Pojok Blandongan Budi Sabarudin


Pilkada Air Mata

Diterbitkan  Sabtu, 11 / 02 / 2017 11:57 - Berita Ini Sudah :  480 Dilihat

ILUSTRASI (NET)

Menghadapi hari-hari menjelang Pilkada serentak, saya selalu resah dan sedih. Saya harus menahan tanggul air mata kuat-kuat agar tidak jebol.

Kenapa? Ya, saya prihatin mengapa banyak orang dan bahkan pengamat politik yang biasa cas cis cus di media, mengatakan Rabu (15/2/2017) itu pesta demokrasi lima tahunan bagi rakyat di negeri ini.

Makanya jangan heran, jauh-jauh hari sebelum gong pesta demokrasi benar-benar ditabuh, setiap pasangan calon selalu berusaha menyuguhkan hiburan buat rakyat dengan berbagai cara dan bentuk.

Salah satu yang paling umum menggelar musik dangdut gratis di lapangan. Artis-artis ngetop dan grup-grup musik dangdut sengaja diundang agar pesta lebih meriah dan rakyat betul-betul terhibur.

Kemudian ada juga hiburan dalam bentuk lainnya seperti menggelar bazar sembako murah. Minyak goreng, beras, terigu, telur, dan lain-lain diobral atau dibanting harganya dari harga standar.

Blusukan yang dilakukan setiap pasangan calon rupanya dijadikan hiburan rakyat juga. Mereka mendatangi dan menyapa rakyat kecil, rakyat miskin, rakyat jelata, rakyat marjinal, dan rakyat-rakyat lainnya.

Ketika blusukan pasangan calon menghibur rakyat dengan uang. Dalihnya nyumbang pembangunan masjid, mushala, gedung sekolah rusak, jalan lingkungan, jembatan putus, korban bencana banjir, janda-janda tua yang miskin, orang-orang yang menderita karena sakit, anak terlantar dan yatim piatu.

Lalu, hiburan lainnya sebelum pencoblosan, ada saja kabar serangan fajar. Rakyat tiba-tiba saja diberi uang dari mulai Rp 20 ribu sampai tak tentu berapa jumlahnya. Namun ini dilakukan secara diam-diam agar tidak terlihat lawan politik dan pengawas.

Dalam pesta demokrasi juga selalu ada hiburan saling memfinah dan saling menjelek-jelekan lawan politik. Hal itu bisa dilakukan lewat apa saja sehingga jadi tontonan tersendiri bagi rakyat.

Dari gambaran di atas, itulah yang membuat saya resah dan sedih. Rakyat dibeli, dimanjakan, dirayu-rayu, dan dididik salah, yakni dengan cara-cara kamuflase seperti disuap massal secara langsung dan tidak langsung.

Yang membuat saya lebih sedih, ketika diantara mereka terpilih menjadi pemimpin, maka tak ada lagi musik dangdut, bazar murah, blusukan, dan bagi-bagi uang. Mereka sibuk putar otak bagaimana caranya mengembalikan modal Pilkada dengan segala macam cara. Rakyat akhirnya kecewa, menangis, dan menyesal. (*)

Komentar Anda

comments


Subscribe to our RSS Feed! Follow us on Facebook! Follow us on Twitter! Visit our LinkedIn Profile!