Mengapa Guru Harus Menulis?

Diterbitkan  Senin, 14 / 03 / 2016 17:51 - Berita Ini Sudah :  1231 Dilihat

Dunia Menulis

“Orang boleh pandai setinggi langit, tetapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang ditelan masyarakat dan sejarah.”
Pramoedya Ananta Toer

Kau, nak, paling sedikit kau harus bisa berteriak. Tahu kau mengapa aku sayangi kau lebih dari siapapun? Karena kau menulis, suaramu tak kan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh, jauh dikemudian hari. Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama dia tak menulis, Ia akan hilang dalam masyarakat dan dari sejarah.

Itulah penggalan kalimat yang ditulis novelis legendaris Indonesia, Pramoedya Ananta Toer yakni Rumah Kaca. Ia tulis novel ini sekitar tahun 1980-an. Pada tahun pada tahun 1988, novel ini sempat dilarang oleh pemerintahan Soeharto lantaran berisi sindiran tajam soal pemerintahan diktator. Jasad peraih gelar kehormatan Doctor of Humane Letters dari Universitas Michigan tahun 1999 ini memang sudah tiada. Namun hingga saat ini novel-novelnya Pramoedya masih sangat dinikmati, tidak hanya oleh orang Indonesia, tetapi juga masyarakat internasional. Begitu dahsyatnya menulis.

Imam Al Ghazali pernah mengatakan, “Kalau kamu bukan anak raja, dan kamu bukan anak seorang ulama besar, maka jadilah penulis”. Hampir senada dengan itu Pramoedya Ananta Toer juga pernah berucap, “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.” Secara terpisah Sayyid Qutb, seorang ilmuwan yang juga sastrawan dan pemikir dari Mesir pernah mengungkapkan bahwa, “Peluru hanya bisa menembus satu kepala, tetapi tulisan bisa menembus jutaan kepala.”

Pepatah lama seorang filsuf Perancis Descartes, yakni Cogito ergo sum dimana artinya “aku berpikir maka aku ada”. Maksudnya kalimat ini membuktikan bahwa satu-satunya hal yang pasti di dunia ini adalah keberadaan seseorang sendiri. Seseorang tidak akan eksis tanpa berpikir. Hasil pemikirannya akan lenyap dalam sejarah jika tidak tulis dan dipublikasikan. Karena itulah menulis adalah rangkaian dari proses berpikir. Menulis juga bagian dari menunjukkan eksistensi kita sebagai manusia. Perbedaan manusia dengan binatang yang diciptakan Tuhan Yang Maha Esa adalah bahwa Tuhan telah memberikan anugerah yang sangat dahsyat yakni otak. Dengan ciptaan-Nya ini. Dengan terdiri dari miliyaran sel-sel, otak membuat manusia berpikir dan ‘menciptakan sesuatu’. Hasil ciptaannya itulah yang berhasil membangun sebuah peradaban.

Saya merasa yakin setiap manusia diciptakan memiliki kemampuan untuk menulis. Pertanyaannya, hanya saja kemampuan tersebut dipakai atau tidak. Itu pertanyaan yang mendasar. Sebab kita harus akui, hampir setiap umat manusia yang hidup di jaman modern saat ini sejak usia dini sudah diajarkan bagaimana cara menulis. Begitu juga dalam keseharian kita tidak pernah lepas dari kegiatan menulis. Entah itu menulis surat, memo, menulis pesan di perangkat komunikasi atau sekedar untuk mengupdate status di media sosial. Menulis itu sebenarnya tidak sulit karena sudah menjadi kegiatan rutin keseharian kita. Namun hal tersebut belum menjadi sebuah kebiasaan.

Kita juga patut bersyukur memiliki kemampuan menulis. Berkat kemampuan menulis, hingga saat ini kita dapat mengenal tokoh tokoh masa lampau. Seperti kita mengenal seperti pendiri Republik Indonesia Ir Soekarno, Mohammad Hatta, KH Agus Salim dan Ki Hajar Dewantara. Atau kalau kita mau mundur lebih jauh lagi ada nama seperti Socrates, Plato, Albert Einstein dan Ibnu Sina. Mungkin kita semua tidak memiliki hubungan dan tidak pernah mengenal langsung para tokoh-tokoh tersebut.

Tetapi kita bisa mengenal dan mengetahuinya lewat karya-karya yang diwariskan, salah satunya melalui tulisan-tulisan mereka. Boleh jadi mereka terpisah jarak beberapa generasi dengan kita saat ini dan mereka pun telah meninggal puluhan, ratusan bahkan ribuan tahun yang lalu. Namun satu hal yang tetap abadi adalah karya-karya mereka, yang telah memberikan warisan pemikiran bagi generasi selanjutnya. Mereka tetap dikenang, bahkan pemikiran-pemikiran yang mereka wariskan menjadi topik diskusi serta perbincangan yang akhirnya mendorong lahirnya pemikiran-pemikiran baru sebagai penyempurnaan dari yang telah ada sebelumnya.

