Guru dan Batman Vs Superman

Diterbitkan  Selasa, 19 / 04 / 2016 7:55 - Berita Ini Sudah :  771 Dilihat

Dunia MenulisSepekan terakhir, publik Indonesia diramaikan dengan perbincangan film terbaru yakni Superman VS Batman : Dawn of Justice. Film pahlawan super Amerika yang menampilkan karakter DC Comics Batman dan Superman, yang didistribusikan oleh Warner Bros. Pictures. Film tersebut disutradarai oleh Zack Snyder, dengan sebuah permainan latar yang ditulis oleh Chris Terrio dan David S. Goyer serta dibintangi oleh Ben Affleck, Henry Cavill, Amy Adams, Jesse Eisenberg, Diane Lane, Laurence Fishburne, Jeremy Irons, Holly Hunter, dan Gal Gadot.

Film action ini bercerita tentang kekhawatiran akan aksi dari superhero manusia setengah dewa, dan tak ada yangbisa menandinginya. Sementara itu di sisi lain mereka berkonflik untuk menentukan siapa dan macam apa superhero yang dibutuhkan dunia. Untuk melindungi bumi dan umat manusia. Saat Batman dan Superman sedang berkonflik, ada sebuah ancaman baru akan bangkit dan mengancam bumi, di situlah keberadaaan manusia terancam oleh bahaya yang tak pernah diketahui sebelumnya.

Di balik genre action-fantasy, Batman v Superman: Dawn of Justice arahan sutradara Zack Snyder sejatinya juga merupakan film drama tentang pencarian jati diri antara kedua superhero tersebut. Perbedaan masa kecil yang dialami Wayne dan Kent menjadi kunci utama keduanya bersikap dan mengambil keputusan saat dewasa, termasuk soal duel hidup-mati itu sendiri.

Wayne, yang yatim-piatu sejak kecil, digambarkan sebagai sosok penuh amarah dan dendam terhadap ketidakadilan. Sebaliknya, Kent, yang diasuh penuh kasih sayang oleh kedua orangtua angkatnya, justru terkesan selalu ingin mengorbankan dirinya demi menyelamatan orang lain, terutama Lois Lane (Amy Adams), sang cinta sejati.

Titik persinggungan Wayne/Batman dan Kent/Superman akhirnya terjadi saat Superman berjibaku dengan salah satu musuhnya hingga ke Gotham City. Tak terima kota tinggalnya porak poranda dan kehilangan banyak korban jiwa, Wayne pun menanggap Kent sebagai sosok pahlawan egois yang hanya memikirkan kepentingannya sendiri. Di lain sisi, tekanan publik dan pemerintah membuat Kent kerap bimbang dengan keputusannya membangun alter ego pahlawan super bernama Superman. Sementara yang diinginkan Kent hanyalah menjaga orang-orang terkasihnya.

Di luar dari konflik tersebut, dua karakter tersebut saat ini menjadi ‘pahlawan dunia’ masa kini yang menumpas kegelapan. Batman dan Superman menjadi sosok yang karakter yang mungkin paling dikenal di jagat raya ini. Saya berani taruhan, mayoritas manusia yang menetap di muka bumi pasti akan mengenal sosok Superman dan Batman.

Lantas apa hubungannya dengan Guru? Ya memang sih tidak ada hubungannya (hehehe). Namun coba kita renungkan, antara guru, Batman dan Superman tentu saja memiliki tugas yang sama, yakni menghilangkan kegelapan di muka bumi ini. Hanya saja, guru bertindak di dunia nyata, sedangkan Batman dan Superman hanya berada di dunia imajinasi.

Yang menjadi pertanyaan, mengapa sosok guru tidak menjadi idola seperti sosok Batman dan Superman. Padahal, jika guru melakukan tindakan yang ril untuk membawa manusia dari kegelapan, dari kebodohan. Tanpa guru, dunia ini dipastikan tidak akan berarti. Mungkin, tanpa guru, tidak akan muncul sosok karakter Superman, yang diciptakan Joe Shuster, dan penulis Amerika Serikat Jerry Siegel dan Batman yang diciptakan Frank Miller.

