Pojok Blandongan Budi Sabarudin


Bom Waktu Antasari

Diterbitkan  Minggu, 19 / 02 / 2017 23:41 - Berita Ini Sudah :  2804 Dilihat

ILUSTRASI (NET)

Banyak cara untuk mengekspresikan kebebasan ketika narapidana bebas dari penjara. Ada yang sujud syukur, berlibur ke suatu tempat, nonton film, makan-makan di tempat favorit, bertemu keluarga, kerabat, dan saudara dekat, atau pergi ke laut menggelar ritual buang sial.

Demikian juga dengan mantan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Antasari Azhar. Saya yakin Antasari juga menikmati betul apa arti kebebasan hidupnya berada di luar tahanan, berada di alam bebas. Antasari bisa menikmati esensi kebebasannya dirinya sebagai makhluk Tuhan.

Namun Antasari tidak lantas tenggelam dalam kebebasan itu. Buktinya, tidak lama setelah meninggalkan jeruji besi di salah satu Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Tangerang pada 11 November 2016, Antasari pun berkicau soal kasus hukum yang menimpa dan membelit dirinya.

Antasari divonis 18 tahun penjara pada 11 Februari 2010 lalu. Menurut hakim Antasari turut serta melakukan pembunuhan terhadap Direktur PT Putra Rajawali Bantaran, Nazarudin. Namun hingga Antasari keluar dari penjara, mengaku keukeuh tidak pernah bersalah.

“Saya tidak bersalah. Saya sudah bertemu dengan tim untuk memulihkan nama baik saya. Saya tidak takut mengungkap kebenaran,” begitu kata Antasari kepada sejumlah wartawan dalam berbagai kesempatan.

Tentu saja kicauan Antasari itu, saya yakin bisa membuat kuping banyak orang manjadi merah, hati mendadak menjadi begitu panas, badan meriang, dada dag dig dug tak tentu rasa, dan kepala pusing-pusing. Soalnya, kicauan Antasari itu memang tidak ada merdu-merdunya.

Benar saja, tak lama setelah Antasari berkicau, mantan Presiden RI Soesilo Bambang Yudhoyono atau yang akrab dipanggil SBY, gerah dan meriang. Gara-garanya, SBY dinilai oleh Antasari sebagai orang yang mengetahui kasusnya hingga Antasari dijebloskan ke dalam penjara.

Namun SBY secara tegas membantah penilaian Antasari itu. SBY kemudian melalui kuasa hukumnya mengambil langkah-langkah hukum dengan cara melaporkan Antasari ke polisi dengan tuduhan perbuatan tidak menyenangkan. Namun Antasari tidak pernah gentar dan takut.

Lantas, apakah hanya SBY saja yang akan menjadi sasaran kicauan Antasari yang tidak merdu itu? Ya, kalau kicauan Antasari itu murni hanya untuk mencari kebenaran dan tidak ada muatan politis di dalamnya, maka akan banyak pihak yang bisa terseret ke dalam arus dan gelombangnya yang besar.

Memang yang menangani kasus Antasari dulu-dulu itu melibatkan banyak penegak hukum, dari mulai majelis hakim, jaksa, pengacara, dan polisi. Selain itu ada juga para saksi yang menyampaikan kesaksiannya, baik ketika diperiksa di polisi maupun ketika di persidangan.

Namun di belakangan hari, apakah mereka semuanya akan kena bom waktu Antasari? Saya tak berani menjawab. Namun tentu saja setiap kasus hukum yang ada di bumi ini harus diuji dengan perspektif dan metodologi ilmu hukum yang benar, agar kebenaran itu betul-betul bisa diungkap.

Nah, untuk menguji kebenaran kasus hukum Antasari itu hanya ada di meja pengadilan. Namun hati orang-orang di belakang meja pengadilan itu tentu saja harus bersih, agar kontruksi hukum Antasari itu menjadi terang benderang dan tidak membingungkan masyarakat luas. (*)

Komentar Anda

comments


Subscribe to our RSS Feed! Follow us on Facebook! Follow us on Twitter! Visit our LinkedIn Profile!