Komunitas Penulis Nyi Mas Melati Tangerang


Berjuang Membangun Ekosistem Kreatif

Diterbitkan  Senin, 04 / 04 / 2016 11:43 - Berita Ini Sudah :  924 Dilihat

Komunitas Penulis Nyi Mas Melati Tangerang

TANGERANG – Puluhan anggota Komunitas Penulis Nyi Mas Melati Tangerang mendapat pencerahan dari Kepala Bagian (Kabag) Kesejahteraan Sosial Pemerintah Kota (Pemkot) Tangsel, Edi Wahyu, dalam upaya membangun ekosistem kreatif di komunitas tersebut.

Pencerahan yang disampaikan Edi Wahyu itu tidak berkaitan dengan masalah-masalah sosial dan kesejahteraan masyarakat, yang selama ini menjadi bidangnya di Pemkot Tangsek. Namun pencerahan itu berkaitan degan soal-soal kesenian dan kebudayaan.

Sekedar informasi, Edi Wahyu adalah budayawan, sutradara teater, dan lulusan jurusan Sastra Universitas Padjadjaran (Unpad) Bandung. “Pertemuan-pertemuan seperti ini perlu terus dikembangkan,” kata Edi Wahyu, dalam acara pertemuan dwi mingguan komunitas di Dewan Kesenian Kota (DKT) Tangerang, Sabtu 92/4) sore.

Terkait dengan penulisan puisi, Edy Wahyu juga menjelaskan perlu mendapat dukungan dari media-media local. “Di Bandung kepenyairan tumbuh dengan baik karena mendapat dukungan dari media setempat serta diasuh oleh penyair Saini KM,” ungkap dia.

Kehadiran Edy Wahyu disambut anggota komunitas dengan pembacaan puisi dari penyair muda Fiki Fauzi bertajuk “Negara Kawanku”. Fiki membaca puisinya dengan penghayatan yang dalam.

Dalam kesempatan itu juga Edy Wahyu sempat membacakan puisinya yang bertemakan tentang puisi dan persahabatan. Puisi itu dibacakannya dengan suara yang sangat khas dan ekspresif.

“Ke depan, komunitas ini harus berani tampil di panggung secara kolosal, sehingga bisa menarik penonton atau masyarakat. Coba itu lakukan. Itu bisa di pinggir Kali Cisadane,” katanya.

Ketua Komunitas Penulis Nyi Mas Melati Tangerang D Pebrian menambahkan komunitas ini sedang membangun ekosistem kreatif untuk melahirkan produk-produk kreatif seperti puisi, cerita pendek, novel, monolog, naskah drama dan opini serta esai.

Menurut dia, ekosistem kreatif perlu dibangun oleh komunitas-komunitas , masyarakat, dan bahkan negara sehingga muncul orang-orang kreatif sesuai dengan bidang dan kemampuannya masing-masing.

“Suatu negara bisa maju bukan hanya banyaknya orang-orang pintar, namun perlu diperbanyak orang-orang kreatif. Untuk apa banyak orang pintar tapi tidak kreatif. Lebih berbahaya lagi orang pintar itu banyak melakukan korupsi seperti yang terjadi saat ini di negeri ini,” ujarnya D Pebrian, yang juga penyair muda serta mahasiswa jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP UMT. (bud)

Komentar Anda

comments


Subscribe to our RSS Feed! Follow us on Facebook! Follow us on Twitter! Visit our LinkedIn Profile!