Rumah dan Sekolah Harus Jadi Tempat Nyaman Pembentukan Karakter


Anak Bukan Pelampiasan Amarah

Diterbitkan  Selasa, 21 / 02 / 2017 0:02 - Berita Ini Sudah :  985 Dilihat

SAYANG ANAK. Acara gathering orangtua bersama Seto Mulyadi di Puspiptek, kemarin, membeberkan bagaimana membentuk karakter anak seharusnya. Anak jangan dijadikan pelampiasan amarah, tapi jangan juga dimanja dalam mendidik mereka.

SETU – Seringnya muncul berita-berita mengenai kekerasan baik fisik dan jiwa terhadap anak, memang sangat memprihatinkan bagi seluruh masyarakat di Indonesia. Dampaknya, sang anak akan memiliki trauma yang dapat menyebabkan sang anak tidak ingin sekolah atau pun tidak ingin pulang kerumah karena trauma akan mendapatkan kekerasan dari orangtua.

Melihat itu, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Tangerang Selatan memberikan sosialisasi bagaimana cara mendidik anak di sekolah dan di rumah kepada guru PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) dan orangtua dalam acara Gathering Orangtua bersama Seto Mulyadi di Gedung Graha Widya Bhakti, Puspiptek, kemairn.

Kak Seto menjelaskan bahwa setiap anak memiliki kecerdasan berbeda-beda. Tugas yang harus dilakukan setiap guru dan orangtua adalah melihat dimana anak-anak tersebut memiliki kepribadiannya. Lanjutnya, keluarga merupakan tempat dimana anak membentuk kepribadian, dari keluarga yang baik tentu anak nantinya juga memiliki kepribadian yang baik.

”Guru yang pertama adalah ibu, jadi ibu ini diharapkan bisa memberikan contoh yang baik kepada anak. Kebanyakan orangtua di rumah justru melampiaskan kemarahan kepada si anak, jadi nanti justru yang dibentuk keluarga terhadap anak bukan baiknya melainkan orang tuanya yang marah-marah.

Tapi, jangan juga terlalu memanjakan anaknya itu juga akan salah,” ungkap Kak Seto.

Tak hanya keluarga, sekolah yang menjadi rumah kedua anak-anak dipandang sebagai tempat menakutkan. Para guru, yang memberikan pengajaran sangat normative tanpa adanya sesuatu yang menghibur membuat anak merasa tertekan.

”Anak-anak yang stres di sekolah itu, karena setelah diminta bawa banyak buku, pulang sekolah sampai sore, diberi banyak pekerjaan rumah, kemudian terlambat, itu semua justru membuat anak merasa ketakutan ada di sekolah,” kata Seto.

Kasus seperti itu mengkhawatirkan terjadi di kota-kota besar seperti Tangerang Selatan. Karena itu, Kak Seto mengharapkan guru dan orangtua bisa bersinergi dalam pengasuhan anak.

Sebab, baik rumah dan sekolah adalah tempat dimana anak-anak menghabiskan banyak waktunya. Selain itu kedua tempat tersebutlah yang menjadikan faktor utama kepribadian anak-anak.

Sementara itu, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Tangsel, Taryono menegaskan, kegiatan ini mendapat dukungan penuh dari pemerintah Kota Tangerang Selatan.

”Intinya kalaupun kita tidak sabar dalam membentuk pribadi anak, minimal kita bisa memberikan kenyaman ketika kita sedang mengajar atau mengasuh anak, seperti Kak Seto contohnya,” ujar Taryono.

Airin Rachmi Diany Walikota Tangrang Selatan mengatakan adanya sosialisasi ini tentu sangat bermanfaat, keluarga dapat membentuk kepribadian. Ia juga mengatakan bahwa tindak kriminal dibawah umur menjadi perhatian khusus yang harus diatasi. Lanjutnya, salah satu faktor ekonomi membuat orangtua dan anak tidak kompak.

“Sudah mendorong pengembangan tingkat kesejahteraan keluarga, misalnya dalam bidang ekonomi, dimana pemkot telah membuka pelatihan khusus kepada masyarakat. Kemudian kita juga sudah meyediakan kredit modal bagi para pelaku UMKM (Usaha Mikro Kecil Menengah),” kata Airin.

Dengan adanya program-program tersebut, ia berharap akan menambahkan indek angka kesejahteraan keluarga. Sehingga banyak anak akan merasa terpenuhi segala kebutuhannya.(lan)

Komentar Anda

comments