Pojok Blandongan Budi Sabarudin


Pilkada DKI dan Mulut Kultural Ahok

Diterbitkan  Sabtu, 22 / 04 / 2017 0:34 - Berita Ini Sudah :  633 Dilihat

ILUSTRASI (NET)

Dalam perhelatan Pilkada DKI Jakarta yang digelar 19 April 2017, Basuki Tjahaja Purnama-Djarot Saiful Hidayat (Ahok-Djarot), akhirnya dikalahkan pasangan Anies Baswedan-Sandiaga Uno (Anies-Sandi). Kekalahan itu sebetulnya di luar prediksi para pendukung dan partai pengusungnya.

Tentu saja kekalahan Ahok-Djarot itu masih berdasarkan versi hitungan cepat, sedangkan hitungan manual KPU DKI Jakarta masih dalam proses. Namun banyak orang percaya hitungan cepat dari berbagai lembaga survei yang memenangkan Anies-Sandi itu sangat valid.

Pertanyaannya kemudian mengapa Ahok-Djarot bisa kalah? Padahal pasangan ini didukung berbagai elemen yang begitu kuat. Kalau ada yang mengatakan karena Ahok terganjal kasus penistaan agama, saya setuju. Hal itu memang benar bisa mempengaruhi tingkat elektabilitas Ahok.

Kata “penistaan agama” itu sesungguhnya sebagai cermin dari melupakan nilai-nilai kultural yang sudah tumbuh lama di negeri ini, yang dirawat para leluhur hingga saat ini. Seberapa pun rusaknya negeri ini karena kasus korupsi misalnya, negeri ini tetap saja sebagai negeri yang indah dan elok secara kultural, karena memiliki keadaban yang luhur.

Dalam perspektif kebudayaan, setiap orang yang hidup di negeri ini harus bisa menjaga bibir atau mulutnya. Karena itu, setiap orang tua selalu mengajarkan anak-anaknya agar pandai menjaga mulutnya, jangan sembarang ngomong, kalau mau bicara dipikir-pikir dulu matang-matang, dan kalau tidak paham lebih baik diam.

Mulut Ahok yang dulu mudah marah, mulut Ahok yang gampang mengeluarkan kata-kata dengan nada tinggi, dan mulut Ahok yang kemudian disebut-sebut telah menistakan agama itu, sesungguhnya cerminan mulut yang mengalami benturan kebudayaan yang sangat fatal.

Akibatnya, bagi orang-orang masih merawat kebudayaan itu, tidak suka dan akan menjauhi mulut seperti itu, karena ada semacam kekhawatiran. Mulut yang tidak dijaga secara kultural itu bisa mengganggu kenyamanan, kegelisahan, dan meresahkan hidup banyak orang.

Risiko lain, mulut yang tidak dibingkau dengan etika, apalagi sampai disebut-sebut menistakan agama, itu akan sangat berbahaya bagi sang pemiliknya. Bahaya itu bisa berupa bahaya secara sosial, agama, dan hukum itu sendiri.

Hal itu sudah dibuktikan Ahok sendiri, karena mulutnya juga ia berbulan-bulan menjadi pesakitan di pengadilan. Meski kemudian Ahok dinilai Jaksa Penuntut Umum (JPU) tidak bersalah menista agama, toh Ahok dituntut juga satu tahun penjara dengan dua tahun percobaan.

Lantas apakah pasca Pilakda ini Ahok masih bisa manggung di pentas politik? Banyak isu mengatakan Ahok masih punya kesempatan karena dekat dengan kekuasaan di negeri ini. Tapi mulut yang sudah melukai banyak orang secara kultural dan agama akan sulit disembuhkan. (*)

Komentar Anda

comments


Subscribe to our RSS Feed! Follow us on Facebook! Follow us on Twitter! Visit our LinkedIn Profile!