MRT Butuh Jalur Sepanjang 18 KM

Diterbitkan  Kamis, 27 / 04 / 2017 9:22 - Berita Ini Sudah :  519 Dilihat

ILUSTRASI (NET)

CIPUTAT-Angkutan Cepat Terpadu Jakarta atau Mass Rapid Transit (MRT) dipastikan membuka jalur ke Kota Tangsel. Nantinya sistem transportasi cepat itu akan melintas sepanjang 18 kilometer dari Alam Sutera hingga perbatasan Lebak Bulus, Jakarta Selatan.

Pada pekan kemarin, salah satu perusahaan asal Cina yakni, PT BMI presentasi di Balaikota, Kecamatan Ciputat soal pembangunan MRT di Kota Tangsel.

Perusahaan ini juga sudah melakukan Feasibility Study (FS) berapa panjang yang akan melintasi Kota Tangsel dari mulai perbatasan Jakarta sampai mengitari jalan-jalan protokol di kota pemekaran dari Kabupaten Tangerang ini.

“Mereka ekspos di Balaikota terkait MRT termasuk rute yang akan dilewati. Tapi masuknya MRT ke sini belum tahu kapan. Usulan sih sudah masuk sejak tahun lalu ke Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek,” ungkap Sukanta, kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Tangsel.

Diperkirakan panjang MRT di Kota Tangsel mencapai 18 kilometer melintasi Jalan Ir H Juanda Ciputat mengarah ke Jalan Siliwangi Pamulang sampai Jalan Parakan, dan Balikota Tangsel.

Selain itu dari Jalan Siliwangi sampai Perempatan Muncul, Kecamatan Setu sampai ke Stasiun Rawabuntu Serpong, mengarah ke Jalan Pahlawan Seribu, WTC dan Alam Sutera hingga ke Kota Tangerang dan kembali lagi ke Pasar Jumat, Jakarta Selatan.

“Dari panjang sekitar delapan belas kilometer itu ada sekitar delapan pemberhentian. Pemberhentian direncanakan akan dibuka pada tempat-tempat dekat mal yang akan digunakan oleh banyak penumpang,” jelas Sukanta.

Estimasi dalam satu gerbong mampu mengangkut penumpang sebanyak 200 orang, dengan waktu per 15 menit berangkat. “Ini sangat efektif sekali dan mudah bagi masyarakat. Tentu mampu mengatasi kemacetan jalanan yang ke depan semakin padat,” papar mantan Camat Serpong Utara ini.

Sukanta memastikan Pemprov Banten juga sepakat, jika MRT melintasi wilayah Kota Tangsel, karena sebelumnya sudah mendapatkan sinyal. Dari skema yang dipaparkan oleh perusahan asal Cina itu, pembiayaan dilakukan oleh pihak ketiga, bukan dari dana APBD Tangsel.

“Pembangunan ini tidak akan mengganggu keuangan APBD Tangsel karena sifatnya kerjasama dengan pihak ketiga dan mereka yang membiayainya sampai tuntas,” sambung Sukanta.

Dana non APBD Tangsel itu termasuk untuk pembebasan lahan yang akan dilintasi MRT. Skema penggunaan lahan pun akan dilimpahakan pada masing-masing kewenangan yang ada. Misalnya jalan nasional akan dikembalikan pada pemerintah pusat, jalan provinsi pada Pemprov.

“Termasuk jalan kota akan ditangani oleh Pemkot Tangsel. Sebetulnya dalam pembangunan MRT penanaman tiang pancang tak perlu membebaskan lahan, tapi memanfaatkan lahan fasos-fasum yang ada. Ini sangat efektif sekali,” beber Sukanta.

MRT nantinya juga terkoneksi dengan Terminal Pondok Cabe, Kecamatan Pamulang hingga pintu Tol Serpong-Cinere, nantinya.

“Semua titik berkumpulnya penumpang, baik di Terminal Pondok Cabe perlintasan MRT sampai pada keseluruhan stasiun kereta api di Tangsel seperti Stasiun, Rawabuntu, Sudimara, Jurangmangu, dan Pondok Ranji. Biaya pengerjaan diprediksi menelan sekitar 15 triliun dengan lama pengerjaan mencapai sekitar 3 tahun,” terangnya.

Sebelumnya, Walikota Tangsel Airin Rachmi Diany berharap terpilihnya gubernur baru DKI Jakarta ada dampak positif bagi daerah penyangga seperti Kota Tangsel. Setidaknya kerjasama dua daerah ini bisa diperluas, tak hanya urusan infrastruktur, tapi juga bidang transportasi dan sosial seperti soal pengentasan kemiskinan.

Bagi Airin, DKI Jakarta tak mungkin bebas dari persoalan macet, banjir dan lain-lainnya yang juga melibatkan daerah penyangga. Persoalan semakin tumbuh seiring bertambahanya urbanisasi dari desa ke kota, maka dari itu kerjasama ini harus terus ditingkatkan untuk mengatasi persolan yang semakin bertambah.

Sementara, Calon Terpilih Wakil Gubernur DKI Jakarta, Sandiaga Uno saat menghadiri seminar entrepeneur di SMA Al Azhar BSD pada Rabu (26/4), memastikan akan memperhatikan penuh soal daerah penyangga seperti Kota Tangsel, termasuk soal membangun transportasi yang terkoneksi.

“Daerah penyangga ini harus dirangkul, kita semua tahu bahwa sebagian besar para pekerja di Jakarta bermukim di daerah penyangga seperti Tangerang Selatan, Kota Tangerang, Kabupaten Tangerang, Bekasi, Depok, dan Bogor,” kata Sandi.

Menurutnya, pembahasan persoalan transportasi, kemacetan, dan yang lainnya dengan daerah penyangga akan dilakukan setelah ia bersama Anies Baswedan dilantik sebagai pasangan gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta.

“Mempunyai kebijakan yang terintegrasi khususnya transportasi serta saling menghormati dan berkomunikasi yang lancar itu sangat penting nantinya,” tambah ia.

Ia pun sempat menyingung soal adanya penambahan dana hibah ke daerah penyangga. Menurutnya, hal itu akan dibicarakan dengan Anies Baswedan. “Belum ada secara spesifik akan ditambah dana hibah, tapi nanti akan kami kaji lagi,” tukas Sandi.(din)

Komentar Anda

comments


Subscribe to our RSS Feed! Follow us on Facebook! Follow us on Twitter! Visit our LinkedIn Profile!