Para tokoh di atas seakan-akan mereka hidup abadi dan kekal sepanjang zaman karena mereka menulis. Bayangkan apa yang akan terjadi seandainya mereka tidak pernah menulis dan mewariskan pemikiran mereka? Mungkin kita tidak akan pernah mengenal mereka, dan nasibnya mungkin sama seperti sebagian besar orang-orang yang lainnya. Hilang ditelan perputaran zaman dan tergilas tanpa bekas oleh roda kehidupan.

Guru adalah bagian dari sejarah, bagian dari mengukir peradaban dunia. Bisa dibayangkan dunia ini tanpa adanya guru. Guru dan peradaban merupakan satu kesatuan yang sebenarnya tidak bisa dipisahkan. Karena itu, kemampuan menulis merupakan keahlian yang wajib dimiliki oleh guru. Seorang guru perlu memiliki keterampilan menulis meskipun ia tidak berprofesi sebagai penulis. Menyampaikan gagasan kepada orang lain melalui karya tulis dalam bentuk makalah, diktat, hand out, tulisan ilmiah populer, dan lain sebagainya. Hal ini menjadi salah satu unsur kegiatan pengembangan profesi guru.

Karya tulis ilmiah hasil gagasan guru dapat dipublikasikan melalui jurnal/buletin atau hanya publikasi terbatas di perpustakaan sekolah. Lebih luas, guru dapat mempublikasikan gagasannya melalui media cetak (surat kabar, majalah dan tabloid). Selain itu, guru juga bisa menempatkan hasil kegiatan menulisnya melalui media internet (blog).

Jadilah ia seorang blogger guru yang membahas tema pendidikan. Siswa perlu dibekali keterampilan menulis oleh guru. Tidak hanya oleh guru bahasa Indonesia. Semua guru perlu melatih bagaimana siswa menulis hasil pekerjaannya. Misalnya, menulis karya ilmiah remaja (KIR), menulis laporan praktikum, menulis hasil belajar pokok bahasan tertentu sebagai laporan pada diskusi kelompok. Begitulah, menulis menjadi sebuah kegiatan penting dalam tugas keseharian. Oleh sebab itu keterampilan menulis perlu dimiliki oleh setiap orang.

Mengingat pentingnya menulis bagi seorang guru, budaya menulis sungguh perlu ditumbuh kembangkan. Untuk itu, pertama-tama, tumbuhkan dulu kecintaan dan kebiasaan dalam hal membaca dan mendengar yang baik. Satu hal yang perlu diingat, menuliss sangatlah berbeda dengan berbicara. Komunikasi melalui tulisan cenderung lebih sulit.

Hanya saja, untuk mengungkapkannya dibutuhkan kecerdasan bahasa dan membaca menjadi solusinya. Menulis bagi seorang guru boleh dikatakan adalah suatu ‘harga mati’. Sebab menulis tidak hanya dapat menambah wawasan, mengasah kemampuan berfikir, serta pengetahuan, namun juga sekaligus dapat menunjang peningkatan karier dan kesejahteraan guru yang bersangkutan.

Dengan menulis, seseorang ibarat membenamkan diri dalam proses kreatif. Kreativitas muncul, bila terus didorong melalui berbagai latihan, termasuk latihan menulis . Sehingga tulisan yang dibuat menjadi bermakna bagi yang membacanya. Namun terkadang banyak kendala mengapa orang-orang saat ini kurang berminat dalam menulis.

Penyebab rendahnya kemampuan guru dalam menulis yaitu, Pertama, mereka banyak yang tidak mempunyai budaya membaca yang baik.

Kedua, motivasi yang rendah di kalangan pemuda-pemudi untuk menulis.

Ketiga, pemuda-pemudi yang miskin gagasan.

Keempat, kurangnya keberanian dalam menulis. Kunci untuk dapat menulis adalah terus berlatih menuliskan ide, pikiran, dan gagasan dalam bentuk tulisan. Akan tetapi menulis tidak dapat dicapai hanya dengan membaca, dan mendengar, tetapi harus dilakukan dengan cara berlatih menulis, kemudian menulis dan menulis (selengkapnya : http://www.kompasiana.com/nurfia/pentingnya-budaya-menulis-untuk-guru 55179277813311a0669de98f, Senin 7 Maret 2016, pukul 16.00 WIB).

Dengan seringnya menulis dan menulis, maka akan lebih baik dalam menghasilkan karyannya Menulis adalah sebuah kreativitas yang dapat membantu guru dalam mentransfer ilmunya. Dengan membangun budaya menulis dikalangan guru, diharapkan terbentuk guru yang kritis dan berfkir sistematis, sehingga keterampilan menulis mampu diaplikasikan dalam pembelajaran terhadap siswa.(*)

Komentar Anda

comments


Subscribe to our RSS Feed! Follow us on Facebook! Follow us on Twitter! Visit our LinkedIn Profile!