Pertunjukan “Gerhana” Teater Cahaya UMT


Getirnya Hukum Bagi Orang Kecil

Diterbitkan  Kamis, 07 / 04 / 2016 18:58 - Berita Ini Sudah :  902 Dilihat

Getirnya Hukum Bagi Orang Kecil Teater Singgi Hinggil

TANAH TINGGI – Orang-orang kecil di negeri ini masih sangat sulit mendapatkan pelayanan hukum . Untuk meminta keadilan misalnya mereka harus mengemis hingga akhirnya mati sendiri secara tragis.

Demikian benang merah pertunjukan “Gerhana” yang dibawakan Teater Cahaya Universitas Muhammadiyah Tangerang (UMT), di Gedung Kesenian Siti Hinggil, di Jalan Al Muhajirin, Tanah Tinggi, Kota Tangerang, Rabu (6/4) sore.

Lakon ini bergulir ketika tokoh yang bernama Sali mendapatkan pohon pepaya di pekarangan rumahnyanya tumbang. Betapa sedih Sali karena ia sangat mecintai pohon itu. Terlebih pohon itu sebagai makhluk hidup yang memiliki nafas dan memiliki hak hidup juga.

Setelah mendapat dukungan dari para tetangganya, Sali kemudian melaporkan “pembunuhan” pohon pepaya itu ke Pemerintahan Kelurahan. Namun tidak ditanggapi dan Lurah memberi saran agar Sali segera menanam pohon benih pepaya yang baru.

Kecewa dengan perlakuan Lurah, Sali lalu mengadu ke Pemerinatah Kecamatan. Sayangnya Camat tidak ada di tempat. Malah Sali mendapat pelecehan dari para pegawai di kecamatan. Laporan Sali juga ditertawakan para pegawai tersebut.

Sali tidak berkecil hati dan segera lapor ke polisi. Namun ketika tiba di markas polisi, Sali malah diusir dan diancam akan ditembak, karena dianggap melaporkan perkara yang tidak-tidak, yang tidak masuk akal.

Sali akhirnya pulang ke rumahnya dengan perasaan getir. Sali yang tidak bisa protes atas pelayanan hukum yang buruk, akhinya berteriak hingga darah tinginya naik dan Sali pun mati mendadak.

Pertunjukan teater yang digarap sutradara muda, Intan Ramadhany ini diadaptasi dari cerita pendek bertajuk “Gerhana” karya cerpeni Muhammad Ali. Tentu saja pemilihan terhadap naskah cerpen ini dari sang sutradara sungguh sangat tepat, karena memiliki kontekstualitas dengan persoalan kekinian di negeri ini.

Intan yang juga dosen UMT tampaknya gelisah melihat persoalan hukum yang sampai saat ini masih tetap saja bobrok dan tidak memiliki keberpihakan sama sekali kepada orang-orang kecil.

Dengan pertunjukan itu, Intan juga seperti ingin memberikan pelajaran yang berharga kepada pentonon tentang realitas hukum dari para aparat pemerintah dan penegak hukum yang tidak peduli terhadap persoalan hukum yang membelit kehidupan orang-orang kecil.

Namun pertunjukan yang banyak dimainkan mahasiswa UMT itu kurang digarap secara detil. Salah satu contoh pertunjukan itu dengan menggunakan pendekatan musikal. Namun tidak didukung dengan pemain yang mampu menyanyi dan menari dengan baik serta tidak didukung dengan kekuatan aktor yang liat.

Pertunjukan dengan konsep drama musikal itu tidak digarap secara tuntas. Akibatnya konsep pertunjukan menjadi kurang utuh. Visualisasinya kurang greget. Begitu pun struktur dramatiknya tidak diolah sehingga tidak mengangkat emosi penonton.

Demikian juga dengan garapan elemen-elemen artistik lainnya.
Sebut misalnya penataan lampu. Penata cahaya tampaknya kurang mampu menerjemahkan ruh cerita dalam adegan per adegan.

Namun terlepas dari kelemahan-kelemahan pertunjukan itu, keberanian Intan menggarap atau menyutradarai teater perlu diacungi jempol. Intan akan lebih bersinar jika mau belajar dan belajar. Semoga.(bud)

Komentar Anda

comments


Subscribe to our RSS Feed! Follow us on Facebook! Follow us on Twitter! Visit our LinkedIn Profile!