Pojok Blandongan Budi Sabarudin


Pilkada Iwan Bopeng

Diterbitkan  Jumat, 24 / 02 / 2017 23:34 - Berita Ini Sudah :  1772 Dilihat

ILUSTRASI (NET)

Pilkada serentak yang digelar hari Rabu (15/2/2017) di 7 Provinsi dan 94 Kabupaten/Kota sudah berakhir. Namun sepanjang pesta demokrasi itu ternyata menyisakan banyak sekali masalah besar.

Sebelum Pilkada digelar misalnya, banyak kampanye hitam untuk menjatuhkan lawan politiknya. Salah satunya dengan berita-berita hoax. Bahkan, ada pula calon yang menistakan agama tertentu. Cara seperti itu menandakan, calon tersebut sudah betul-betul kebelet ingin jadi pemenang, dan tidak siap kalah.

Setelah Pilkada pun, ada pasangan yang meradang seperti anak kecil. Mereka tak menerima kekalahan dan berkoar-koar kepada wartawan, katanya dicurangi secara terstruktur, sistematis, dan masif. Padahal kalau mau jujur, pihak yang kalah itu, tidak menutup kemungkinan melakukan kesalahan juga.

Pada hari pencoblosan pun, situasi dan suasana Pilkada tak kalah tegang dan ramainya dengan sebelum dan setelah pelaksanaan Pilkada. Salah satunya adalah kasus Iwan Bopeng, namanya tiba-tiba saja menjadi populer seperti pesohor papan atas.

Kisahya berawal, teman Iwan Bopeng tidak bisa nyoblos di salah satu TPS di DKI Jakarta. Ahoker itu lantas marah-marah. Mulutnya liar dan penuh emosi hingga mencaci-maki petugas TPS. “Eh, anak kecil siapa, Lu. Tentara guwa potong, apalagi Lu!” kata Iwan, tandas.

Rupanya kelakuan Iwan Bopeng yang ngawur itu, diam-diam ada yang merekam, lalu di-upload ke media Youtube. Nah, sejak saat itu Iwan Bopeng jadi beken. Namun keterkenalan dia menjadi malapetaka bagi dirinya, karena banyak pihak, termasuk tentara, tersinggung karena merasa dilecehkan Iwan Bopeng.

Mereka yang tersinggung itu memperagakan ilmu kanuragan, seperti bagian-bagian tubuhnya yang tidak mempan dibacok oleh digolok, ditebas samurai, dibor, atau dibakar. Mereka menantang duel Iwan Bopeng.

Aksi itu juga di-upload di media Youtube yang tujuannya menunjukan pada Iwan Bopeng tentara itu terlatih dan kuat serta tidak akan mudah dipotong-potong.

Dari peristiwa-peristiwa dalam Pilkada serentak itu, tentu saja saya sebagai rakyat sangat prihatin. Betapa banyak perilaku buruk yang dipertontonkan oleh calon pemimpin dan para pendukungnya kepada publik secara terang-terangan dan tak mendidik.

Mereka tidak memberikan keteladanan kepada masyarakat, bagaimana cara berpolitik yang memiliki keadaban. Mereka memang belum matang berpolitik dan berdemokrasi. Kalau mereka sudah matang dalam berpolitik, tidak akan melakukan berbagai kecurangan demi meraih kemenangan, dan kalau pun toh kalah menerima kekalahan itu dengan jiwa besar.

Demikian juga dengan para pendukung calon. Kalau mereka sudah matang dan paham arti serta pentingnya memilih pemimpin, tentu saja tidak akan menjelek-jelekan lawan politiknya agar pasangan yang dijagokannya itu menjadi pemenang. Dan perilaku pendukung fanatik seperti Iwan Bopeng tentu saja harus menjadi pelajaran berharga bangsa ini.

Perilaku itu sangat berbahaya karena bisa merusak marwah Pilkada serentak, mengganggu tatanan demokrasi, dan bahkan bisa merusak kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Ingat kita ini bangsa besar, namun berjiwa kerdil hingga akhirnya pernah dijajah asing. Karena itu, ketika memilih pemimpin tak perlu gontok-gontokan agar tidak dimanfaatkan pihak-pihak asing, agar sejarah penjajahan yang dulu menistakan bangsa ini tidak terulang kembali. (*)

Komentar Anda

comments


Subscribe to our RSS Feed! Follow us on Facebook! Follow us on Twitter! Visit our LinkedIn Profile!