Pojok Blandongan Budi Sabarudin


Ahok dan HTI

Diterbitkan  Sabtu, 13 / 05 / 2017 0:52 - Berita Ini Sudah :  1420 Dilihat

ILUSTRASI (NET)

Ada dua nama yang sampai saat ini masih populer di negeri ini. Ahok dan lembaga Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). Popularitas Ahok gara-gara menistakan agama Islam, sedangkan HTI dinilai antipancasila.

Popularitas Ahok makin kenceng setelah Majelis Hakim Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Utara menjatuhkan vonis dua tahun penjara. Lain halnya dengan HTI. Organisasi massa Islam itu akan dibubarkan Pemerintah.

Tentu saja massa pro Ahok, sampai saat ini masih meradang dan tidak menerima keputusan Majelis Hakim. Mereka kemudian beramai-ramai melakukan berbagai aksi unjuk rasa agar Ahok dibebaskan dari tuntutan hukum dengan dalih tidak bersalah.

Demikian juga dengan massa HTI. Mereka sampai saat ini pun masih saja membantah tudingan Pemerintah. Menurut mereka HTI tidak antipancasila. Mereka juga siap kalua urusan ini sampai ke pengadilan.

Agama dan Pancasila di negeri ini adalah dua teks yang bisa dikatakan sensitif dan bahkan bisa dikatagorikan “sakral”. Karena itu, ketika ada orang atau pihak-pihak tertentu melecehkan, menyudutkan, dan menistakan agama tertentu dan Pancasila, maka urusannya bisa sangat fatal, bisa sampai ke meja pengadilan.

Hal itu juga dialami Ahok ketika melakukan kerja ke Pulau Seribu. Saat itu Ahok dalam kapasitasnya sebagai Gubernur DKI Jakarta. Dalam pertemuan itu, Ahok mengatakan kepada warga jangan percaya surat Almaidah 51. Pernyataan itu kemudian menjadi masalah hingga akhirnya Ahok harus mendekam di penjara.

Sementara itu, HTI dalam pergerakan dakwahnya dikabarkan ingin menegakan khilafah Islamiyah di Bumi Pertiwi ini. Tentu saja gerakan dakwah seperti ini menjadi sensitif karena dinilai banyak kalangan sebagai upaya untuk mengubah ideologi Pancasila. Padahal Pancasila sebagai dasar negara dan pandangan hidup bangsa.

Apa yang dilakukan Ahok dan HTI, bagi pemimpin di negeri ini menjadi sangat penting. Demikian juga dengan masyarakat. Pemimpin harus selalu hati-hati dalam menjaga mulut agar tidak keseleo seperti Ahok, sedangkan bagi masyarakat sejatinya tidak mudah tergoda masuk organisasi massa tertentu.

Pertimbangan-pertimbangan tersebut menjadi sangat penting, agar pemimpin menjadi teladan bagi masyarakatnya dan masyarakat tidak menjadi korban dan terombang-ambing oleh segelintir orang yang memiliki kepentingan dengan mengatasnamakan organisasi massa Islam. (*)

Komentar Anda

comments


Subscribe to our RSS Feed! Follow us on Facebook! Follow us on Twitter! Visit our LinkedIn Profile!