Pojok Blandongan Budi Sabarudin


Ndeso Kaesang Pangarep Dipolisikan

Diterbitkan  Senin, 10 / 07 / 2017 0:56 - Berita Ini Sudah :  127 Dilihat

ILUSTRASI (NET)

Di era teknologi komunikasi yang canggih seperti saat ini, banyak orang mendadak autis. Salah satunya gampang sekali menampilkan foto-foto di instagram, menulis pernyataan di twitter dan facebook, atau video di media youtube.

Foto-foto apa saja, termasuk yang nyeleneh-nyeleneh dan gila-gilaan, seperti menjulurkan lidah, mata melotot, dan mulut menganga, yang di jaman baheula dianggap tidak sopan, sekarang malah jadi tren atau jadi kekinian.

Begitu juga video yang aneh-aneh bisa diunggah. Sebut misalnya video lagi gigit bakso, kedipan mata berkali-kali, foto pamer mesra sama pacar, istri atau suami di dalam mobil, itu bisa dilihat dalam video log (Vlog) di media sosial.

Melalui media sosial juga, sekarang banyak orang bisa ngomong apa saja. Mereka tidak lagi mempertimbangkan berbagai aspek agama, bahasa, etika, sosial, budaya, dan politik. Omongan mereka asal jeplak. Begitu juga yang memberikan tanggapan banyak yang asal komen.

Akibat perilaku seperti itu, banyak orang yang tersinggung, terganggu, dan tidak nyaman. Selain itu juga banyak orang secara sosial, agama, politik, dan budaya menjadi resah. Tak hanya itu, akibat perilaku itu, banyak juga orang yang harus beurusan dengan hukum.

Tak heran jika sekarang ini ada saja orang yang digugat atau dilaporkan ke aparat hukum gara-gara salah ngomong di media sosial, dari mulai rakyat biasa sampai pejabat dan anak-anaknya. Bahkan ada yang sudah divonis bersalah oleh majelis hakim dan harus mendekam di dalam penjara.

Baru-baru ini misalnya, Kaesang Pangarep putra sang pembesar Presiden RI Joko Widodo, yang selalu aktif dalam dunia maya atau media sosial, dilaporkan ke polisi. Loh kenapa? Ya, katanya mah gara-gara ucapan dia di video blog (vlog) dengan judul #BapakMintaProyek.

Ini kata-kata yang diucapkan Kaesang seperti yang dikutip beberapa media massa, “Mengadu-adu domba dan mengkafir-kafirkan, nggak mau menyalatkan padahal sesama Muslim karena perbedaan dalam memilih pemimpin, apaan coba, dasar ndeso.”

Akibat tulisan itu, termasuk kata “ndeso”, seseorang yang mengaku bernama Muhammad Hidayat rupanya tersinggung. Dia menilai kata-kata Kaesang itu mengandung kebencian, lalu dilaporkanlah ke Polres Bekasi dengan nomor LP/1049/K/VII/2017/SPKT/Restro Bekasi Kota, tertanggal 2 Juli 2017.

Di lingkungan orang Jawa, kata Ndeso bisa saja diartikan kampungan. Kata itu juga secara kultural sering dijadikan bahan guyonan oleh mereka.

Tapi jangan salah, di negeri ini dengan penduduknya yang majemuk atau plural, kata atau bahasa dalam kalimat tertentu bisa dirasakan, diartikan, dan dipersepsikan berbeda oleh penduduk yang berbeda suku, tempat, atau budaya.

Dunia media sosial memang cenderung bebas, seperti tak ada nilai dan etika, namun siapa pun yang bermain-main di dalamnya tetaplah hati-hati. Jika tidak bisa berurusan dengan hukum. (*)

Komentar Anda

comments


Subscribe to our RSS Feed! Follow us on Facebook! Follow us on Twitter! Visit our LinkedIn Profile!