MTsN 2 Tangerang Aktif Bangun Gerakan Literasi

Diterbitkan  Senin, 11 / 09 / 2017 9:47 - Berita Ini Sudah :  303 Dilihat

GERAKAN LITERASI. Puluhan siswa-siswa MTsN 2 Tangerang mengangkat buku bacaan di Teras Baca Afifa di sekolah tersebut di Kecamatan Tigaraksa, baru-baru ini. Teras baca ini aktif menggelar gerakan literasi.

TIGARAKSA – Untuk membangun budaya baca di kalangan siswa dan guru, MTsN 2 Tangerang yang berlokasi di Kecamatan Tigaraksa menggulirkan program Gerakan Literasi secara masif.

Demikian kata Ahmad Hanapiyah, Penanggungjawab Gerakan Literasi MTsN 2 Tangerang kepada Tangerang Pos/Tangsel Pos, bar-baru ini. “Untuk mendukung program itu, kami membuka Teras Baca Afifa,” katanya, Jumat (8/9).

Teras baca itu sambung dia disediakan di selasar atau koridor sekolah di lantai dasar. Selain itu juga di masing-masing kelas disediakan pojok baca. Kedua fasilitas itu disediakan untuk seluruh siswa

“Kami aktif menggelar kegiatan membaca 15 menit sebelum siswa masuk kelas dan membaca senyap kolosal yang melibatkan seluruh siswa. Membaca kolosal dihelat di halaman sekolah. Guru-guru juga dalam kegiatan itu harus ikut membaca,” ujarnya.

Dijelaskan Hanapiyah, selain kegiatan membaca, Gerakan Literasi MTsN 2 Tangerang juga menggelar berbagai kegiatan yang ada kaitannya langsung dengan membangun membangun budaya baca, seperti mendantangkan para seniman.

Salah satunya, Gerakan Literasi MTsN 2 Tangerang bekerjasama dengan Dongeng Center Tangerang (DCT) menghadirkan pendongeng atau pencerita Budi Sabarudin atau Kang Budi, yang juga Redaktur Tangsel Pos (Grup Jawa Pos), Jumat (8/9).

“Kami bekerjasama dengan DCT karena secara kebetulan memiliki program Dongeng Keliling Sekolah, yang tujuannya sama dengan kami membangun gerakan literasi,” terang Hanapiyah.

Menurut dia, pada pukul 10.00 WIB, Kang Budi berada di kelas 7.4 membawakan cerita Ular yang Lapar. Kegiatan bercerita itu disaksikan guru kelas 7.4 Bu Sutri Handayani dan pendiri Teras Baca Afifa, Diah yang juga guru BK .

“Cerita yang dibawakan Kang Budi menarik. Untuk menyampikan cerita itu, ia menggunakan seluruh bagian tubuhnya. Intonasinya begitu fasih dan menghayati peran tokoh dalam cerita. Anak-anak pun tersenyum, tertawa, bahkan ada yang meneteskan air mata mendengarkan cerita fabel penuh fantasi itu,” ujarnya.

Pada akhir kegiatan, siswa diminta menuliskan simpulan, hikmah cerita, serta menilai penampilan mendongeng Kang Budi. “Ini pembelajaran yang menyenangkan. Gabungan antara keterampilan menyimak dan menulis,” kata Hanapiyah.

“Sekolahnya kami beruntung dikunjungi pendongeng Kang Budi. Program ini memperkaya catatan literasi kami yaitu menciptakan jejaring literasi, pembelajaran menjadi lebih menarik, dan kedua program lembaga sukses dilaksanakan,” ujarnya.

Dalam upaya membangun budaya baca dan menulis serta menghidupkan kembali tradisi mendongeng, Budi mengaku akan terus melakukan Dongeng Keliling Sekolah dan Taman Bacaan Masyarakat.

“Saya akan terus melakukan keling ke sekolah-sekolah dan taman bacaan masyarakat di Tangerang Raya. Ini gerakan mandiri yang dilatari rendahnya budaya baca di negeri ini,” ujarnya. (bud)

Komentar Anda

comments


Subscribe to our RSS Feed! Follow us on Facebook! Follow us on Twitter! Visit our LinkedIn Profile!