Pojok Blandongan Budi Sabarudin


HUKUM BAGI TORA SUDIRO

Diterbitkan  Sabtu, 05 / 08 / 2017 0:20 - Berita Ini Sudah :  335 Dilihat

ILUSTRASI (NET)

Tora Sudiro ditangkap polisi. Artis yang lebih dikenal memiliki tato di beberapa bagian tubuhnya itu sudah ditetapkan sebagai tersangka karena memiliki obat psikotropika.

Seperti diberitakan di beberapa media, rumah Tora di Kompleks Baliview, Tangerang Selatan (Tangsel) digerebek polisi, Kamis (3/8). Dalam penggeledahan itu ditemukan sekitar 30 butir dumolid di kamar mandi yang terletak di dalam kamar tidur.

Selanjutnya polisi memeriksa urine Tora melalui uji labfor, dan hasilnya positif positif menggunakan benzodiazepin. Pemain film Warkop DKI Reborn ini membeli dumolid dari temannya Rp 250 ribu per setrip.

Selama diperiksa polisi, Tora mengaku selama satu tahun ini menggunakan obat tersebut untuk penenang diri. Padahal obat itu tergolong keras dan dan jika dikonsumsi melanggar undang-undang.

Menurut keterangan pihak kepolisian, akibat kepemilikan obat dumolid itu, Tora ditahan dan dijerat Pasal 62 Undang-Undang Psikotropika Nomor 5 Tahun 1997. Ancaman hukumannya tidak main-main loh, 5 tahun penjara denda Rp 100 juta.

Kita tentu bangga dengan kinerja kepolisian yang telah menangkap dan menetapkan Tora sebagai tersangka. Sebab, siapa pun, entah itu artis, pejabat, pengusaha, politisi, akademisi, atau manusia biasa sekalipun, di mata hukum tetap sama.

Artinya di negeri ini, siapa pun yang bersalah dan melanggar aturan, seperti mengkonsumi obat-obatan yang dilarang oleh undang-undang, tetap harus diproses secara hukum, dan jika selama proses pengadilan itu terbukti bersalah, maka harus dihukum.

Hukum harus ditegakkan setegak-tegaknya, dan seadil-adilnya. Hukum tidak boleh pandang bulu. Hukum juga tidak boleh lancip ke bawah, namun tumpul ke atas. Kalau hukum sudah diperlakukan seperti ini, maka hukum akan berwiba dan kehidupan masyarakat pun akan lebih taat, patuh, dan tertib.

Namun pertanyaan kemudian, benarkah hukum sudah diberlakukan seperti ini di negeri yang tercinta ini? Faktanya memang masih ada terdakwa dalam berbagai kasus seperti ini, termasuk korupsi misalnya, masih divonis ringan oleh majelis hakim.

Bahkan ada kalanya yang mengkonsumsi obat-obatan itu cukup direhabiitasi, dengan alasan tersangka itu bukan pengedar, namun pemakai. Belum lagi diembel-embeli, tersangka hanyalah korban jaringan obat-obatan nasional dan internasional.

Pertanyaannya lagi, apakah nasib Tora juga akan dimanjakan seperti itu karena dirinya orang beken? Artinya hanya akan dihukum ringan atau direhabilitasi saja? Tentu saja kita tidak bisa mendahului hasil pemeriksaan pihak kepolisian atau keputusan majelis hakim. Sebab hal itu ranah para penegak hukum.

Hanya saja, kita sebagai anak bangsa, sudah biasa merasakan kepedihan, maling ayam dihajar massa habis-habisan hingga babak belur dan kemudian dihukum berat, sedangkan kesalahan orang-orang berpengaruh dan punya nama seringkali divonis ringan.

Mudah-mudahan cerita maling ayam itu cerita zaman dulu, sekarang tidak begitu ‘kan? Silahkan Anda menjawab dengan tertawa. (*)

Komentar Anda

comments


Subscribe to our RSS Feed! Follow us on Facebook! Follow us on Twitter! Visit our LinkedIn Profile!