Pojok Blandongan Budi Sabarudin


SAYA, TEMAN, DAN BUDAYA PULANG KAMPUNG

Diterbitkan  Senin, 03 / 07 / 2017 11:18 - Berita Ini Sudah :  188 Dilihat

ILUSTRASI (NET)

Budaya adalah aspek kehidupan manusia dalam masyarakat, yang diperoleh dengan cara belajar, termasuk pikiran dan tingkah laku.

Marvin Harris dalam Prof Dr Nyoman Kutha Ratna, S.U., “Sastra dan Cultural Studies, Representasi Fiksi dan Fakta” (2010 : 5).

Walaupun pulang kampung atau biasa juga disebut mudik (mulang/pulang ke udik/kampung) sudah menjadi budaya kaum urban, namun saya jarang pulang kampung. Banyak faktor memang. Akibatnya, saya tidak tahu perkembangan dan perubahan kampung secara kekinian.

Tapi lebaran 1438 Hijriyah di tahun 2017 ini, saya bisa pulang kampung. Kampung saya sudah berubah. Dulu, di sepanjang jalan desa ditumbuhi pohon rindang dan hijau, namun sekarang sudah banyak warung dan toko.

Alun-alun yang dulu dipenuhi dengan rumput dan tempat saya main bola, volly, dan nonton film misbar (gerimis bubar), sekarang sudah menggunakan konblok.

Danau besar (kami menyebutnya situ) juga sudah berubah. Atas nama ekonomi dan pariwisata, pemerintah membuka danau itu untuk wisatawan. Kawasan danau pun menjadi ramai didatangi pengunjung dari berbagai lintas desa, kota, dan provinsi.

Meski danau itu kehilangan keheningan dan kesunyiannya, tapi diam-diam ia masih menyimpan aura mistisnya yang kuat dan tak terlihat. Ini harus diwaspadai para pengunjung, hindari tingkah laku, ucapan, dan pikiran yang kotor.

Saya akui pangling melihat desa saya. Sebab desa saya, Desa Wanayasa, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, sudah begitu ramai dan sudah begitu tampak kemajuannya. Di kampung saya sudah ada sejumlah bank plus dengan ATM-nya. Sekolah bertambah dan sudah ada toko-toko ritel modern. Rumah-rumah penduduk pun sudah banyak yang bagus.

Namun budaya teman-teman saya, meski sudah ditinggalkan puluhan tahun, termyata tidak mengalami perubahan. Itu yang membuat saya bangga. Kisahnya berawal dari temen SMP saya yang mengajak bertemu dengan alasan kangen, karena sudah puluhan tahun tidak bertemu.

Sore-sore ketika hujan rintik mulai turun, saya bertemu dengan lima orang temen di masa SMP di salah satu rumah teman saya. Hidup mereka sudah mapan. Ada yang menjadi Kepala SD, Kepala SMP, pengusaha dan pedagang sukses serta ada juga yang pernah bekerja di Korea dan Arab Saudi.

Lantas di mana budaya yang tidak berubahnya itu? Tentu saja perlakukan mereka terhadap saya yang penuh keadaban. Kami bercaka-cakap dengan bahasa Sunda halus.

Dalam kontek budaya, komunikasi dengan bahasa Sunda halus ini menjadi penting, karena walau bagaimana pun, bahasa yang baik mencerminkan kepribadian penggunannya. Bahkan lebih jauhnya mencerminkan kepribadian masyarakatnya pula.

Dulu juga para orang tua di kampung saya itu, budayanya memang seperti itu. Budaya itu ternyata masih ada dan hidup dalam diri teman-teman saya.

Mereka secara tidak langsung belajar tentang kebudayaan itu dari orang tuanya masing-masing, bagaimana cara memperlakukan teman lama dengan penuh dengan keadaban dan memuliakan bahasa Sunda hingga kini. (*)

Komentar Anda

comments


Subscribe to our RSS Feed! Follow us on Facebook! Follow us on Twitter! Visit our LinkedIn Profile!