BNN Waspadai Narkoba Jenis Baru


Antisipasi Peredaran Krokodil dan Flakka

Diterbitkan  Jumat, 30 / 09 / 2016 12:30 - Berita Ini Sudah :  784 Dilihat

ILUSTRASI (NET)

ILUSTRASI (NET)

SETU-Dua narkoba jenis baru yakni, Krokodile dan Flakka berpotensi beredar di Kota Tangsel. Aparat Badan Narkotika Nasional (BNN) sigap untuk mendeteksi narkotika paling ganas tersebut.

Krokodil berasal dari Rusia. Narkotika satu ini berefek samping sangat buruk karena narkotika ini menyebabkan daging sang pengguna membusuk. Sedangkan, Flakka bentuknya seperti kokain mengandung senyawa kimia yang disebut MDPV, bahan utama pembuat garam mandi.

Senyawa kimia ini menstimulasi bagian otak yang mengatur mood, hormon dopamin, dan serotonin.

Kasi Rehabilitasi dan Pemberdayaan Masyarakat BNN Kota Tangsel, Sony Gunawan mengungkapkan BNN pusat pernah merilis beberapa jenis narkotika baru. Untuk itu pihaknya di wilayah sedang mewaspadai jika ada memang yang beredar di tengah masyarakat.

“BNN Pusat pernah merilis jenis narkoba baru, namun memang jenisnya belum pernah ditemukan maka dari itu kami pun sedang menelusuri apakah ada di Tangsel atau tidak jenis Flakka dan Krokodil ini,” katanya.

Sony menerangkan pihaknya terus mencari tahu informasi soal Flakka dan Krokodil ini melalui jejaring internet. “Penggunanya memang banyak di luar negeri, tapi imbauan dari BNN Pusat tetap akan kami sikapi, bisa saja narkoba jenis ini masuk ke Kota Tangsel,” terangnya.

Kawasan Tangsel selama ini didominasi peredaran narkoba mencakup tiga jenis obat terlarang seperti ganja, sabu dan inex sebagai obat penenang. “Di Tangsel berdasarkan operasi lapangan mereka yang kedapatan menggunakan dari hasil tes urine dan lain-lain didominasi sabu dan ganja.

Ganja adalah para pelajar seperti anak sekolah dan para mahasiswa sedangkan sabu adalah para pekerja,” jelas Sony.

Sementara, jenis ekstasi jarang ditemukan untuk di wilayah Tangsel. Jika ada pemakain yang tertangkap saat tes urine biasanya ketika mendapatkan barang terlarang itu diperoleh dari luar Tangsel seperti Jakarta dan kota-kota besar lainnya.

“Semua jenis narkoba itu ada pangsa pasarnya tersendiri. Jenis ekstasi itu orang-orang berduit sehingga tidak mungkin digunakan oleh pelajar dan mahasiswa. Sepanjang yang kami temukan jika ada yang terjaring mereka mengaku mendapatkannya bukan di Tangsel tapi di Jakarta,” bebernya.

Sepanjang 2014-2016 BNN Tangsel telah menangani kasus narkoba dengan proses rehabilitasi di antaranya rawat Inap 11 kasus, rawat jalan 137 Kasus dan proses hukum 8 kasus. Telah melakuakn sosialisasi kepada mahasiswa baik negeri dan swasta sebanyak 1.304 orang dan pelajar 8.924 orang.

“Dari data yang ada pengguna narkoba lebih banyak dari kaum laki-laki sebanyak 75 persen sedangkan wanita 25 persen. Laki-laki tingkat penasarannya tinggi apalagi anak-anak remaja yang mudah tergiur dari ajakan,” tambah Sony.

Kepala BNN Kota Tangsel, AKBP Heri Istu mengungkapkan kota hasil pemekaran dari Kabupaten Tangerang ini masih jadi zona merah peredaran narkoba. BNN mengajak masyarakat semua unsur untuk mengawasi lingkungan masing-masing dengan mendirikan Satgas anti narkoba agar bisa melakukan komunikasi dengan BNN dan pihak kepolisian.

“Keganasan narkoba ini merejalela tidak kenal usia dan siapa saja. Semua orang bisa terkena narkoba, maka dari itu perlu ada satu upaya bagaimana jangan sampai lingkungan sekitar menjadi tempat peredaran nakroba. Mari bersama-sama mengawasi lingkungan sekitar,” tuturnya. (din)

Komentar Anda

comments


Subscribe to our RSS Feed! Follow us on Facebook! Follow us on Twitter! Visit our LinkedIn Profile!