Pojok Blandongan Budi Sabarudin


Ketoprak Reklamasi

Diterbitkan  Sabtu, 20 / 05 / 2017 0:16 - Berita Ini Sudah :  543 Dilihat

ILUSTRASI (NET)

Sejak Anies Baswedan-Sandiaga Uno terpilih menjadi Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta, saya menduga-duga urusan reklamasi Teluk Jakarta bakal ramai lagi. Tidak hanya ramai, tapi urusan itu bisa bikin kepala pusing, dan bisa juga makin panas.

Kok bisa seperti itu? Ya, iyalah. Soalnya Anis-Sandi sudah pasti menolak mega proyek reklamasi itu, sedangan Menko Maritim Jendral (Purn) Luhut Binsar Panjaitan, sampai sekarang ini nih keukeuh bae pengen proyek gede jasa itu dilanjutkan.

Perbedaan pendapat itu sangat menarik, namun perbedaan Anies-Sandi sabagai representasi dari Pemerintah DKI Jakarta dan Luhut Binsar Panjaitan sebagai kepanjangan tangan Pemerintah Pusat, terkesan menjadi dagelan yang menggelikan. Mirip pertunjukan ketoprak, atau bisa mirip stand up comedy.

Kok bisa seperti itu, Bro? Ya, iyalah. Masak sama-sama orang Pemerintah tidak kompak, tidak bisa satu irama dalam satu kebijakan. Gimana sih? Kalau Pemerintah saja sudah tidak kompak dan ribut mulu, apa kata masyarakat. Itu mah bukan contoh yang keren buat rakyat, euy!

Atas dasar perbedaan pendapat itu, masyarakat bisa bertanya macem-macem. Namun pertanyaan yang paling banyak muncul, begini : “Ada kepentingan apa sih dengan proyek reklamasi?”

Nah, kalau Anies-Sandi menolak reklamasi itu dilanjutkan hanya karena untuk membela kepentingan masyarakat, maka penolakan itu harus didukung masyarakat DKI Jakarta dan sekitarnya. Anies0Sandi harus dikasih jempol, karena sudah pro rakyat.

Kalau Luhut Binsar Panjaiatan ingin terus melanjutkan reklamasi itu, misalnya, ini misalnya loh, hanya karena kepentingan segelintir orang, misalnya untuk para pengusaha elit saja, atuh pantes aja kalau Anies-Sandi menolak reklamasi itu.

Rakyat mah, baik rakyat DKI Jakarta, apalagi para nelayan yang ada di sekitar Teluk Jakarta, termasuk rakyat-rakyat yang ada sekitaran DKI Jakarta, kayaknya pengen reklamasi itu ditolak aja.

Lah, akhir-akhir ini saja ikan sudah begitu sulit dicari sama nelayan. Kalau pun toh nelayan masih ingin dapat ikan, maka mancing ikannya harus jauh sampai ke tengah laut, bahkan sampai jauh nyebrang pulau segala.

Jadi, kalau reklamasi Teluk Jakarta itu dilanjutkan, apalagi katanya yang direklamasi itu bukan urusan lahan sehektar dua hekar lahan, tapi sampai ratusan dan ribuan hektar, atuh makin serem aja. Nelayan bisa mati, karena mata pencahariannya udah diuruk kayak begitu. (*)

Komentar Anda

comments


Subscribe to our RSS Feed! Follow us on Facebook! Follow us on Twitter! Visit our LinkedIn Profile!