Bayi Hydrosephalus Butuh Uluran Tangan

Diterbitkan  Rabu, 26 / 04 / 2017 9:47 - Berita Ini Sudah :  244 Dilihat

ILUSTRASI (NET)

CIPUTAT-Malang nian nasib Zhafirah Kirania Putri Main, bayi empat bulan ini kepalanya terus membesar. Orangtuanya pun sudah pasrah, karena tak sanggup membiayai pengobatan demi kesembuhan buah hatinya itu.

Muhammad Zairin Main (51), ayah dari bayi hydrocephalus itu sudah berupaya mendatangi sejumlah rumah sakit. Namun biaya selalu menjadi hambatannya.

Kemarin, Tangsel Pos berkunjung ke kontrakan Muhammad Zairin di Kampung Gedong RT 001/RW 013 Kelurahan Jombang, Kecamatan Ciputat. Di rumah petakan sangat sederhana itu, Zhafirah Kirania Putri Main diasuh kedua orangtuanya.

“Iya, cup-cup diam sayang itu ada tamu” kata Muhammad Zairin sambil menggendong bayi mungilnya itu ketika melihat Tangsel Pos datang.

Akhirnya Muhamad Zairin merebahkan anak keduanya itu di kasur yang sudah dilapisi kain popok. Zhafirah Kirania tiba-tiba menangis. Matanya melotot, tangannya bergerak-gerak.

Isteri Muhamad Zairin, Supriah lantas berupaya mendiamkan anaknya tersebut. Tak lama berselang, Muhammad Zairin didampingi sang isteri mempersilakan Tangsel Pos untuk duduk di ruang tamunya sembari menunjukkan puluhan lembar bukti pengurusan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan dan surat tagihan dari RSUD Dr Drajat Prawiranegara, Kota Serang.

“Kata Dokter anak saya mengidap penyakit hydrocephalus dan harus segera dioperasi,” ujar Muhammad Zairin membuka obrolan di siang itu.

Dia menerangkan, putrinya lahir pada 2 Januari 2017 secara normal di RSUD Dr Drajat Prawiranegara, Kota Serang. Hanya saja pada waktu itu, bayinya lahir dengan posisi tengkurap dan kaki duluan yang keluar.

Sementara kepala masih tersangkut di bibir rahim. Melihat kondisi tersebut tim medis berusaha mengeluarkan kepada Zhafirah dengan menekan-nekan perut sang ibunya.

“Waktu itu tidak dioperasi karena posisi anak saya ini sekalipun posisinya sungsang, tapi badannya lurus. Kata Dokter masih bagus, jadi proses kelahiran pun masih normal, saya pun melihat kaki dia yang keluar duluan, dan kepalanya masih tersangkut.

Anak saya pun lahir dalam keadaan tidak ada nafas, lalu dikasih oksigen oleh dokter, saya pun diminta ke ruang informasi, tapi setelah dari sana anak saya sudah masuk ruang Intensive Care Unit (ICU),” jelasnya.

Muhammad Zairin mengaku sangat pusing untuk mengobati Zhafirah. Lantaran sehari-hari dia bekerja sebagai tukang urut panggilan, dan tak mungkin punya uang banyak untuk merawat Zhafirah ke rumah sakit.

“Dalam seminggu dari upah mengurut paling saya dapat 300 sampai 400 ribu rupiah. Itu pun habis dipakai untuk keperluan sehari-hari,” terangnya.

Sedangkan, isterinya hanya di rumah saja. Sementara anak pertamanya yakni, Zhaidah Rizkillah Main baru berusia 7 tahun.

“Saran dokter waktu itu, kepala anak saya harus discan. Waktu saya Tanya alasannya apa, dia bilang anak saya suka kejang-kejang. Saya cuma punya uang 600 ribu, sampai akhirnya saya putuskan untuk membawa pulang anak dan isteri saya, karena waktu itu yang boleh pulang hanya isteri saya, karena saya tidak mampu saya bawa pulang semua, biaya perawatan di sana per malamnya sekitar 400 ribu. Pihak rumah sakit pun sedang menagih sisa utang saya sebesar 2.418.350 rupiah,” paparnya.

Selama berada di kontrakan, Zhafirah suka menangis. Menginjak usia 40 hari, rambut Zhafirah mulai rontok dan urat menjalar di kepalanya. “Kami beranggapan jika isteri saya salah memberikan shampoo kepada Zhafirah,” papar Muhammad Zairin.

Lalu Zhafirah dibawa ke Puskesmas Jombang. “Dari Puskesmas, saya dianjurkan membawa Zhafirah ke RSUD Dr Drajat Prawiranegara untuk memeriksanya. Tapi saya tak punya uang. Akhirnya saya bawa ke klinik. Informasi dari dokter, anak saya kondisinya sehat, hanya kepala yang mengidap hydrocephalus,” tukasnya.

Para tetangga yang prihatin dengan kondisi Zhafirah lantas menyarankan Muhammad Zairin mengurus surat pindah domisili, karena selama ini Kartu Tanda Penduduk (KTP)-nya DKI Jakarta. Hal ini dimaksudkan untuk mempermudah dalam mengurus BPJS Kesehatan.

Selama ini bantuan baru didapat dari aparatur pemerintahan tingkat RT/RW dan warga sekitar. “Saya tadinya mau mengurus BPJS di Jakarta, tapi karna kondisi anak saya ini sudah darurat saya urus di sini, Zhafirah juga sudah dibawa ke RSU Kota Tangsel, dirawat selama tiga hari.

Karena dokter anaknya bilang harus dirawat di rumah sakit yang lebih lengkap peralatannya antara Serang dan Jakarta saya pilih ke RS Fatmawati Jakarta yang dekat, kepala pun sudah discan besok (hari ini) tanggal 26 hasilnya baru keluar, baru kemudian tahu anak saya akan mendapatkan penangan seperti apa.

Saya berharap ada bantuan dari pemerintah,” harap pria yang rambutnya mulai memutih ini.

Ketua RT 001/RW 013 Kelurahan Jombang, Rismanto (58) mengaku sudah turut serta membantu proses pembuatan BPJS Kesehatan dan menggalang dana dari warga setempat untuk biaya operasional Zhafirah.

“Kami juga baru mengumpulkan dana swadaya warga sebesar 800 ribu. Tapi ini yang disayangkan proses dari RS Fatmawati agak lama, sudah hampir dua bulan masih begitu-begitu saja tidak segera ditangani atau mendapatkan perawatan khusus.

Kasihan anaknya sudah menunggu lama belum lagi dibawa ke sana ke sininya menggunakan angkot. Terkadang juga ada mobil dari warga,” tukasnya.

Sedangkan, Sekretaris Kelurahan Jombang, Iwan Sutisna mengaku pihaknya telah mengetahui kabar penyakit yang diidap oleh Zhafirah. Bahkan menurutnya, dia sudah memberikan surat rekomendasi keterangan tidak mampu sebagai untuk meringankan biaya pengobatan.

“Waktu itu ibunya sudah bertemu saya, surat rekomendasi pun sudah saya buatkan dan tandatangani. Karena posisinya buru-buru harus pergi, saya minta bendahara untuk membantu juga, tapi jika nanti belum ada penangan secara khusus dari RS Fatmawati, pihak kelurahan akan membantu bagaimana baiknya,” tandasnya.(fit)

Komentar Anda

comments


Subscribe to our RSS Feed! Follow us on Facebook! Follow us on Twitter! Visit our LinkedIn Profile!