Pertunjukan Puisi “Negeri yang Dikuburkan”


Ketika Penulis Bermain Teater

Diterbitkan  Selasa, 03 / 05 / 2016 11:00 - Berita Ini Sudah :  733 Dilihat

Tafakur Sastra

TANGERANG – Sejumlah penulis yang tergabung dalam Komunitas Penulis Nyi Mas Melati tidak hanya pandai menulis berbagai bentuk tulisan, namun mereka juga pandai bermain teater.

Kemampuan itu dibuktikan mereka dengan mementaskan puisi bertajuk “Negeri yang Dikuburkan” karya Budi Sabarudin, di Gedung Kesenian, Perumahan Moderland, Kota Tangerang, Kamis (28/4) malam.

Pertunjukan puisi itu sebagai bagian dari kegiatan besar bertajuk Tafakur Sastra 2 yang digagas komunitas tersebut. Tafakur Sastra kali kedua ini adalah agenda kebudayaan enam bulanan.

Puisi Negeri yang Dikuburkan mengisahkan tentang berbagai persoalan dan peristiwa yang menimpa negeri ini. Puisi itu ditulis Budi Sabarudin dengan gabungan bahasa puitis dan simbolis.

Pertunjukan puisi ini digarap sutradara Rizki Acong dengan berbagai pendekatan, diantaranya pendekatan simbolis atau metaforis, surealis serta dibalut dengan pendekatan tradisi agraris.

Tokoh pembaca puisi dalam pertunjukan ini dipercayakan kepada Fiki Fauzi. Fiki yang juga dikenal sebagai penyair dari Teluknaga, kabupaten Tangerang ini, bermain memukau dan kharismatik.

Demikian juga dengan pemain-pemain lainnya yang bertugas sebagai koor dan Suci sebagai penembang lagu “Padamu Negeri”. Mereka bermain dengan semangat dan penuh integritas.

Tak hanya itu, D Pebrian dan Haryanto sebagai penata musik, mampu menghadirkan musik yang sesuai dengan ruh pertunjukan. Pebrian dan Haryanto mengisi pertunjukan dengan musik-musik efek yang membuat pertunjukan menjadi lebih seru.

Rizki Acong mengatakan pertunjukan digarap tidak kurang dari dua minggu. Namun demikian para pemain bermain di atas pentas secara sungguh-sungguh. Mereka juga bermain nyaman dan lepas.

“Pertunjukan puisi ini menjadi semakin bagus karena dikonsep Kang Budi Sabarudin, sedangkan konsultan pertunjukannya Kang Edy Wahyu. Saya hanya meneruskan dan menerjemahkan konsep itu,” paparnya.

Edy Wahyu yang juga Pembina Komunitas Penulis Nyi Mas Melati, mengatakan pertunjukan puisi yang digarap komunitas ini tergolong baru. “Saya belum pernah melihat puisi digarap seperti ini. Ini memang sudah menjadi bentuk teater,” ungkap Edy.

Halimah, salah satu anggota komunitas paling senior, mengaku bersyukur pertunjukan ini ditonton banyak orang. “Saya melihat para penonton serius menyaksikan pertunjukan puisi,” katanya.

Menurut Halimah acara Tafakur Sastra 2 dihadiri musisi balada asal Bandung ferry Curtis dan satrawan lintas negara Rois Rinaldi. “Tafakur Sastra 3 akan kami gelar bulan Desember mendatang. Semoga sukses seperti Tafakur Sastra 2,” ungkapnya.(bud)

Komentar Anda

comments


Subscribe to our RSS Feed! Follow us on Facebook! Follow us on Twitter! Visit our LinkedIn Profile!