Hanung Bramantyo Buka-bukaan Soal Sosok Kartini


Dari Seminar Nasional Hari Kartini di UIN Jakarta

Diterbitkan  Rabu, 19 / 04 / 2017 5:32 - Berita Ini Sudah :  313 Dilihat

FILM KARTINI. Kehadiran sutradara kondang Hanung Bramantyo menambah hangat pelaksanaan seminar nasional yang digelar oleh Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Pendidikan Bahasa Inggris dan Sastra Indonesia UIN Syarif Hidayatullah Jakarta di Gedung Harun Nasution, Selasa (18/4).

Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Pendidikan Bahasa Inggris dan Sastra Indonesia Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta menggelar seminar nasional menyambut Hari Kartini di Gedung Harun Nasution, kemarin. Berbarengan dengan acara itu juga dikupas habis soal Film Kartini.

FITRIYANI-Ciputat Timur

Suasana Gedung Harun Nasution mendadak heboh. Pria berpenampilan sederhana yang hadir di ruangan itu menjadi pusat perhatian. Dia adalah sutradara kondang, Hanung Bramantyo.
Tak pelak kehadiran Hanung menjadi bidikan para mahasiswa untuk selfie. “Mass Hanuuuung,” teriak salah seorang mahasiswa dari kerumunan.

Hanung hadir untuk berbicara banyak soal Film Kartini yang digarapnya. Bapak empat anak ini mencoba menyampaikan literatur sejarah yang diangkat menjadi bagian pop kultur masyarakat saat ini.

“Kartini yang diterjemahkan ke dalam banyak literasi-literasi sekarang ini, merupakan bagian dari penafsiran kembali tentang kehidupan Kartini melalui surat-suratnya, dan film itu sebetulnya memberikan sumbangsih yang sama, dalam bentuk gambar, audio dan visual,” kata Hanung Bramantyo.

Menurut suami Zaskia Adya Mecca ini, sosok RA Kartini perjuangannya tidak hanya emansipasi saja, tetapi perjuangannya yang terpenting adalah membebaskan perempuan dari keterikatan-keterikatan yang sifatnya itu bukan keterikatan agama, tapi keterikatan-keterikan kultural.

“Dan keterikatan-keterikan kultural itu berawal dari pola pikir, agama ketika dikulturkan itu juga kadang-kadang mengalami penyimpangan-penyimpangan. Karena agama itu kan sifatnya itu wahyu kemudian dijadikan pola pikir oleh masyarakat, karena pola pikir itu memiliki tafsir yang berbeda-beda.

Di zaman modern ini, sebetulnya masih menghadapi situasi yang sama dengan yang dialami Kartini, hanya kemasannya saja berberda. Contohnya, hingga saat ini di wilayah pekerjaan Pegawai Negeri Sipil (PNS) maupun swasta dimana perempuan bisa istirahat karena menstruasi. Lalu apakah di kantor itu ada tempat untuk membawa anak? Itu tidak ada,” katanya.

Bagi Hanung, sesuai dengan ajaran Islam, ketika Islam itu lahir untuk membebaskan perempuan dari perbudakan, perempuan betul-betul diangkat derajatnya.

“Lihatlah Khadijah, lebih kaya dari Rasulullah. Itu artinya perempuan pun berhak lebih kaya dari suaminya, hanya saja kita harus tahu kekayaan itu dikembalikan untuk apa. Pada saat Khadijah lebih kaya dari Rasulullah, kekayaan Khadijah untuk membiayai seluruh perjuangannya Rasulullah,” bebernya yang hari itu mengenakan T-Shirt.

Ketua Seminar Peringatan Hari Kartini, Wulan Pusposari menerangkan, dengan tema semangat membangun bangsa dalam kesetaraan dan emansipasi, mahasiswa harus kembali memaknai perjuangan Kartini dalam membebaskan perempuan dari kungkungan budaya.

“Berkat RA Kartini kita bisa mengenyam pendidikan, sehingga diharapkan melalui kegiatan ini kami selaku para panitia menginginkan para pemuda bisa memaknai perjuangan Kartini. Rencananya pada 21 April mendatang kami akan menggelar aksi solidaritas Kartini, yang dilakukan dedngan sejumlah organisasi lainnya,” pungkasnya.(*)

Komentar Anda

comments


Subscribe to our RSS Feed! Follow us on Facebook! Follow us on Twitter! Visit our LinkedIn Profile!