Kali Pertama Lihat Muka Wasit Diinjak Pemain


Kesaksian Ismail, Asisten Wasit di Laga Horor Liga Nusantara

Diterbitkan  Jumat, 02 / 12 / 2016 1:36 - Berita Ini Sudah :  872 Dilihat

wasit-ismail-marzuji

Kasus penganiayaan wasit kembali terjadi. Kali ini dialami oleh Cholid Dalyanto asal Yogyakarta di Liga Nusantara (Linus) 2016 pada saat pertandingan Persiku Kudus melawan PS Bengkulu Tengah (PS Benteng), Jumat lalu (25/11) di Stadion Wergu Wetan.

Selain Cholid, ada dua wasit asal Kota Tangsel yang bertugas di laga itu yakni, Ismail Marzuki dan Marjuki.

LANI PAHRUDIN-PAMULANG

Pria bertubuh kekar ini masih ingat betul kejadian pada Jumat itu. Ya, Ismail Marjuki memang bertugas sebagai asisten wasit 1 membantu wasit Cholid. Sedangkan, wasit lainnya dari Kota Tangsel yakni, Marjuki menjadi wasit cadangan.

Ismail mencoba menceritakan kronologis laga horor tersebut. Berawal dari pemain PS Benteng, Gatut Bekti yang mendapat kartu kuning kedua dan langsung mendapat kartu merah.

Keluarnya kartu merah ketika PS Benteng kalah 2-0, membuat para pemain PS Benteng tak terima dan melancarkan protes yang berlebihan serta terjadi pendorongan oleh para pemain PS Benteng kepada wasit Cholid.

Ismail Marzuki dan asisten wasit 2 Sriyanto yang melihat Cholid diperlakukan seperti itu, langsung bergegas membantu. Ketika, Cholid yang hilang keseimbangan akibat didorong, pemain cadangan PS Benteng bernomor punggung 14, Budi Eka Putra langsung berlari dan menginjak wajah Cholid yang mengakibatkan memar pada wajah Cholid.

Akibat ulah ini, lima pemain PS Benteng dihadiahi lima kartu merah, karena dianggap protes berlebihan dan terjadi penginjakan wasit.

Menurut, Ismail, ketika terjadi penginjakan terhadap wasit, suasana langsung ricuh. Para penonton dan pihak keamanan langsung turun ke lapangan. Budi yang menginjak wajah wasit pun mendapat luka akibat dipukuli penonton.

“Waktu itu, saya lagi menenangkan pemain PS Benteng yang lain bersama dengan asisten wasit 2. Pas, ada kejadian penginjakan wajah kepada rekan kami, suasana langsung ricuh para penonton dan aparat langsung turun ke lapangan,” terang Ismail kepada Tangsel Pos.

Laga Persiku melawan PS Benteng sendiri terus dilanjutkan dengan tujuh pemain PS Benteng serta masih dipimpin oleh Cholid. Dan, pada menit ke-79 laga harus dihentikan dengan kedudukan 4-0 salah satu pemain PS Benteng tak bisa melanjutkan pertandingan akibat cedera.

“Di menit 79, salah satu pemain PS Benteng tak bisa melanjutkan pertandingan dan pertandingan pun harus berakhir karena tak bisa PS Benteng melanjutkan dengan enam pemain,” paparnya.

Selepas pertandingan, para aparat pun langsung mengawal wasit yang bertugas agar tidak terjadi kejadian yang sama dan suasana kembali normal.

Ismail yang bertempat tinggal di Jalan Mujair Raya Pipa Gas, RT 01/04 No 153, Kelurahan Bambu Apus, Kecamatan Pamulang ini menyanyangkan penganiyaan yang terjadi kepada rekannya.

Meski, Komdis sudah menjatuhi hukuman 2 tahun kepada dua pemain PS Benteng yakni Budi Eka dan Doni Setiawan, ia mengatakan hukuman tersebut masih belum pantas.

“Saya dan teman-teman, sangat menyayangkan kejadian seperti ini. Ini sudah bisa dibilang sebagai kasus penganiayaan, hukuman 2 tahun larangan bermain itu masih belum layak,” ujar Ismail.

Ismail dan Marjuki berangkat ke Kudus, Jawa Tengah pada Kamis (17/11) akan memimpin pertandingan Linus dan Suratin, yang dimulai pada 19-26 November. Ismail menambahkan, kejadian seperti ini merupakan pertama kali dalam karirnya sejak tahun 2010 dan berharap kejadian seperti ini tak terulang kembali.

“Saya pernah tugas di ISC A dan ISC B, baru kali ini ngalamin kejadian seperti ini. Semoga, ini menjadi kasus terakhir dan jangan ada lagi penganiayaan oleh wasit,” pukas Ismail.(*)

Komentar Anda

comments


Subscribe to our RSS Feed! Follow us on Facebook! Follow us on Twitter! Visit our LinkedIn Profile!