Oleh Budi Sabarudin


Aceh Kembali Menangis

Diterbitkan  Jumat, 09 / 12 / 2016 23:32 - Berita Ini Sudah :  849 Dilihat

ILUSTRASI (NET)

ILUSTRASI (NET)

Negeri ini kembali menangis sekaligus berduka setelah diguncang bencana alam. Kali ini berupa gempa 6,5 skala richter yang menimpa Kabupaten Pidie Jaya, Aceh, Rabu (7/12) sekitar pukul 05.00 waktu setempat.

Hingga Jumat (9/12/2016), dalam peristiwa itu ada 100 orang meninggal dunia, dengan rincian dari Pidie Jaya sebanyak 88 jiwa, Kabupaten Bireuen 2, dan Kabupaten Pidie 2, sedangkan korban luka berjumlah 589 jiwa meliputi luka berat 127 dan luka ringan 462 orang.

Gempa dengan kekuatan 6,5 skala rihcter itu memang dahsyat, hingga menghancurkan atau meluluhlantakan sejumlah bangunan seperti rumah, kantor, masjid, dan bangunan-bangunan permanen lainnya secara tragis dan dramatis.

Menurut Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), seperti disampaikan kepada sejumlah wartawan dan dimuat di beberapa media masa, tercatat ada sekitar 23.231 warga Aceh yang telah diungsikan.

Gempa itu tentu saja membuka kesedihan dan luka lama masyarakat Aceh, karena tahun 2004 yang lalu, Aceh juga menangis karena diguncang tsunami yang juga sangat dahsyat. Peristiwa itu juga telah menelan banyak korban dan menghancurkan begitu banyak infrastruktur dan harta benda.

Dan sampai saat ini, sudah ada 2.500 relawan di sana. Mereka berjibaku menolong para korban, termasuk juga warga yang masih hidup yang terhimpit dan tertimpa reruntuhan bangunan.

Berbagai elemen juga mengirimkan bantuan lainnya yang sangat dibutuhkan oleh para korban gempa, seperti kebutuhan-kebutuhan logistik, berbagai pakaiin dan selimut serta tenda-tenda untuk pengungsian.

Harus diakui, negeri memang rawan dengan berbagai bencana, seperti sebelumnya warga Garut yang diterjang banjir bandang. Lagi-lagi peristiwa itu menelan banyak korban jiwa dan menghancurkan infrastruktur.

Hikmah yang bisa dipetik dari beragam bencana itu, sudah saatnya pemerintah harus lebih serius mengelola dan mengurus masyarakat, bangsa, dan negara, termasuk juga sumber daya alam yang ada di negeri ini.

Ke depan, untuk menyelamatkan bangsa dari amukan bencana alam misalnya, sudah saatnya memanfaatkan teknologi canggih yang mampu memberikan sinyal atau tanda-tanda bencana, sehingga masyarakat bisa segera mengantisipasi dan memperkecil korban jiwa.

Juga perilaku sejumlah pejabat yang selalu haus ingin memperkaya diri sendiri dengan cara-cara korupsi dan perilaku yang tidak terpuji lainnya seperti suap dan pungli, tentu harus segera disudahi, karena pemerintah memiliki pekerjaan besar yang tidak habis-habisnya, yakni mengabdi kepada rakyat. (*)

Komentar Anda

comments


Subscribe to our RSS Feed! Follow us on Facebook! Follow us on Twitter! Visit our LinkedIn Profile!