Pojok Blandongan Budi Sabarudin


Myanmar Menanam Kepedihan dari Rohingya

Diterbitkan  Senin, 18 / 09 / 2017 1:25 - Berita Ini Sudah :  1075 Dilihat

ILUSTRASI (NET)

Di jaman yang serba maju dan canggih seperti saat ini, saya heran masih ada saja kekerasan yang dilakukan manusia terhadap manusia lainnya. Salah satunya pada orang-orang Rohingya di Myanmar.

Tentu saja ada banyak alasan mengapa orang-orang Rohingya yang sesunggunya beragama Islam itu dibantai milter dan kaum Budhis.

Sekedar contoh, dan ini salah satu alasan dari sekian banyak alasan, menurut versi militer Myanmar, ada gerakan teroris di sana. Kalau benar, mengapa solusinya orang-orang Rohingya harus dibantai semuanya, harus dilenyapkan, harus digenosida?

Umat Budha juga, kalau kita melihat dari foto-foto dan bahkan videonya yang diviralkan, ternyata ikut juga dalam aksi kekerasan bersama militer terhadap orang-orang Rohingya.

Dari peristiwa pembantaian orang-orang Rohingya itu, saya melihat tak ada lagi wajah kemanusiaan di sana, tak ada lagi wajah agama di sana, dan yang ada adalah wajah orang-orang bodoh.

Orang-orang Rohingya, yang sesungguhnya kaum muslim itu, dari mulai bayi sampai orang dewasa diperlakukan seperti binatang agar mereka mati dan musnah dengan cepat dan massal.

Contohnya, orang-orang Rohingya yang tinggal di Rakhine itu diserang dengan cara ditembaki militer, rumah-rumahnya dan masjid-masjid dibakar habis, yang masih hidup disiksa dengan cara yang tak manusiawi.

Ada pula puluhan orang-orang Rohingya yang masih hidup diperlakukan seperti anjing. Mereka dimasukan ke dalam air (semacam kolam atau sungai) dan di atas kepalanya dipasang pagar bambu.

Dengan pagar penghalang itu, orang-orang Rohingya yang sesungguhnya kaum muslim itu, tak bisa mendongakkan kepalanya. Tubuhnya terendam air hingga leher dan mulut, yang terlihat hanya kepalanya.

Puluhan ribu orang-orang Rohingya mengungsi ke Bangladesh melewati hutan, kebun, sawah, sungai, dan laut. Dalam ketakutan mereka kelaparan, mati di perjalanan, dan banyak pula yang tenggelam di laut.

Sungguh di era digital saat ini, era yang sangat mengandalkan pada pikiran, saya menyaksikan kekejaman luar biasa, yang tak berperasaan. Tapi saya yakin akan ada bencana luar biasa di Myamnar.

Mengapa? Karena sesungguhnya hukum alam dan Tuhan itu ada. Orang-orang Myanmar akan menangis dan melolong. Mereka menahan sakit, menahan derita, dan menahan pedih yang berkepanjangan. (*)

Komentar Anda

comments


Subscribe to our RSS Feed! Follow us on Facebook! Follow us on Twitter! Visit our LinkedIn Profile!