Hari Puisi Nasional Ungkap Pentingnya Puisi Anak-anak

Diterbitkan  Rabu, 02 / 08 / 2017 14:40 - Berita Ini Sudah :  198 Dilihat

PENGHARGAAN. Dewan Penasehat Komunitas Penulis Nyi Mas Melati (KPNM) Tangerang Edy Wahyu (kiri) bersama Ketua KPNM D Pebrian (kanan) memberikan piagam penghargaan kepada dua bintang tamu Rini Intama (penyair perempuan Indonesia) dan Saeful Albarokmaks (seniman Banten dan dosen UMT) dalam acara perayaan Hari Puisi Indonesia 2017 di Gedung Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah (DPAD) Kota Tangerang, Sabtu (29/7).

TANGERANG – Kehidupan anak-anak sampai saat ini masih termarjinalkan dalam urusan literasi. Salah satunya jarang sekali ada karya sastra seperti puisi khusus untuk kalangan anak-anak.

Hal itu mengemuka dalam Bincang Sastra Bersama Rini Intama di Lt IV Gedung Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah (DPAD) Kota Tangerang, Jalan Ahmad Yani, Kota Tangerang, Sabtu (29/7).

Acara tersebut digagas para penulis muda yang tergabung dalam Komunitas Penulis Nyi Mas Melati (KPNM) Tangerang dalam rangka merayakan Hari Puisi Indonesia (HPI) tahun 2017.

Peserta bincang sastra berasal dari kalangan pecinta sastra, pelajar, dan kampus, seperti Bale Sastra Batuceper, MAN 1 Cipondoh, SMK Mawar Sharon, Universitas Pamulang (Unpam), STIE Insan Pembangunan Bitung, dan Universitas Muhammadiyah Tangerang (UMT).

Ahmad Rosidi, salah satu peserta bincang sastra yang juga Vloger dan Yutuber, mengaku kesulitas mencari puisi anak-anal, khususnya untuk usia 7 dan 11 tahun. “Saya cari di media-media, sulit sekali mencari puisi untuk anak-anak,” katanya.

Menurut Rosidi, akibat kesulitan mencari puisi-puisi, maka dia juga kesulitan mengenalkan sastra kepada anak-anaknya di rumah. “Ini harus ada solusinya agar anak-anak bisa mendapat pelajaran dan pengalaman dari membaca puisi,” paparnya,

Hal itu juga dikatan Edy Wahyu, Dewan Penasehat KPNM. Namun menurut dia, perlu didefinisikan terlebih dulu tentang puisi anak-anak, apakah itu yang ditulis anak-anak atau puisi anak-anak yang ditulis orang dewas. “Itu perlu diperjelas,” katanya.

Menurut Edy, yang juga Pegawai Negeri Sipil (PNS) di lingkungan Pemerintah Kota Tangerang Selatan (Pemkot Tangsel) ini, soal puisi anak-anak ini harus dijadikan pekerjaan rumah.

“Ini pekerjaan rumah komunitas, bagaimana menyediakan puisi akan-anak untuk bahan bacaan sastra anak-anak,” ujar Edy, yang juga alumi Universitas Padjadjaran Bandung (Unpad) ini.

Rini Intama juga mengakui hal itu. Namun menurutnya, puisi anak-anak alangkah baiknya ditulis oleh anak-anak itu sendiri, karena mereka yang lebih mengerti tentang dunia dan bahasanya.

“Bahasa anak-anak itu biasanya sederhana. Karena itu, ajaklah mereka menulis puisi dengan bahasa mereka, dengan dunia mereka, dengan pikiran mereka sendiri,” ungkap Rini, yang juga Juara Menulis Buku Kumpulan Puisi tahun 2016 lalu.

Dalam kesempatan itu juga ada peserta yang menyinggung tema lain, seperti sulitnya menuangkan ide atau gagasan ke dalam bentuk puisi dan sulitnya mencari diksi-diksi yang tepat.

Tidak hanya itu, ada juga peserta yang menanyakan, apakah dalam menulis puisi itu boleh keluar bahasa-bahasa baku. Selain itu juga ada yang menanyakan tentang posisi perempuan dalam dunia tulis menulis.

“Semua itu kuncinya adalah membaca. Kalau kita mau menulis karya sastra, khsusunya puisi, harus banyak-banyak membaca yang diiringi dengan rasa jatuh cinta pada sastra. Kalau itu sudah dimiliki maka puisi yang akan kita tulis akan mengalir,” katanya.

Sekedar informasi acara tersebut diramaikan juga juga dengan berbagai penampilan seperti musikalisasi puisi D Pebrian dan musisi senior Dewo, celoteh puisi oleh Budi Sabarudin, pembacaan puisi oleh Suryani, Ayu Anggraini, Fiki Fauzi, Dede dan kawan-kawan dari SMK Mawar Sharon, Yusran, Saeful Albaromaks dan Rini Intama, serta monolog puisi Pola Malinda. (bud)

Komentar Anda

comments


Subscribe to our RSS Feed! Follow us on Facebook! Follow us on Twitter! Visit our LinkedIn Profile!