Pejabat Tangsel Punguti Sampah Demo

Diterbitkan  Sabtu, 05 / 11 / 2016 15:39 - Berita Ini Sudah :  765 Dilihat

AKSI DAMAI: Badan Musyawarah (BAMUS) kota Tangerang Selatan mengelar aksi damai sebelum bertolak ke Istana Merdeka di Bintaro, Jumat (4/11). Aksi yang di ikuti puluhan anggota Bamus tersebut akan bertolak ke Istana Merdeka Jakarta menuntut agar Gubernur DKI Jakarata Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) mundur dari jabatannya dan tuntutan tentang memproses hukum dan memenjarakan Basuki Tjahaja Purnama, alias Ahok, yang selama ini dituduh telah menistakan agama terkait pengutipan surat Al Maidah ayat 51. DemySanjaya/tangselpos

AKSI DAMAI: Badan Musyawarah (BAMUS) kota Tangerang Selatan mengelar aksi damai sebelum bertolak ke Istana Merdeka di Bintaro, Jumat (4/11). Aksi yang di ikuti puluhan anggota Bamus tersebut akan bertolak ke Istana Merdeka Jakarta menuntut agar Gubernur DKI Jakarata Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) mundur dari jabatannya dan tuntutan tentang memproses hukum dan memenjarakan Basuki Tjahaja Purnama, alias Ahok, yang selama ini dituduh telah menistakan agama terkait pengutipan surat Al Maidah ayat 51. DemySanjaya/tangselpos

JAKARTA-Di tengah kerumunan massa, seorang pejabat Pemkot Tangsel terlihat memunguti sampah dari para demonstran di dekat Masjid Istiqlal, Jakarta, kemarin. Dia adalah Kepala Badan Lingkungan Hidup Daerah (BLHD) Kota Tangsel, Rahmat Salam.

Dari foto pertama yang diterima Tangsel Pos, semalam, Rahmat Salam yang mengenakan peci hitam dan baju putih itu memegang kantong plastik kresek merah yang berisi sampah berupa botol air mineral dan kertas pembungkus makanan.

Ini terlihat di foto pertama sedangkan, pada foto kedua terekam Rahmat berfose dengan beberapa demontrans yang juga ikut memulung sampah.

Ketika dikonfirmasi Tangsel Pos terkait aksinya itu, tak ada jawaban dari ponsel Rahmat Salam. Rahmat diketahui memang bermukim di Jakarta. Setiap hari dia harus bolak-balik Jakarta-Kota Tangsel.

Sementara, pada aksi damai kemarin, ribuan umat muslim dari Kota Tangsel juga ikut berangkat ke Jakarta.

Mereka terdiri dari berbagai elemen seperti, Front Pembela Islam (FPI), Badan Musyawarah (Bamus) Kota Tangsel, Forum Masjid dan Mushola se-BSD (FMMB), Majelis Mujahidin Indonesia (MMI), Majelis Ulama Indonesia (MUI) serta masyarakat lainnya.

Rombongan Bamus Tangsel berkumpul sejak pukul 07.00 WIB di kawasan Bintaro Sektor 7, Kecamatan Pondok Aren. Sebelum diberangtkan melalui Stasiun Pondok Ranji dan Jurangmangu, massa Bamus melalukan orasi.

“Kita adili bagi mereka yang melecehkan Al Quran dan bukan politisasi soal gubernur. Masyarakat harus mampu membedakan kondisi yang ada,” seru Ustad Sholihin, dalam orasinya di hadapan puluhan massa Bamus Tangsel.

Koordinator Seluruh Elemen dari Badan Musyawarah (Bamus) Kota Tangsel, Zulham Firdaus, rombongan yang berangkat ke Jakarta bersama Bamus ini berjumlah sekitar 500 orang.

Mereka diberangkatkan secara bergelombang. “Masing-masing wilayah memberangkatkan satu unit bus sepeda motor dan mobil pribadi,” tuturnya.

Berdasarkan Pantauan Tangsel di Stasiun Jurangmangu, terdapat ratusan jamaah yang sedari pagi sudah berkumpul untuk melakukan pembelian tiket, sebagian besar dari didominasi oleh laki-laki.

Fit Nurliza, anggota Majelis Taklim di Ciputat mengatakan, bahwa keikutsertaannya dalam pada aksi damai 4 November 2016 merupakan panggilan hati sebagai umat muslim yang agamanya dilecehkan oleh Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok.

“Kami berangkat hanya bertiga, dan kami berangkat atas nama masing-masing saja karena terpanggil,”paparnya.

Sedangkan, di Masjid Al Jihad Ciputat terdapat tiga bus yang mengangkut ratusan anggota FPI. Tiga bus lagi dari Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI), dengan jumlah 90 orang, sebagian personelnya adalah perempuan.

Kemudian untuk Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) cabang Ciputat dan Cirendeu terdapat 3 bus. Sebelum berangkat para aktivis KAMMI dan HMI melakukan orasi terlebih dahulu di depan halte kampus Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

Kapolres Tangsel AKBP Ayi Supardan mengungkapkan, pendemo dari Kota Tangsel berjumlah 1.762 orang. “Massa berangkat tidak serentak, dengan waktu berbeda-beda dan mereka terpencar-pencar dari masing-masing,” katanya.

Ayi menerangkan, pemberangkatan terbanyak dilakukan dari Sasiun Rawabuntu, Serpong. “Pengamanan kita konsentrasikan sejak pagi setelah apel, kemudian setelah Jumatan sampai sore kepulangan mereka,” paparnya.

Polisi Tembakan Gas Air Mata

Kericuhan pecah antara massa pendemo dengan pihak keamanan di depan Istana Merdeka, Jakarta Pusat. 1 Orang diamankan polisi dari kericuhan ini.

Awalnya massa dari FPI membuat barikade untuk melindungi petugas polisi dari serangan massa lainnya. Akibatnya, bentrokan antara massa dengan FPI tak terelakkan. Akibat kejadian ini, polisi kemudian menembakkan gas air mata.

Seorang panglima laskar FPI terdengar meneriakkan agar anggotanya tidak terpancing kericuhan. “Hati-hati provokasi!” teriaknya.

Polisi kemudian menahan satu orang pria dari kericuhan ini. Diketahui, pria yang ditahan tersebut beratribut FPI. Bahkan, beberapa anggota polisi sempat tersulut emosi dan hendak memukul pria tersebut, namun dicegah oleh polisi lainnya.

Seorang pemimpin Laskar FPUI kemudian berteriak agar tidak menahan anggotanya tersebut.

Namun, massa kemudian berbalik menyerang polisi. Bahkan massa berhasil ‘memukul’ mundur barikade polisi. “Jangan pukul, kami justru membantu. Itu Laskar FPI. Yang ricuh bukan dari kami,” teriaknya.

Hingga pukuk 19.55 WIB kericuhan masih terjadi. Letusan demi letusan gas air mata masih terdengar.(din/fit/dtc)

Komentar Anda

comments


Subscribe to our RSS Feed! Follow us on Facebook! Follow us on Twitter! Visit our LinkedIn Profile!