Pojok Blandongan Budi Sabarudin


Saweran Opini Wajar Tanpa Pengecualian

Diterbitkan  Sabtu, 03 / 06 / 2017 0:25 - Berita Ini Sudah :  375 Dilihat

ILUSTRASI (NET)

Kata “saweran” biasanya ditujukan untuk penyanyi dangdut. Artinya, ketika penyanyi dangdut itu sedang mentas membawakan lagu-lagu dangdut plus dengan goyangan-goyangannya yang aduhai, ada saja penonton yang nyawer (memberi uang).

Dengan penuh semangat, penonton itu biasanya naik ke atas pentas, bernyanyi dan berjoged bersama penyanyi dangdut, sambil mengeluarkan uang saweran yang diberikan kepada penyanyi dangdut itu.

Saya sendiri tidak tahu kapan tradisi nyawer kepada penyanyi dangdut itu dimulai. Namun yang jelas, tradisi nyawer itu memang ada dan sudah menjadi budaya dalam kehidupan masyarakat modern saat ini.

Tetapi rupanya tradisi saweran itu tidak hanya berlaku bagi penyanyi dangdut saja atau kepada anak yang baru disunat dan sinden saja seperti yang terjadi di kampung saya dulu, namun juga sudah bergeser begitu jauh kepada profesi-profesi lain.

Paling tidak itu merujuk pada pendapat Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Agus Rahardjo, usai menangkap pejabat Esselon I Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Rochmadi Saptogiri, beberapa waktu lalu.

Kenapa auditor BPK itu ditangkap? Katanya menerima uang saweran dari Inspektur Jenderal Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Kemendes-PDTT) Sugito.

Selain menangkap Rochmadi dan Sugito, KPK menangkap juga pejabat Eselon III Kemendes Jarot Budi Prabowo dan auditor utama BPK Ali Sadli. Suap itu diduga terkait pemberian opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) atas laporan keuangan Kemendes.

“Kelihatannya saweran itu dari dalam, dikumpulin, banyak. Kelihatannya minta dari Dirjen-dirjen,” ujar Agus kepada sejumlah wartawan, di Kantor PBNU Jakarta, Selasa (30/5/2017).

Saya yang melihat kabar penangkapan auditor BPK dari televisi sempat tertegun campur aneh dan terkaget-kaget juga. Bukankah auditor BPK itu orang-orang profesional di bidang pemeriksaan keuangan? Kok bisa kena uang saweran kayak penyanyi dangdut, anak yang baru disunat, dan sinden-sinden?

Pikiran saya kemudian melayang-layang kepada intansi-intansi pemerintah, termasuk Pemda-Pemda yang telah mendapat penghargaan opini WTP dari BPK berturut-turut hingga beberapa kali.

Namun saya tidak berani menghakimi bahwa pemberian WTP kepada Pemda-Pemda itu diwarnai saweran juga. Saya hanya berdoa saja semoga semuanya berjalan sesuai prosedur penilaian yang benar.

Dan yang jelas, bukan hanya rocker saja yang manusia itu, akan tetapi auditor BPK pun manusia juga. Dalam budaya kekinian yang semuanya serba dihitung dengan angka, uang, dan ekonomi, bisa saja auditor lupa diri hingga akhirnya kena uang saweran. (*)

Komentar Anda

comments


Subscribe to our RSS Feed! Follow us on Facebook! Follow us on Twitter! Visit our LinkedIn Profile!