Pojok Blandongan Budi Sabarudin


Patmi, Simbol Perjuangan Petani Pegunungan Kendeng

Diterbitkan  Sabtu, 25 / 03 / 2017 13:19 - Berita Ini Sudah :  387 Dilihat

ILUSTRASI (NET)

Saya bukan warga Rembang, Jawa Tengah. Saya juga bukan rombongan petani pegunungan Kendeng yang melakukan aksi menolak berdirinya Pabrik Semen di depan Istana Negara pada tanggal 12 Maret 2017 lalu.

Namun sebagai warga negara Indonesia yang sampai saat ini masih memiliki rasa kebangsaan, saya sesungguhnya menjadi bagian dari perjuangan mereka. Bukankah sebagai sesama anak bangsa, jika ada satu orang saja anak bangsa yang sakit, kita juga turut merasakan deritanya?

Terlebih lagi, dalam aksi itu ada kabar duka korban meninggal dunia, yakni Patmi (48). Dia adalah seorang ibu yang konsisten dan begitu gigih menolak berdirinya Pabrik Semen di pegunungan Kendeng sejak tahun 2016 lalu.

Mengapa ibu dua anak itu mau bersusah-susah melakukan aksi unjuk rasa dengan cara menyemen kakinya sendiri bersama para petani lainnya? Jawabnnya hanya satu, karena di pegunungan Kendeng itu ada kekayaan alam yang luar biasa, yakni sumber mata air yang jika dikelola dengan baik, artinya tidak dirusak, maka sumber air itu tidak akan ada habis-habisnya.

Nah, filosofi itulah yang terus diperjuangkan Patmi sejak tahun 2016 lalu itu. Ia yang tergabung dalam Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng (JMPPK) pernah tiga kali melakukan unjuk rasa di Kota Semarang secara spektakuler, yakni dengan cara longmarch sejauh 100 kilometer, yakni Pati-Semarang, Sukolilo-Semarang, dan Rembang-Semarang.

Bagi Patmi, sumber mata air itu, tidak hanya sangat penting bagi para petani itu sendiri, namun juga sangat vital bagi kehidupan masyarakat yang ada dan jauh di sekitarnya. Karena itu, Patmi pertaruhkan harga diri dan nyawanya sekalipun untuk mempertahankan kekayaan alam itu.

Memang harus diakui, jika manusia hidup kekurangan air, apalagi tanpa air sama sekali, mereka sudah pasti mati. Demikian juga dengan tanaman padi milik petani dan ladang lainnya itu, tanpa air mereka bukan hanya tidak mungkin merasakan panen, tapi petani juga bisa tewas.

Dalam kaitan perjuangan Patmi dan para petani lainnya itu, saya menangkap ada semangat dan esensi yang paling mulia, yakni walau bagaimanapun manusia memiliki hak untuk mempertahankan hidupnya dan mempertahankan keberlanjutan sumber daya alamnya, bukan hanya untuk dirinya sendiri, akan tetapi untuk generasi berikutnya.

Patmi bagi saya adalah simbol perjuangan kaum petani, kaum marjinal dan kaum miskin yang begitu hebat dan tentunya harus dijadikan pelajaran bagi bangsa dan negara ini, termasuk juga bagi pemangku kekuasaan yang saat ini sedang menjalankan roda pemerintahan.

Sudah sangat sering saya mendengar dan melihat, pembangunan terlalu berpihak pada kaum pemilik modal dan mengabaikan aspek kemanusiaan dan lingkungan. Realitas itu sudah terjadi begitu lama sejak zaman Orde Baru.

Akibatnya, proyek pembangunan semacam itu tidak sedikit menimbulkan jatuh korban nyawa manusia dan menghancurkan lingkungan dalam jangka panjang. Kapan cara-cara seperti itu akan berakhir di negeri ini? Ya, sampai manusia mampu menghidupkan hatinya sendiri.

Selamat jalan Ibu Patmi….. (*)

Komentar Anda

comments


Subscribe to our RSS Feed! Follow us on Facebook! Follow us on Twitter! Visit our LinkedIn Profile!