Koperasi Syariah BMI Sediakan Rumah DP 0

Diterbitkan  Jumat, 21 / 07 / 2017 10:38 - Berita Ini Sudah :  273 Dilihat

KELAPA DUA – Bagi pelaku usaha kecil sangat tidak mudah memiliki rumah karena harganya seringkali tidak masuk akal. Namun demikian mereka tidak perlu pesimis atau kecil hati mengingat sudah ada program mendapatkan rumah tanpa uang muka.

“Koperasi kami sudah memiliki program rumah tanpa uang muka,” kata Ketua Koperasi Syariah Benteng Mikro Indonesia (BMI) Komarudin Batubara di kantornya yang bersih di kawasan Gading Serpong, Kecamatan Kelapa Dua, Kabupaten Tangerang, baru-baru ini.

Namun program tersebut tidak berlaku bagi semua pelaku usaha kecil, kecuali yang sudah terdaftar sebagai anggota Koperasi Syariah BMI. Karena itu, para pelaku usaha mikro yang ingin mendapat program tersebut harus menjadi anggota terlebih dulu. Caranya dengan membayar simpanan pokok Rp 10.000 dan simpanan wajib bebas atau minimal Rp 5 ribu.

Menurut Komarudin, pembiayaan program rumah DP (Down Payment) nol ini dilakukan secara syariah, sehingga akad jual belinya dilakukan dua kali, yakni pihak koperasi dengan tukang yang mengerjakan proyek rumah dan pihak koperasi dengan anggota koperasi atau calon pembeli rumah tersebut.

Pada saat akad dengan calon pembeli pihak koperasii menyebutkan terlebih dulu modal pengerjaan rumah tersebut. “Kalau model syariah memang harus seperti itu. Modal pengerjaan rumah atau harga pokok itu harus disampaikan kepada anggota secara terbuka atau transparan, tidak boleh ditutup-tutupi,” tuturnya.

Cara pembayaran rumah kemudian diterangkan kepada calon pembeli yakni dicicil, misalnya lima atau sepuluh tahun dan disebutkan jumlah pembayaran per bulannya. “Jadi kepada anggota diberitahukan berapa cicilan per bulannya,” terangnya.

Hal itu berlaku juga bagi program-program lain yang ada di Koperasi Syariah BMI, seperti pembiayaan sarana air dan sanitasi, misalnya pembangunan torn air, kamar mandi, dan septitank. “Itu juga menggunakan model syariah, akadnya dua kali, dan pembayarannya dicicil,” urainya.

Cicilan untuk rumah tanpa uang muka atau sarana air dan sanitasi itu tidak boleh berubah dalam setiap bulannya hingga jangka waktu pembayaran yang sudah disepakati bersama. “Tidak boleh berubah, kalau berubah itu bukan syariah lagi namanya,” kata dia.

Tentu saja cara pembayaran seperti itu menjadi ciri khas koperasi syariah sekaligus juga menjadi pembeda dengan pola pembayaran di bank-bank konvesional. “Kalau di bank-bank konvensional biasanya cicilan itu bisa berubah-ubah,” terangnya.

Ketika ditanya bagaimana jika pembayaran itu mengalami kemacetan, Komarudin menerangkan bahwa koperasi syariah itu modalnya kepercayaan antarapihak koperasi dengan pembeli, yang berlandaskan pada Surat Albaqarah 282 dan 283.

“Di awal jual beli kita jelaskan kepada pembeli bahwa pembiayaan koperasi ini dilakukan secara syariah. Makanya bagi umat Islam, kalau bicara utang itu, urusannya tidak hanya di dunia tapi sampai akherat. Jadi ghirah dalam bisnis syariah ini kepercayaan yang berlandaskan pada ajaran-ajaran Islam,” katanya.

Namun kalau memang benar nggota itu tidak sanggup atau tidak mampu membayar lagi, maka perlakuan Koperasi BMI terhadap anggota itu berbeda dengan bank-bank konvensioal. “Kalau di bank konvensioanl bisa saja ada yang disita. Model syariah tidak sperti itu, tapi dibebaskan dari utang,” ucapnya.

Bagaimana jika kebijakan seperti itu dimanfaatkan oknum-oknum tertentu, Komarudin mengaku kekhawatiran itu sifatnya normal. Karena itu, pihaknya selalu selektif dalam memberikan pembiayaan atau jual beli kepada para anggotanya.

“Kalau berdasarkan catatan yang ada pada kami, kasus semacam itu sangat kecil sekali. Per tahun hanya sekitar 0,4 persen saja dari jumlah anggota yang sampai saat ini sudah mencapai 132 ribu orang,” ungkap Komarudin, menjelaskan.

Dikatakan Komarudin, selain memiliki program pembiayaan syariah, Koperasi Syariah BMI juga memiliki program simpan pinjam untuk para anggotanya yang umumnya para pelaku usaha mikro. “Pinjaman buat mereka bisa sampai Rp 5 juta,” papar dia.

Terkait dengan program simpan pinjam, diuraikan Komarudin, jika semakin banyak anggota yang menimpan uangnya di koperasi, maka koperasi itu akan semakin maju, kuat, dan berkembang serta ada Sisa Hasil Usaha (SHU) untuk anggota.

Koperasi BMI juga tidak hanya memiliki program-program bisnis semata, akan tetapi memiliki program sosial seperti membangun rumah layak huni secara gratis. “Kami sudah membangun 34 rumah, dan tahun sekarang akan dibangun lagi 24 rumah.

Program sosial lainnya santunan 1.000 anak yatim, sunatan massal, dan pendidikan paket C,” terang Komarudin. (bud)

Komentar Anda

comments


Subscribe to our RSS Feed! Follow us on Facebook! Follow us on Twitter! Visit our LinkedIn Profile!