Mengapa guru saat ini dianggap sosok yang misterius, antara ada dan tiada. Coba kita tanya anak anak saat ini? Apakah mereka masih memiliki cita-cita menjadi guru? Pasti jawabannya Anda tahu.

Kata guru sebenarnya sudah mengidentikan mereka ini menjadi sosok yang terhormat. Guru yang berasal dari bahasa Sansekerta artinya dihormati. Pada jaman dahulu, masyarakat menaruh rasa hormat dan status sosial yang tinggi terhadap profesi guru. Masyarakat pedesaan umumnya menganggap profesi guru sebagai profesi orang suci (saint) yang mampu memberi pencerahan dan dapat mengembangkan potensi yang tersimpan di dalam diri siswa.

Selain itu sebagian besar masyarakat tradisional memiliki mitos yang kuat bahwa guru yang ‘wah’. Di banyak negara, sosok guru merupakan sosok invisible yang dianggap diperlukan tetapi selalu tersisih, tak terperhatikan, dan tersembunyi di balik tembok sekolah. Juga di Indonesia, guru adalah sosok ‘Pahlawan Tanpa Tanda Jasa’, karena sebagai sebuah profesi, jasa guru tidak mendapatkan penghargaan selayaknya.

Mungkin lantaran ada gelar ‘pahlawan tanpa tanda jasa’ membuat guru saat ini menjadi kurang dihormati dan disegan, apalagi diidolakan oleh anak anak. Terbukti saat ini tidak sedikit siswa yang ‘tidak patuh’ terhadap gurunya. Penghormatan terhadap semakin memudar.

Pada sebuah workshop pengembangan keprofesionalan berkelanjutan untuk guru yang dilakukan Green Komunika di Serpong sebulan lalu juga mengungkapkan hal serupa. Pada sesi informal, guru banyak yang berkeluhkesah tentang memudarnya penghormatan terhadap guru dari siswa dan termasuk juga orang tua siswa. Ketika ditegur siswa oleh guru lantaran dianggap ‘nakal’, siswa bukannya meminta maaf, tetapi malah ‘melawan’. Bahkan tidak sedikit yang melaporkan tindakan guru kepada orang tuanya. Sehingga terjadi kesalahpahaman.

Kita masih ingat sebuah pemberitaan disebutkan seorang guru yang bermaksud melaksanakan tugas dan kewajibannya mendidik dan membina muridnya harus menanggung akibat yang memilukan dari orang tua siswa. Aop Saopudin seorang guru honorer SDN Penjalin Kidul V, Majalengka, Jawa Barat harus menerima aksi balasan dari Iwan Himawan, orang tua siswa yang tidak terima gara-gara rambut anaknya dicukur oleh Aop. Tidak hanya membalas mencukur rambut guru anaknya itu, Iwan juga mengintimidasi Aop bahkan dia melakukan tindak kekerasan. Bukannya sang guru yang melaporkan si orang tua murid yang telah melakukan perbuatan tak tahu berterima kasih tersebut, sebaliknya justru Aop yang dilaporkan Iwan kepada pihak berwajib. Beruntung, keadilan masih berpihak pada guru. Meski telah mengalami beberapa persidangan dari Pengadilan Negeri, Pengadilan Tinggi, dan akhirnya Mahkamah Agung menyatakan bahwa Aop Saopudin tidak bersalah. Mahkamah Agung malah menghukum orang tua murid tersebut. Saya merasa yakin, hal serupa juga sering terjadi di sekolah sekolah lainnya di Indonesia.

Mungkin kita patut renungkan itu bersama gelar ‘pahlawan tanpa tanda jasa’ yang bangsa ini berikan kepada guru. Saatnya memang gelar tanpa tanda jasa itu harus dicabut dan harus benar benar diberikan penghargaan yang lebih tinggi kepada sosok guru. Saat memang kita jadikan guru benar-benar menjadi pahlawan yang sesungguhnya. Pahlawan yang benar-benar berjasa yang diberikan mahkota, bukan tanpa tanda jasa.(*)

Komentar Anda

comments


Subscribe to our RSS Feed! Follow us on Facebook! Follow us on Twitter! Visit our LinkedIn Profile!