Pojok Blandongan Budi Sabarudin


Tahun 2017, Eno Parihah, dan Om Telolet Om

Diterbitkan  Jumat, 30 / 12 / 2016 23:34 - Berita Ini Sudah :  518 Dilihat

ILUSTRASI (NET)

Betul, perjalanan satu tahun itu sangat tidak terasa. Waktu berlalu dan melesat seperti mata panah. Buktinya, tiba-tiba saja saya akan memasuki tahun baru. Perasaan semacam ini tidak hanya milik saya sendiri, namun juga dirasakan oleh banyak orang di negeri ini, di dunia ini.

Sekarang, saya hanya bisa mengucapkan selamat tinggal tahun 2016 tanpa harus bersedih, apalagi menangis dengan cara merintih-rintih, dan selamat datang tahun 2017 dengan harapan dan semangat ada perubahan dalam ruang internal pribadi, lingkungan kantor atau pekerjaan, masyarakat, serta bangsa dan negara.

Tentu sepanjang tahun tahun 2016 sudah menjadi prasasti yang akan dan patut dikenang siapa pun, dan dijadikan sebagai medan untuk kontemplasi dan introspeksi, karena ia sudah menjadi sejarah yang begitu banyak meninggalkan catatan, baik yang buruk rupa maupun yang bagus rupa.

Apa sih yang buruk rupa itu yang ada dalam tahun 2016 yang bisa dijadikan cerminan agar kita ini betul-betul menjadi manusia? Saya mencoba mengingat-ngingat kejadian yang berkaitan dengan bobroknya masalah humanisme. Untuk wilayah Kabupaten Tangerang rasanya kasus Eno Parihah dan Nur Atikah patut dijadikan renungan kemanusiaan.

Kasus dua orang perempuan itu memang sangat menyedihkan dan memilukan. Eno Parihah misalnya, ia dibunuh setelah diperkosa para pelaku yang diantaranya masih ada yang berusia remaja di kamar kosnya.

Yang membuat rasa kemanusiaan kita semakin teriris-iris, Eno Parihah dibunuh dengan cara, maaf alat vitalnya ditusuk dengan gagang pacul hingga tembus ke rongga dadanya. Sungguh bejat moral para pelaku itu. Para pelaku adalah manusia-manusia yang berhati binatang.

Demikian juga dengan Nur Atikah. Perempuan cantik itu dibunuh oleh pacarnya sendiri di kamar kosnya, setelah dia meminta dinikahi karena sudah terlanjur mengandung. Tidak hanya dibunuh, Nur Atikah juga dimutilasi oleh pacarnya yang sudah punya istri dan anak itu. Tentu betapa pilu keluarga Nur Atikah menghadapi peristiwa tersebut.

Dua peristiwa itu tentu saja menjadi tragedi besar kemanusiaan di Kabupaten Tangerang, yang seharusnya menjadi pekerjaan rumah bersama, baik pemerintah daerah, masyarakat, dan aparat hukum seperti polisi dan jaksa, bagaimana hal itu agar tidak terulang kembali.

Dalam kontek bangsa dan negara juga, di tahun 2017 ini, para pengusa di tingkat pusat hingga daerah, tak bisa lagi menjalankan roda pemerintahan dengan cara-cara yang biasa, karena bangsa dan negara ini sudah dirongrong narkoba, seks bebas, radikalisme, dan korupsi.

Kalau narkoba, seks bebas, dan radikalisme sudah mengepung kita, lalu sumber daya manusia (SDM) seperti aparat hukumnya bisa dibeli dengan uang, seperti Kasus Kapolsek Pamulang yang tertangkap tangang karena suap kasus narkoba, dan para pejabatnya asyik dan asyik korupsi, sedangkan generasi mudanya tenggelam dalam seks bebas,

narkoba, dan gerakan radikalisme, kemudian Sumber Daya Alam (SDA) banyak yang rusak dan dijual ke pihak-pihak asing, maka tidak terbayangkan bagaimana nasib Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) di masa depan.

Yang jelas kita ini bangsa besar, bukan bangsa kecil dan kerdil lagi. Sejarah menujukan betapa hebatnya bangsa ini. Buktinya, banyak penciptaan budaya dari Sabang sampai Merauke yang luar biasa sebagai hasil pencapaian manusia adilihung yang tak lekang ditelan zaman.

Tapi kalau kita tidak segera sadar dan menyikapi semua persoalan itu dengan cara “Om Telolet Om”, habislah kita.(*)

Komentar Anda

comments


Subscribe to our RSS Feed! Follow us on Facebook! Follow us on Twitter! Visit our LinkedIn Profile!