Pojok Blandongan Budi Sabarudin


Pramuka Makan di Tanah, Kekerasan?

Diterbitkan  Jumat, 31 / 03 / 2017 23:30 - Berita Ini Sudah :  439 Dilihat

ILUSTRASI (NET)

“… masyarakat dibuatnya semakin tidak berdaya ketika dihadapkan pada keangkuhan kekuasaan.”

Pramoedya Ananta Toer

Dalam Muhammad Muhibbuddin, Catatan dari Balik Penjara : Goresan Pena Revolusi Pramoedya Ananta Toer, 2002: Hlm 117

Belum lama ini, grup WhatsApp (WA) saya menerima kiriman foto sekelompok Pramuka sedang makan di tanah. Saya betul-betul kaget, dan bahkan rasanya wajah saya ini seperti kena tampar. Foto itu pun menjadi viral yang menghebohkan media sosial dan berita di media massa.

Saya tidak tahu, siapa sebetulnya yang mula-mula mengirimkan foto itu. Namun, kalau berdasarkan teori yang paling sederhana, tentu yang mengirim foto itu orang-orang yang ada di sekitar peristiwa tersebut.

Terlepas dari persoalan siapa yang mula-mula mengirimkan foto itu, saya kemudian bertanya-tanya kepada kawan-kawan mengenai foto itu, kira-kira foto itu dalam acara apa serta ada di mana dan kapan kejadiannya.

Tetapi alangkah kagetnya saya. Sebab peristiwa itu ternyata ada dan terjadi di Kabupaten Tangerang, tepatnya dalam kegiatan pengkaderan dan pelantikan Anggota Baru Saka Wira Kartika Koramil-13/Kronjo di Buper Pantai Satuan Radar 211 TNI-AU pada 17-19 Maret 2017.

Loh, kenapa saya harus kaget? Ya, karena saya sudah lama tinggal di Tangerang, 16 tahunan. Jujur saja, saya memang kaum urban, akan tetapi saya sudah menjadi orang Tangerang. Buktinya, saya sudah punya e-KTP.

Sebagai manusia dan warga Tangerang, saya prihatin dengan kasus itu. Diam-diam saya berpikir, teryata masalah kekerasan itu, suka tidak suka, senang tidak senang, sudah menyusup dalam dunia Pramuka kita.

Tentu ada banyak bentuk kekerasan, diantaranya kekerasan fisik, psikis, dan bahasa. Nah, kalau perasaan (sisi kemanusiaan) anggota Pramuka itu merasa tersinggung, terlebih-lebih merasa terlukai atau tersakiti dengan cara makan di tanah itu, jelas itu katagori kekerasan psikis.

Tak lama setelah kasus itu menjadi konsumsi publik, Sulaiman selaku Pamong Saka Wira Kartika Kwartir Ranting Kronjo, Kabupaten Tangerang, minta maaf kepada Ketua Kwarnas Pramuka Adhyaksa Dault dalam bentuk video dan bertanggungjawab atas apa yang terjadi dalam kasus tersebut.

Namun yang jelas budaya kekerasaan itu sejatinya tidak boleh masuk dalam dunia Pramuka. Sebab Pramuka itu “wadah” untuk mengembangkan karakter manusia agar memiliki nilai-nilai keadaban.

Kalau nggota Pramuka itu melakukan kesalahan misalnya, tidak boleh juga ada sanksi kekerasan, apalagi itu melampaui batas-batas keadaban dan kehormatan manusia. Berilah mereka sanksi untuk menegakan disiplin. Tapi kalau sanksi itu menggunakan pendekatan kekuasaan, ujung-ujungnya bisa angkuh dan liar. (*)

Komentar Anda

comments


Subscribe to our RSS Feed! Follow us on Facebook! Follow us on Twitter! Visit our LinkedIn Profile!