Dari Sasana Kecil nan Pengap, 3 Menit Kunci Lawan


Pegulat Kakak Beradik Raih Emas PON XIX Jabar

Diterbitkan  Rabu, 28 / 09 / 2016 9:45 - Berita Ini Sudah :  984 Dilihat

BERKIBAR. Dua pegulat Banten asal Kota Serang yang merupakan kakak beradik, Desi Shinta dan Aji Hakiki berfoto bersama usai pengalungan medali emas PON XIX Jabar,kemarin.

BERKIBAR. Dua pegulat Banten asal Kota Serang yang merupakan kakak beradik, Desi Shinta dan Aji Hakiki berfoto bersama usai pengalungan medali emas PON XIX Jabar,kemarin.

Pada ajang Pekan Olahraga Nasional (PON) XIX Jawa Barat (Jabar), dua pegulat Banten yang merupakan kakak adik mampu menggondol emas. Sang kakak, Desi Shinta berlaga di kelas 69 kilogram gaya bebas dan adiknya, Aji Hakiki bertanding di kelas 65 kilogram. Berikut laporannya?

ARIF HAMDI-Bandung

Kemarin, langit Kota Bandung nampak mendung. Namun suasana GOR Saparua tetap panas dipenuhi sorak-sorai penonton.

Di atas matras, Aji Hakiki berusaha mengejar asa untuk meraih emas di pesta olahraga terbesar tanah air ini. Ia pun sedikit memiliki beban, dimana ingin berusaha mengikuti prestasi kakaknya yang lebih dulu meraih medali emas di kelas 69 kilogram gaya bebas putri.

Aji Hakiki dengan pecaya diri menghadapi M Fuad asal Kalimantan Selatan yang memiliki pelatih dari Bulgaria dan segudang pengalaman latihan di luar negeri. Tapi track record yang dimiliki lawan tidak membuat mental bertanding Aji Hakiki drop.

Maklum, mental Aji Hakiki dan Desi Shinta jadi sorotan, karena hanya berlatih di Sasana Satria yang berlokasi di Stadion Maulana Yusuf, Ciceri Kota Serang. Tempat tersebut tidak terlalu besar karena hanya memiliki ukuran 8×4 meter dan sangat panas dan pengap.

Di awal-awal pertandingan, Aji kecolongan dua poin. Lawan begitu agresif untuk mencoba mengalahkannya. Beruntung Aji mampu tampil tenang dan sabar.

Setelah itu, hanya butuh waktu tiga menit bagi Aji untuk mengunci pegulat Kalimantan Selatan itu dan meraih kemenangan mutlak atau biasa disebut dengan ‘tus’. Usai menang, Aji pun tak mampu menyembunyikan kegembiraanya. Aji sampai menangis tak henti-hentinya.

Ia mampu membuktikan bahwa pemenang itu tidak ada istilahnya punya pelatih hebat dari luar negeri dan berlatih di negara orang. Dari sasana kecil yang ada di Kota Serang pun bisa lahir sang juara.

“Saya senang sekali bisa membuktikannya. Berkat perjuangan keras saya dan tak peduli siapa lawan serta latihannya dimana, saya bisa mempersembahkan medali emas bagi Banten,” papar Aji dengan mata berkaca-kaca seusai bertanding.

Aji sendiri mengaku sangat gembira bisa mengikuti jejak sang kakak yang juga memberikan medali emas untuk Banten. Terlebih, bisa melampaui raihan medali kakak prianya Abid Dasuki yang pernah mempersembahkan keping perunggu.

Sedangkan bagi kakaknya, Desi Shinta, capaian dirinya dan adiknya tidaklah terpikirkan sebelumnya. Sejak awal, dirinya dan Aji hanya fokus berlatih di sasana sumpek nan pengap dan berlatih tanpa kenal lelah.

Berkat perjuangan yang tak patang menyerah dan mengeluh, Desi percaya hal itu mampu membentuk mental yang tangguh untuk dirinya dan Aji. Terbukti, di arena PON XIX kali ini, mereka jadi yang terbaik di masing-masing kelas.

“Syukur Alhamdulillah, kami bisa memberikan yang terbaik bagi daerah kami. Suatu kebanggan tersendiri bisa mengibarkan bendera Banten di tanah legenda,” kata Desi.

Tak hanya itu, wanita kelahiran Serang, 7 April 1995 silam itu menyampaikan kemenangan dirinya dan adiknya tak luput peran dari orangtua mereka yakni Sohib Suhata dan alharmumah Maimunah yang mendukung penuh apa yang mereka lakukan di cabor gulat.

Terlebih sang ayah, Sohib Suhata sempat menengok dan menyaksikan pertandingan mereka. “Ayah terus memberikan support tak henti-hentinya. Alhamdulillah, kami bisa membalasnya dengan prestasi,” tutupnya.(*)

Komentar Anda

comments