Sekeluarga Terserang Cikungunya

Diterbitkan  Rabu, 21 / 12 / 2016 10:10 - Berita Ini Sudah :  543 Dilihat

Izzatusholekha Anggota Panwaslu Kota Tangsel

Izzatusholekha (Anggota Panwaslu Kota Tangsel)

Kerabat dan keluarga merupakan pertalian terdekat dalam kehidupan. Jika bagian dari kerabat tertimpa musibah, maka pertalian kekerabatan dan saudaralah yang dapat menolong.
Demikian tersebut dikatakan Anggota Panitia Pengawas Pemilu (Panwaslu) Kota Tangsel Izzatusholekha.

Banginya seseorang tidak mungkin mampu bertahan hidup sendiri, tetapi lingkungan sekitar merupakan saudara atau kerabat.

Dirinya memiliki pengalaman atau kisah tidak pernah dia lupakan terkait kekerabatan tersebut. Saat itu Izza beserta keluarga kecilnya baru pertama kali merantau ke Riau pada 2004 silam. Suaminya mendapatkan tugas ke Riau untuk waktu yang cukup panjang, sehingga Izza dan anaknya harus ikut sang suami ke Riau.

Namun baru saja sampai di Riau, nasib malang menimpah keluarganya. Tanpa terkecuali sekalipun, semua anggota keluarganya terkena penyakit Cikungunya yang akibatnya harus mengalamai sakit luar biasa ketika itu.

“Waktu itu kami baru sampai, dan langsung mendapat musibah. Semuanya kena cikungunya. Dan saat itu kami belum kenal siapapun. Artinya tetangga pun kami belum ada yang kenal,” paparnya.

Saat itu pula, Izza merasakan betapa bingungnya ketika sedang ada musibah namun belum ada yang kenal satu pun.

“Akhirnya kami ke rumah sakit sendiri dengan kondisi masih sakit parah, dan benar-benar terasa sekali kalau ketika itu belum ada yang bisa menolong, karena memang kami baru saja tiba di Riau jadi belum kenal tetangga, dan fasilitas komunikasi belum memadai, ” paparnya.

Bahkan ketika Izza mengatakan sakit yang diderita dia sekeluarga benar-benar parah. Tubuh nyaris tidak bisa digerakan dengan serangan Cikungunya tersebut, sehingga mereka merasakan kesulitan.

Kejadian tersebut bagi Izza benar-benar bermakna. Karena saat itu seminggu pertama ketika diserang cikungunya dia hanya bertahan di rumah saja, dan setelah seminggu merasa bisa jalan akhirnya mereka langsung ke rumah sakit.

“Saat itu bertepatan juga Idul Firti dengan kondisi masih sakit, akhirnya kami hanya mengandalkan persedian apa adanya, karena memang banyak warung yang tutup ketika itu. Sementara saya yang harus melewati perawatan paling lama, karena saat itu kondisi saya sedang menyusui anak saya yang masih bayi,” ungkapnya.

Peristiwa tersebut memang menjadi pengalaman hidup dan banyak hikmah agar terus bersilaturahmi dan memperbanyak teman.

“Sejak kejadian itu kami mencoba untuk memperbanyak silaturahmi dan memperbanyak teman, dengan bergaul dan banyak teman saya benar-benar merasakan kita bisa saling berbagi, dan terasa juga banyak manfaat kedalam hidup kami,” ujarnya.

Pelajaran lain yang dia dapatkan juga ialah harus benar-benar memberikan manfaat untuk orang lain juga. “Tidak hanya sekedar menerima, saya juga belajar. Artinya menjadi bermanfaat bagi orang lain. Hingga sejak saat itulah saya selalu memegang moto hidup bahwa sebaik-baiknya orang adalah yang bermanfaat bagi orang lain,” pungkasnya. (dra)

Komentar Anda

comments


Subscribe to our RSS Feed! Follow us on Facebook! Follow us on Twitter! Visit our LinkedIn Profile!