Pojok Blandongan Budi Sabarudin


Nonton Jakarta yang Makin Lucu

Diterbitkan  Sabtu, 04 / 02 / 2017 21:05 - Berita Ini Sudah :  594 Dilihat

ILUSTRASI (NET)

Ada saja yang membuat negeri ini jadi ramai, heboh, gaduh, dan bahkan lucu. Sudah tidak aneh lagi, kebanyakan ceritanya langsung dari Jakarta. Ibu Kota itu akhirnya jadi semacam panggung teater. Tapi sampai saat ini, saya tidak tahu siapa sutradaranya. Maklum yang namanya dalang biasanya ngumpet di balik panggung.

Saya yang tinggal di pinggiran Jakarta, asyik nonton teater itu di televisi, bisa sendirian tapi bisa juga barengan sama temen-temen. Kadang kami tertawa ngakak dan terkekeh-kekeh.

Kenapa? Ya, soalnya cerita humor, dagelan, lelucon atau komedinya lucu-lucu seperti lawak-lawak zaman dulu, karena diantara tokoh-tokohnya itu ada saja yang memainkan sosok banci.

Tetapi kadang-kadang juga saya menjadi sedih hingga menguraikan air mata, ketika saya melihat tokoh-tokohnya itu, digiring ke penjara oleh aparat hukum. Nah, khusus tokoh yang di penjara itu biasanya menceritakan tentang korupsi.

Tokoh-tokohnya itu menggasak uang negara. Satu dua tiga kali tidak ketahuan, tapi akhirnya kena Operasi Tangkap Tangan (OTT) juga.

Tidak hanya itu, bisa saja tokoh-tokohnya itu menerima uang dari orang-orang yang sedang berperkara, atau pihak-pihak yang sedang mengajukan gugatan terhadap peraturan perundang-undangan tertentu.

Tokoh itu kemudian memanfaatkan situasi untuk mencari keutungan, hingga akhirnya mereka menerima gratifikasi dan katanya layak dijebloskan ke penjara.

Sebagai penonton,tentu saja saya juga sering merasa gemes, geram, dan benci terhadap para pemainnya. Sebab dalam lakon pertunjukan itu ternyata ada juga orang-orang yang munafik dan suci. Tokoh-tokoh munafik itu pandai sekali bersilat lidah, apalagi jika sudah memutarbalikan kata dan fakta.

Tokoh munafik itu kadang bicara seperti orang jujur dan bersih yang mengaku berjuang membela rakyat, tapi esok lusa rakyat dihardik, dicaci dan dilukai.

Kemudian, hari ini tokoh itu menistakan seseorang dan agama tertentu, tapi hari berikutnya mengaku katanya tidak pernah berbuat seperti itu. Kalau sudah terdesak, dengan entengnya baru tokoh itu meminta maaf.

Namun ada juga orang-orang yang memainkan peran sebagai tokoh paling suci. Namun yang menjadikan saya kecewa sebagai penonton, dalam cerita itu ternyata tokoh-tokoh itu terjerat hukum juga.

Loh, kenapa sih tokoh suci itu bisa ditangkap polisi? Bukankah yang namanya tokoh suci itu orang bersih dan tidak memiliki cacat hukum? Tetapi untuk urusan ini saya tidak bisa menjawab, namanya juga pertunjukan, kadang juga cerita-ceritanya tak bisa ditebak.

Selain itu, yang namanya pertunjukan, ending ceritanya bisa saja berbeda dengan selera penonton. Sebab, itu sangat tergantung pada sutradaranya. Mau dibelokan ke kiri atau kanan, dalang punya kuasa.

Tapi kalau mau jujur, memang orang-orang di Jakarta itu keren-keren : betapa mereka itu sangat berbakat dan hebat-hebat dalam memainkan berbagai peran, karakter tokoh, dan bermain sandiwara. (*)

Komentar Anda

comments


Subscribe to our RSS Feed! Follow us on Facebook! Follow us on Twitter! Visit our LinkedIn Profile!