PKS, Layu Sebelum Perang

Diterbitkan  Selasa, 02 / 08 / 2016 9:13 - Berita Ini Sudah :  849 Dilihat

pks lemah

 

HAMPIR dipastikan PKS tidak mengusung Banten 1 pada Pilgub 2017. Militansi untuk memenangkan kader jagoannya nyaris tak terlihat. Tidak ada lagi pasangan “kuda hitam” seperti pada Pilgub sebelumnya. PKS layu sebelum perang.

Kemanakah jiwa petarung PKS? Dua Pilgub sebelumnya PKS selalu mengusung kader internal. Di Pilgub 2006, kader PKS Zulkieflimansyah dipasangkan dengan Marrisa Haqque diusung melawan Ratu Atut Chosiyah.

Lalu Pilgub 2012, PKS menawarkan Jazuli Juwaini-Makmun Muzakki untuk bertarung dengan musuh yang sama. Meski selalu kandas, setidaknya jiwa petarung PKS sangat melekat di hati masyarakat dengan menawarkan pilihan lain untuk warga Banten.

Di awal tahun lalu, PKS sempat membuat kesepakatan koalisi dengan Gerindra. PKS yang memiliki 8 kursi DPRD Banten resmi berkoalisi dengan Gerindra yang memiliki 10 kursi. Dengan jumlah 18 kursi, koalisi ini sudah cukup untuk mengusung pasangan. Meski belum menyebut siapa calon yang diusung, namun saat itu, antara PKS dan Gerindra tetap ngotot bakal mendorong kader internal mereka.

Kubu PKS mengajukan nama mantan Menteri Pertanian Anton Apriyantono, sedangkan di kubu Gerindra menyodorkan nama Ketua DPD Gerindra Banten Budi Heryadi.

Seiring dengan kian mendekatnya masa pencalonan, koalisi yang dibangun hanya tinggal “secarik kertas kenangan”. Sebab di belakang, PKS seakan “selingkuh” dari Gerindra dengan melakukan komunikasi intensif dengan partai lain, termasuk dengan Partai Demokrat yang akan mengusung Wahidin Halim sebagai Banten 1. Isu terbaru, PKS bersama Golkar malah siap bergabung dengan Demokrat untuk mendukung WH.

Apakah PKS meninggalkan Gerindra? Dalam suatu kesempatan, Ketua DPD Gerindra Banten Budi Heryadi tidak merasa diselingkuhi oleh PKS. Apa yang dilakukan PKS, sah-sah saja. Karena meski secara parpol berkoalisi, namun tidak ada kesepakatan hitam di atas putih mengenai calon yang akan diusung.

Geliat PKS yang gencar menawarkan diri ke parpol bisa dimaklumi. Pertama, PKS di Banten tidak memiliki kader mumpuni yang bisa ditawarkan kepada masyarakat. Menyodorkan nama mantan Menteri Pertanian Anton Apriyantono dianggap belum bisa menandingi kekuatan Rano maupun Wahidin.

Kedua, posisi tawar PKS untuk mengusung kader sendiri tidak mencukupi. Saat ini PKS hanya memiliki 8 kursi di DPRD Banten. Bandingkan dengan Pilgub 2006 dan 2012, di mana PKS punya 11 kursi. Ketika Pilgub waktu itu, dengan 11 kursi di tangan, PKS dengan mudah mencari teman koalisi.

Apalagi saat itu – sebelum digerus kasus korupsi impor daging sapi – PKS dikenal sebagai partai militan yang terus berjuang tanpa menyerah. Di sejumlah pilkada, PKS maju mengusung calon internal.

Namun, seiring pengurus DPP PKS tersangkut kasus hukum, jumlah suara PKS terus merosot. Singkat kata, tidak ada lagi posisi tawar menarik di kubu PKS. PKS kini harus rela menjadi partai pendukung, bukan lagi pengusung. (*/tim rakyat merdeka group)

Komentar Anda

comments


Subscribe to our RSS Feed! Follow us on Facebook! Follow us on Twitter! Visit our LinkedIn Profile!