Oleh Budi Sabarudin


Hari Ibu dan Tubuh di Ruang Publik

Diterbitkan  Jumat, 23 / 12 / 2016 21:13 - Berita Ini Sudah :  648 Dilihat

ILUSTRASI (NET)

ILUSTRASI (NET)

Kamis (22/12/2016) yang baru lalu menjadi momen yang sangat spesial bagi saya. Sebab pada hari dan tanggal itu, banyak sekali teman-teman saya yang mengingatkan tentang “Hari Ibu” melalui whatsApp.

Selain itu juga banyak sekali tulisan-tulisan ringan dan pendek, yang isinya memuji-muji dan memuliakan keberadaan dan kehadiran ibu, baik dalam kehidupan keluarga maupun perannya untuk kemajuan bangsa dan negara.

Dari sekian banyak tulisan ringan dan pendek itu, ada satu kalimat yang sangat menarik, yang bunyinya seperti ini, “Ibu yang baik akan melahirkan anak-anak yang baik, generasi yang baik, dan kehidupan yang baik.”

Begitulah, ibu harus dan bahkan dituntut menjelma menjadi orang baik, entah itu dalam terminologi etika dan moral maupun agama. Sebab, ibu akan menjadi pusat nilai-nilai bagi anak-anaknya di sebuah keluarga.

Namun jangan lupa, dalam kehidupan sosial pun seorang ibu tetap harus dan dituntut menjadi orang baik, dengan tetap menjaga nilai-nilai etika, moral, dan agamanya juga, agar menjadi panutan dan mendapat penghargaan dan kemuliaan dari kehidupan sosial itu sendiri.

Tentu saja menghargai dan memuliakan ibu itu sama halnya dengan menghargai dan memuliakan semua kaum perempuan dalam kehidupan yang luas ini, mengingat perempuan akan menjadi seorang ibu juga.

Jadi, siapa pun yang mempermainkan dan melakukan kekerasan terhadap perempuan sesungguhnya sama halnya dengan melukai dan mencabik-cabik harga diri serta tidak menghormati kedudukan kaum ibu.

Namun faktanya saat ini, banyak sekali kaum perempuan yang tidak mampu menempatkan dirinya pada posisinya yang terhormat. Sebut saja misalnya perempuan yang senang memamerkan tubuhnya di ruang-ruang publik.

Padahal tubuh perempuan itu, sekalipun sudah ditutup sedemikian rapat, maaf biasanya tetap saja memunculkan imajinasi lain dari kaum laki-laki. Apalagi jika tubuh itu dipamerkan sedemikian rupa di ruang-ruang publik.

Tubuh perempuan yang dipamerkan dengan cara seperti itu tentu saja akan mengundang bayak risiko bagi perempuan itu sendiri. Sebut misalnya risiko kekerasaan fisik dan bahasa maupun kekerasan seksual.

Bagi saya, dalam momentum Hari Ibu, sudah saatnya semua kaum perempuan harus sadar betapa penting menghargai tubuhnya sendiri. Sebab, selama ruh ada dalam tubuh, walau bagaimana pun tubuh itu harus dimuliakan dan bahkan harus dijaga kebersihan dan kesuciannya. (*)

Komentar Anda

comments


Subscribe to our RSS Feed! Follow us on Facebook! Follow us on Twitter! Visit our LinkedIn Profile!