Pojok Blandongan Budi Sabarudin


Merayakan Kemerdekaan Utang

Diterbitkan  Sabtu, 12 / 08 / 2017 0:18 - Berita Ini Sudah :  222 Dilihat

ILUSTRASI (NET)

“Hati-hati duit itu selalu mengundang musuh.” Pramoedya Ananta Toer dalam Muhammad Muhibbudin “Catatan dari Balik Penjara” (2015 : 8).

Hanya dalam hitungan hari, bangsa Indonesia akan merayakan Hari Kemerdekaan ke-72. Tentu, seperti tahun-tahun sebelumnya dan ini sudah menjadi tradisi yang sangat panjang, hari kemerdekaan itu pasti disambut dengan berbagai kegiatan yang penuh dengan gegap gempita dan suka cita oleh bangsa ini.

Memang, sudah semestinya hari kemerdekaan itu disambut dan dirayakan sedemikian rupa, karena kemerdekaan itu sesungguhnya hal yang paling hakiki yang haus dimiliki setiap manusia dan negara di mana pun itu berada.

Sebaliknya, tidak boleh juga ada manusia lain yang menjajah negara lain. Jika hal itu masih terjadi maka negara itu sudah mengingkari arti kemerdekaan itu sendiri.

Pada hari hemerdekaan yang jatuh pada tanggal 17 Agustus itu, seolah-olah tidak ada anak bangsa ini yang berduka dan sedih, semuanya gembira menyambut hari yang sangat bersejarah itu.

Mereka larut dalam berbagai kegiatan, seperti lomba panjang pinang, lomba makan kerupuk, lomba gebuk bantal, dan permainan lainnya serta berbagai aktifitas lainnya pula.

Merayakan kemerdekaan dengan cara-cara seperti itu tentu tidak ada salahnya, apalagi itu sudah menjadi tradisi dalam kehidupan bangsa, terlebih dengan niat membangun jiwa nasionalisme dan kebersamaan.

Namun merayakan hari kemerdekaan semestinya dijadikan momentum untuk terus melakukan perenungan, terutama untuk para penyelenggara negara atau pemangku kekuasan, para pengusaha kelas kakap, dan juga masyarakat.

Salah satu yang patut direnungi adalah soal utang negara ini. Menurut Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution utang pemerintahan saat ini sudah mencapai Rp 3.700 triliun. Utang itu katanya sudah ada sejak pemerintahan sebelumnya. Waktu Jokowi dilantik, utangnya sudah Rp 2.700 triliun.

Uang sebanyak itu tentu bukan main-main, karena betapa luar biasa banyaknya dan luar biasa besarnya. Yang tidak kalah penting, bagaimana mengembalikan utang itu. Ah, jangankan mengembalikan uang yang begitu besar, jika kita memiliki utang kecil-kecilan saja, ampun sangat sulit mengembalikannya.

Namun utang tetaplah utang. Artinya utang itu harus dibayar. Namun utang dalam kontek antarnegara bukanlah persoalan utang biasa, seperti logika rakyat yang pinjang uang ke koperasi atau ke tetangga, saudara, atau ke teman. Utang antarnegera itu dampak politisnya sangat besar dan rumit.

Sebagai anak bangsa, saya sendiri bingung, kok negara yang sedemikian kaya dengan sumber alamnya bisa punya utang sebegitu banyaknya. Jika penguasa berganti dalam lima atau sepuluh tahun, toh uang tetap saja ada dan penguasa selanjutnya berkewajiban membayar utang-utang itu.

Negara yang memiliki utang, apalagi utang itu begitu banyak dan menumpuk seperti gunung, tidak akan memiliki kehormatan di mata negara-negara lain, apalagi di mata negara yang diutangi itu.

Karena itu, utang harus segera dibayar, karena utang itu ada masa pinjamnya. Terlebih dengan utang itu, orang bisa bermusuhan dan bahkan bisa sampai saling bunuh.

Dengan cara apa membayar utang? Ya, dengan cara apa pun utang harus dibayar agar negara ini tidak dipandang rendah negara lain. Tentu membayar utang itu harus dilakukan dengan cara-cara yang cerdas. Kalau membayar utang negara dengan cara menjual kekayaan sumber daya alam, ah… itu logika orang bodoh. (*)

Komentar Anda

comments


Subscribe to our RSS Feed! Follow us on Facebook! Follow us on Twitter! Visit our LinkedIn Profile!