun saat ini masih banyak orang yang menjadi guru, alasannya hanya karena sudah terlanjur bersekolah di lembaga pendidikan guru atau karena memang sudah terlalu lelah mencari pekerjaan lain. Pekerjaan guru akan menjadi sambilan saja. Ini adalah sebuah realitas kekinian yang tak dapat dipungkiri. Cobalah cari di antara para siswa di sekolah kita yang mau menjadi guru.

Untuk itu marilah guru dan orang tua siswa saling percaya dan saling kerjasama untuk mendidik dan mengawasi anak anak kita, agar menjadi anak yang tangguh, mandiri, disiplin dan berakhlakulkarimah. Sehingga para guru merasa dihargai dan merasa memiliki nak didik seperti anak sendiri. Kalau ada yang salah atau tidak tertib perlu ditegur, diingatkan yang penting tidak sampai memukul siswa.

Apabila terjadi permasalahan permasalahan antara guru dan siswa sebaiknya dibicarakan dengan baik baik secara kekeluargaan. Jangan hanya dibicarakan di masyarakat. Apalagi langsung melaporkan yang lebih atas, tanpa konfirmasi dulu permasalahannya di sekolah.

Agaknya, kita harus belajar menghargai guru. Agaknya kita patut merenungkan pepatah orang bijak, “kalau bangsa ini ingin menjadi besar dan maju,maka kita harus bisa menghargai guru”. Nah, kalau kita sudah tidak bisa lagi menghargai guru, maka selayaknya saat ini kita siapkan keranda kematian bagi pendidikan kita di tanah air. Kalau pendidikan mati, maka semakin rendahlah kualitas bangsa ini. Bila tidak, maka kini saatnya kita belajar kembali. Belajar menghargai guru. Marilah semua para pembaca kita didik bersama sama anak-anak kita demi masa depan dan demi kemajuan bangsa dan negara.(*)

 

 

Penulis : Endang Sri Pujiarti S.Pd (Kepala SDN Kademangan 01 Kecamatan Setu,  Kota Tangerang Selatan)

Komentar Anda

comments


Subscribe to our RSS Feed! Follow us on Facebook! Follow us on Twitter! Visit our LinkedIn Profile!