“Jangan Sampai Kemanusiaan Kita Dikalahkan Syahwat Kekuasaan”


Cagub Rano Karno Diam-diam Punya Anak Angkat Baru

Diterbitkan  Kamis, 24 / 11 / 2016 8:58 - Berita Ini Sudah :  1007 Dilihat

PEDULI. Calon Gubernur Banten, Rano Karno ketika mengunjungi Siti Fadilah, siswi SMP Mathla’ul Anwar di Rangkasbitung, Kabupaten Lebak yang mengalami pembusukan di kakinya akibat kecelakaan.

PEDULI. Calon Gubernur Banten, Rano Karno ketika mengunjungi Siti Fadilah, siswi SMP Mathla’ul Anwar di Rangkasbitung, Kabupaten Lebak yang mengalami pembusukan di kakinya akibat kecelakaan.

Namanya Siti Fadilah, siswi SMP Mathla’ul Anwar di Rangkasbitung, Kabupaten Lebak. Gadis14 tahun ini diangkat menjadi anak angkat calon gubernur Banten Rano Karno. Bagaimana kisahnya?

BNN-SERANG

SUATU hari, sekitar delapan bulan yang silam Siti Fadilah mengendarai motornya dari rumah menuju sekolah. Siti perlahan menepi menyusuri tikungan dari arah rumahnya di Kampung Nangklak, Desa Jagabaya, Kecamatan Warunggunung, Kabupaten Lebak.

Brak!!! Tak diduga. Sekonyong-konyong angkot menyasar motornya hingga Siti terpelanting. Musibah tak terhindar. Apa daya, bencana itu tak bisa ia tepis.

Peristiwa sekitar delapan bulan lalu itu menyisakan luka mendalam. Kedua kakinya patah. Orangtua Siti telah berjuang sekuat tenaga mencari jalan terbaik untuk merawat dan mengobati Siti. Dengan kondisi ekonomi yang serba terbatas, Siti hanya bisa tergolek lesu di kursi roda.

Perlahan kondisinya kian memburuk. Kedua kakinya mengalami pembusukan. Hingga di suatu hari, satu tungkai kakinya terlepas sendiri akibat pembusukan yang terjadi. Kondisi ekonomi yang sulit membuat keluarga hanya merawat Siti di rumah.

Siti tak bisa melanjutkan sekolah. Perlahan ia mengubur semua mimpi, cita-cita, dan harapan. Ia menyaksikan sendiri kakinya remuk dan terus membusuk. Sementara satu tungkai kakinya terputus sendiri, kaki lainnya mengalami situasi serupa dengan luka terbuka yang terus merambat.

Hingga tiba di suatu ketika. Tuhan telah mempertemukan Siti Fadilah dengan Rano Karno pada medio Oktober lalu.

Menyaksikan penderitaan Siti dan rasa sakit yang harus dirasakan selama berbulan-bulan, Rano serta merta meminta izin keluarga Siti untuk membawanya ke rumah sakit. Alhasil, kaki kiri Siti diputuskan harus diamputasi. Sementara kaki kanannya mesti ditanam pen.

Sudah berkali-kali Rano Karno menjenguk ke rumah sakit dan memberi motivasi agar Siti bisa bangkit dari situasi terpuruk. Kepercayaan dirinya mulai kembali tumbuh. Harapan yang semula sirna kini bersemi kembali. Biaya operasi tak lagi menjadi pikiran Siti dan keluarganya.

Rano Karno mengambil alih tanggung jawab biaya perawatan selama Siti menjalani operasi di rumah sakit hingga beberapa bulan ke depan Siti menjalani physiotherapy. Termasuk membiayai kehidupan sehari-hari bagi orangtua Siti yang tak bisa bekerja karena ikut menunggu Siti di rumah sakit.

Wahdi, ayah kandung Siti Fadilah, tak henti-hentinya bersyukur kepada Allah. “Dengan keterbatasan kami, Alhamdulillah, kami beribu ribu terimakasih. Kami tidak tahu bagaimana membalasnya.” jelas Wahdi.

Dalam satu kunjungannya ke rumah sakit, di hadapan dokter ortophedi yang menangani Siti, Rano meminta izin pada Wahdi untuk mengangkat Siti sebagai anaknya. Wahdi yang hanya bisa menangis ketika itu tak mampu berkata-kata.

Sikap Rano ini mendapat dukungan dari Dewi Indriati, sang istri, dan kedua anaknya, Raka dan Dea. “Mereka bertiga yang ikut mendorong saya untuk meminta izin pada keluarga Siti agar Siti menjadi bagian dari keluarga besar kami. Saya ingin merawat Siti Fadilah sebagaimana saya telah merawat Raka dan Dea,” jelas Rano.

Langkah Rano yang acap menjenguk Siti ke rumah sakit bukannya tanpa risiko. Rano yang membiayai operasi dan biaya hidup untuk keluarga Siti selama menjalani operasi justru dipolitisir oleh sementara pihak.

“Anda akan bisa merasakan kebahagiaan yang tak terhingga saat melihat seseorang yang nyaris kehilangan harapan bisa kembali bangkit. Kalau sampai pilihan saya mengangkat Siti sebagai anak harus membawa konsekuensi saya kehilangan kesempatan sebagai calon gubernur, maka biarlah saya kehilangan kesempatan itu.

Saya ikhlaskan. Yang penting saya masih diberi kesempatan untuk berbagi kebahagiaan dengan orang-orang di sekitar saya. Biarkanlah ini menjadi ladang ibadah saya, kewajiban fardhu kifayah yang saya panggul di atas pundak saya,” jelas Rano.

Sementara Wahdi, ayah Siti, mengaku sedih saat sejumlah pihak mempolitisir langkah Rano membantu operasi dan biaya hidup untuk Siti dan keluarganya. “Pak Rano tidak pernah kampanye kalau ketemu kami.

Tidak pernah ngomong soal pemilihan gubernur. Kenapa Pak Rano tidak boleh membantu kami dan tidak boleh mengangkat Siti sebagai anak?” ujar Wahdi.

Setelah beberapa kali Rano menjenguk Siti di rumah sakit sebelum dan pascaoperasi, baru kali ini kunjungannya dipersoalkan sejumlah kalangan. Rano secara terbuka mengaku membantu biaya operasi Siti dan biaya hidup untuk keluarganya. Di banyak kunjungan itu Rano juga kerap membawa buah-buahan untuk Siti dan keluarga.

“Perjuangan meraih kekuasaan adalah perjuangan mewujudkan cita-cita kemanusiaan. Jangan sampai syahwat politik membutakan hati dan membui nurani kemanusiaan kita. Bagi saya, Siti adalah ujian kepedulian kita pada sesama. Terserah orang lain mau menilai apa,” tandas Rano. (*/dm)

Komentar Anda

comments