Pertunjukan Teater Barabah dalam Fesdrak ke-6 FKIP UMT


Akting Pola Malinda Pukau Penonton

Diterbitkan  Jumat, 03 / 06 / 2016 13:25 - Berita Ini Sudah :  981 Dilihat

Pola Malinda (kiri) sedang memainkan tokoh Banio dan Barabah (Hanipah Nazua) dalam lakon “Barabah” dalam Fesdrak ke-6 FKIP Universitas Muhammadiyah Tangerang (UMT), di Wisma Siti Hinggil, Tanah Tinggi, Kota Tangerang, Rabu (1/6) siang.(BUDI SABARUDIN/TANGSEL POS)

Pola Malinda (kiri) sedang memainkan tokoh Banio dan Barabah (Hanipah Nazua) dalam lakon “Barabah” dalam Fesdrak ke-6 FKIP Universitas Muhammadiyah Tangerang (UMT), di Wisma Siti Hinggil, Tanah Tinggi, Kota Tangerang, Rabu (1/6) siang.(BUDI SABARUDIN/TANGSEL POS)

TANGERANG – Lakon bertajuk “Barabah” yang dimainkan Teater Benteng dalam Festival Drama Antar Kelas (Fesdrak) yang ke-6 yang digagas FKIP UMT, di Wisma Siti Hinggil, Tanah Tinggi, Kota Tangerang, Rabu (1/6), mendapat sambutan hangat dari puluhan penonton.

Selama pertunjukan, puluhan penonton dibuat hanyut, tertegun, terkesima, dan terkagum-kagum. Terlebih lagi setelah penonton menyaksikan akting Pola Malinda yang memerankan tokoh Banio. Penonton seakan-akan tak percaya terhadap akting Pola.

Permainan peran Pola memang terasa sangat istimewa karena tokoh Banio yang dimainkan itu laki-laki, sedangkan Pola seorang perempuan. Perubahan peran seperti itu sangat tidak mudah, karena harus ditunjang dengan jam terbang main yang memadai.

Kendala yang biasa dihadapi pemain perempuan saat memainkan tokoh laki-laki tentu keterbatasan fisik. Imajinasi penonton tidak akan mudah percaya yang memainkan peran laki-laki itu adalah perempuan. Apalagi jika pemain itu sudah dikenal oleh para penontonnya.

Namun demikian Pola bisa menutupi segala keterbatasan imajinasi penonton itu dengan permainan yang ekspresif, penuh tenaga, konsisten, dan penuh totalitas, sehingga tokoh Banio yang sudah renta mampu dimainkan jiwa, fisik, dan pikiran-pikirannya dengan baik.

Keistimewaan lain dari pertunjukan Barabah, Pola sendiri langsung menyutradarai pertunjukan itu. Artinya ada dua tugas yang dimanikan Pola, yakni sebagai sutradara sekaligus pemain. Sungguh memerankan dua tugas itu tidak mudah, bahkan sulit.

Kesulitannya yang pertama terletak pada saat mengontrol dirinya sebagai pemain, sedangkan yang kedua pada saat mengontrol visualisasi pertunjukan secara keseluruhan, termasuk elemen-elemen pendukung pertunjukan lain seperti musik.

Namun Pola mampu menjalankan tugasnya itu dengan begitu baik, sehingga pertunjukan Barabah yang naskahnya ditulis oleh sastrawan besar Indonesia, Motinggo Busye, enak ditonton dan bahkan layak diparesiasi. Padahal naskah ini tergolong naskah yang berat. Apalagi bagi para aktor dan aktris pemula.

Pemain lain dalam pertunjukan ini Hanipah (Barabah), Nyai Rabiah (Hilada Margita), Zaitun (Febri Sukma), Ntin (Siti Nur Azqiyah), Ntun (Sri Darmayanti), Maryati (Fatimatu Zahra), Meneer (Mutia Aprianti), dan Pengawal (Fajri Wahyu), mampu menjaga permainan dengan baik. Mereka juga bermain kompak.

Di mata saya, Teater Benteng bisa meraih yang terbaik dalam beberapa katagori Fesdrak ke-6 FKIP UMT ini. Tentu saja asal penilaian semua jurinya jeli dan objektif. Apakah itu bisa? Entahlah, karena juri punya kuasa dan kepetusannya tidak bisa diganggu gugat.(bud)

Komentar Anda

comments


Subscribe to our RSS Feed! Follow us on Facebook! Follow us on Twitter! Visit our LinkedIn Profile!