Wakil Bupati Dituding Langgar Perda

Diterbitkan  Jumat, 20 / 01 / 2017 10:35 - Berita Ini Sudah :  629 Dilihat

ILUSTRASI (NET)

SERANG – Akhir tahun lalu, Wakil Bupati Serang, Pandji Tirtayasa menyatakan akan terus melanjutkan pembangunan Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) Bojongmenteng yang berlokasi di Kecamatan Tunjungteja, Kabupaten Serang.

Kala itu dirinya menyatakan, saat ini pemerintah masih berusaha meyakinkan masyarakat untuk menerima pembangunan TPST, mengingat saat ini ada penolakan yang sangat besar dari masyarakat.

Namun, statemen Pandji dianggap tak masuk akal oleh masyarakat Tunjungteja. Selain karena adanya penolakan warga, Pandji dinilai telah melanggar amanat Perda Provinsi Banten Nomor 4 Tahun 2012, tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Banten 2012-2017.

“Mungkin Pak Pandji gagal paham, dalam lampiran Perda RPJMD Banten 2012-2017 Bab IV poin 4.3.2 disebutkan rencana pembangunan TPSA Bojongmenteng masih perlu dikaji ulang,” kata Sekretaris Front Rakyat Anti Sampah (FRAS) Mulya Nugraha, Kamis (19/1).

Sambung Mulya, ucapan Pandji untuk melanjutkan pembangunan TPST Bojongmenteng dianggap tak layak diucapkan. Karena, jangankan untuk meyakinkan masyarakat, hingga saat ini pengkajian ulang seperti yang disebutkan dalam Perda RPJMD itu pun tak pernah dilaksanakan.

“Harusnya Pemkab Serang segera mengkaji ulang TPST sesuai amanat Perda, tapi kajiannya harus menyangkut lokasi baru, tidak di Bojongmenteng. Karena kalau Pemkab ngotot, masyarakat Bojongmenteng akan lebih ngotot. Karena kami akan melakukan apapun untuk membatalkan rencana pembangunan TPST di Bojongmenteng,” kata Mulya dengan nada mengancam.

Akhir tahun lalu, Wakil Bupati Serang Pandji Tirtayasa menyatakan, Pemkab Serang hingga kini masih memberikan pemahaman terhadap masyarakat Kecamatan Tunjungteja bahwa keberadaan TPST dibutuhkan. Sebab berkaitan dengan urusan hidup.

“Kita berhenti dulu pembangunan TPST). Tapi nanti sedikit demi sedikit kita ingin yakinkan kepada mereka (warga, red),” ujar Pandji.

Pandji menegaskan, persoalan yang paling sulit dalam rencana pembangunan TPST yakni meyakinkan masyarakat bahwa keberadaan TPST penting. Selebihnya, keberadaan itu pun tidak akan berdampak negatif terhadap lingkungan. Pandji berharap, masyarakat tidak merasa khawatir dengan keberadaan TPST.

Sebab, TPST tidak akan mencemari lingkungan karena dilengkapi peralatan yang memadai. “Instalasi pengolahannya memiliki kemampuan 100 ton, sampah datang 100 ton, jadi tidak akan menjadi masalah,” katanya.(cr-04/enk/bnn)

Komentar Anda

comments


Subscribe to our RSS Feed! Follow us on Facebook! Follow us on Twitter! Visit our LinkedIn Profile!